Gadis Lugu Milik Bara

Gadis Lugu Milik Bara
Jangan Tinggalkan Aku


__ADS_3

Ucapan Bara bagaikan hembusan angin yang tiba-tiba membuat otaknya berhenti berpikir. Gerakan tangannya terhenti, sementara tubuhnya mematung. Akal sehatnya berusaha menerima perkataan Bara.


"Rara..." panggil Bara, yang menyadarkannya dari keterpakuannya.


"Aku...aku tidak mengerti maksud Kakak..." ucapnya lemah.


Bara menarik nafasnya, tanpa memutus tautan pandangannya pada manik sang istri.


"Aku menginginkan anak darimu Rara." ucapnya, kali ini dengan suara tegas.


Lagi-lagi Rara harus menelan bulat-bulat rasa terkejutnya akan ucapan Bara. Anak? Yang benar saja. Kata itu begitu jauh dari bayangannya.


Tapi Bara menginginkannya darinya. Apa yang harus Rara lakukan sementara keraguan masih tersimpan rapat dalam hatinya. Walau hatinya sudah jatuh pada Bara, tetap saja Rara tidak boleh lengah dan malah menjatuhkan dirinya pada pria itu.


Hanya gelengan kepala yang dapat Rara lakukan untuk menjawab pertanyaan pria itu. Dan itu membuat Bara terlihat kecewa.


"Kenapa?" Bara semakin mempererat genggamannya di wajah mungil itu.

__ADS_1


Beberapa saat Rara diam, hingga akhirnya dia menjawabnya.


"Maafkan aku Kak. Bukannya aku tidak mau... tapi aku belum siap Kak untuk permintaan Kakak itu. Aku masih sekolah Kak..."


Bara memotong ucapannya, Bara tau alasan yang akan Rara berikan "Aku tau... Aku...."


"Tidak Kak. Alasanku yang sesungguhnya adalah aku belum percaya sepenuhnya pada Kakak...." ucap Rara cepat membuat Bara mematung.


"Maafkan aku Kak." menundukkan kepalanya. "Jujur saja, rasa takutku pada Kakak masih begitu besar. Meski Kakak sudah tidak seperti dulu lagi, tetap saja masih ada keraguan dalam diriku..." berusaha untuk jujur pada Bara, agar pria itu mengerti dirinya.


Rara menggeleng pelan, "Entahlah. Yang pasti aku masih..."


Kalimat Rara terhenti akibat serangan tiba-tiba di bibirnya. Bibir ranumnya tenggelam dalam cecapan hangat Bara yang selalu memabukkannya


"Mph... Kak..." Bara tidak membiarkannya melepaskan lum*tannya. Bara semakin memperdalam ciumannya dengan penuh perasaan. Tangan kokoh nan penuh urat mengusap punggung mungil Rara yang perlahan lemah dalam dekapannya.


Wanita mana yang bisa menolak sentuhan dari pria perkasa itu. Rara yang berusaha menolak dan memberontak, akhirnya tenggelam dalam kenikmatan ciuman panas itu.

__ADS_1


Beberapa menit ciuman itu berlangsung, Bara akhirnya melepaskannya. Rara meraup-raup oksigen sebanyak-banyaknya. Sedangkan maniknya berkaca-kaca menatap sendu pada pria yang baru saja membuatnya melayang tinggi.


"Maaf...." lirih Bara seraya mengusap bibir ranum yang basah dan bengkak akibat perbuatannya.


"Aku tidak akan memaksamu sampai kau siap dan...." mendaratkan kecupan di setiap sudut wajah gadis itu.


Rara memejamkan matanya ketika bibir lembut Bara berlabuh di kedua matanya. Jantungnya yang bertalu-talu seolah mengumandangkan betapa gugup dirinya saat itu. Bahkan ketika Bara mengecup ujung hidung mungilnya, nafasnya seolah terhenti, tercekat oleh debaran yang pertama kali dirasakannya pada pria ini.


"Aku akan menghilangkan segala keraguan dalam hatimu." senyum manisnya mengembang dalam pahatan wajah bak dewa yunani itu.


Rara pun tidak dapat menahan senyumannya, semua perkataan Bara malam ini sudah cukup untuk menenangkan hatinya.


Bara menarik Rara ke dalam dekapannya. Melabuhkan kecupan bertubi-tubi di pucuk kepalanya, "Aku menyayangimu Rara...."


Dekapannya erat, seolah takut gadis dalam pelukannya ini menghilang. Bara dapat merasakan jelas tubuh Rara tiba-tiba menegang setelah ucapannya.


"Jangan pernah meninggalkan aku apapun yang terjadi...."

__ADS_1


__ADS_2