
Setelah mobil yang membawa sang istri pergi, senyum Bara masih tersisa setelah melihat wajah Rara yang sangat konyol menurutnya. Beberapa saat kemudian, mobil yang selalu mengantar jemputnya berhenti di depannya. Bara hampir masuk ke dalam mobil, tetapi terhenti saat seseorang memanggilnya.
"Kak Bara..." ternyata Dena. Gadis dewasa dengan penampilan anggun itu, memperpanjang langkahnya. Memandang penuh cinta pada lelaki yang telah menjadi adik iparnya, Bara. Bara hanya bersikap dingin seperti biasanya pada Dena.
"Kak aku mau bicara."
"Katakanlah." perintahnya yang tidak ingin berlama-lama
Dena sedikit ragu ingin mengutarakan isi hatinya, tetapi emosinya dan kebencian yang menggebu-gebu dalam dirinya, tidak dapat membuatnya menahan diri.
"Kak, ada apa sebenarnya dengan Kakak?" tanya Dena.
"Apa maksudmu Dena, langsung intinya saja, waktuku tidak banyak." sanggah Bara dengan nada suara sedikit kesal.
"Maksudku sikap Kakak pada anak haram itu. Kenapa Kakak bersikap begitu baik padanya?" ucap Dena akhirnya.
Mendengar pertanyaan itu, Bara berdecak, "Kau ini membuang waktuku saja. Apakah aku tidak boleh bersikap baik istriku sendiri?" jawab Bara dengan sengit.
Lagi-lagi Dena harus merasakan getir di pagi hari ini. Dia sungguh tidak menyangka akan mendapat jawaban semenyakitkan ini dari pria yang dicintainya.
__ADS_1
"Tapi Kak, bukankah Kakak sangat membenci anak haram itu?"
"Tutup mulutmu Dena! Berhenti memanggilnya dengan sebutan itu!" sentak Bara yang sangat marah mendengar sebutan Dena terhadap sang istri.
"Kak..." Dena tidak percaya Bara akan membentaknya hanya demi gadis yang sangat dibencinya.
"Dengar ini baik-baik Dena. Jangan sampai aku mendengarmu memanggilnya dengan sebutan itu, atau kau akan menerima imbasnya. Sekali kau berkata seperti itu, sama saja kau menghinaku. Hari ini kau beruntung, tetapi lain kali aku tidak akan segan-segan lagi membuat pelajaran padamu, meski kau adikku!" ucap Bara dengan tajam. Setelah itu, Bara masuk ke dalam mobil tanpa lupa tatapan tajamnya.
Dan lagi, Dena tergugu ketika Kakak yang dulu selalu menyayanginya kini sudah mulai berkata tajam padanya. Sangat sakit, dia merasa kasih sayangnya telah direbut.
Air mata yang dia tahan sejak tadi, akhirnya luruh begitu saja. Maniknya memandang mobil Bara yang sudah meninggalkan dirinya.
***
Di sekolah, Rara melewatinya dengan damai. Kini Mic sudah kembali menghampirinya di setiap jam istirahat maupun jam kosong. Mic selalu berusaha mengorek informasi darinya dan selalu mengkhawatirkannya. Tetapi Rara yang memang tertutup dengan orang lain, lebih memilih bungkam.
Sepulang sekolah, Rara melihat mobil suaminya terparkir di depan sekolah.
"Kak Bara menjemputku?" lirihnya dari kejauhan. Setelah berpamitan pada Jessie, Rara mendekati mobil Bara.
__ADS_1
Sopir yang telah menunggu langsung membukakan pintu mobil untuknya.
"Kita akan ke kantor Tuan Bara Nona." ucap pria itu saat melihat kebingungan Rara.
Meski Rara tidak tau tujuan Bara membawanya ke kantor, dia tetap menurut dan tanpa banyak tanya.
Sampai di lobi perusahaan, Rara kebingungan sendiri. Sebab, ini adalah kali pertamanya menginjakkan kaki di perusahaan keluarga milik Ayahnya.
Rara sangat kagum, ternyata perusahaan ternama yang sering didengarnya dari televisi, memiliki gedung yang sangat besar dan tinggi.
Beberapa saat kemudian, orang kepercayaan Bara, yang sudah menunggunya sedari tadi, menuntun Rara menuju ruangan Bara.
Di sepanjang menuju ruangan sang suami yang berada di lantai paling atas gedung raksasa ini, Rara bertanya-tanya dalam hati, ada apa gerangan yang membuat Bara tiba-tiba membawanya ke tempat ini.
Setelah lima menit berada di dalam lift khusus, bersama tangan kanan Bara, akhirnya mereka sampai.
"Silahkan masuk Nona." ucap lelaki yang setaunya bernama Charles.
Rara mengangguk dan melangkahkan kaki pada pintu yang terbuka. Tetapi, bertepatan dengan itu, seorang wanita juga keluar dari ruangan itu
__ADS_1
Rara diam di tempat, melihat gadis cantik dengan pakaian modis dan beberapa aksesoris mahal lain di tubuhnya. Tatapan gadis itu begitu angkuh dan pongah. Rara bisa menebak umur gadis itu tidak beda jauh darinya. Terbukti dari wajahnya yang mungil dan menggemaskan menurut Rara, hanya saja tertutupi oleh tatapan tajamnya.