
Malam semakin larut, tetapi kedua insan yang masih dilanda kebingungan dalam hatinya, masih setia dengan obrolan hangat mereka. Rara tidur dalam pelukan Bara seperti biasanya setiap malamnya.
"Kau belum mengantuk?" tanya Bara yang ternyata sudah mulai diserang kantuk.
Rara menggeleng, "Belum Kak. Ada yang ingin aku tanyakan pada Kakak." mendongakkan kepalanya, agar bisa melihat wajah Bara.
"Tanyakan saja."
"Itu, saat ulang tahunku kemarin, Kak Bara tidak memberiku kado ulang tahun." tanya gadis itu dengan ragu.
"Kado?" Bara mengernyitkan keningnya. Rara mengangguk.
"Bukankah kau sudah mendapat banyak kado dari relasi yang datang malam itu? Apa masih belum cukup?"
Bara bingung, untuk apa Rara menagih kado darinya. Sebab, begitu Bara memperkenalkannya dalam pesta itu, keesokan harinya, berbagai kiriman kado ulang tahun untuk Rara, silih berganti mendatangi rumah itu. Dan isi dari semua kado itu, bukan main harganya, karena status Rara di sini adalah istri dari Bara, pemilik perusahaan raksasa di negeri itu.
"Bukan begitu Kak." Rara langsung menggeleng, "Aku... aku...."
"Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya hanya ingin bertanya saja." jawabnya cepat.
"Sudah malam Kak. Aku sudah mengantuk. Selamat malam." menelusupkan kepalanya dalam pelukan Bara.
Rara memejamkan matanya, karena dia tidak tau harus menjawab apa. Jujur saja, Rara sangat menunggu hari dimana Bara memberikan kado ulang tahunnya sejak saat itu. Tetapi sudah beberapa waktu berlalu, dirinya belum juga mendapat kado dari pria itu.
Bara tidak mau bertanya lebih lagi, dan memilih mengusap punggung gadis itu lembut. Tatapannya begitu sendu, bercampur rasa iba yang begitu mendalam pada gadis itu.
"Kau sudah mendapatkan kadomu sayang." bisik Bara pada gadis yang sudah tenggelam dalam tidurnya.
***
Sore itu, Rara sedang berkebun di taman tempatnya biasa menghabiskan waktu bersama beberapa pelayan. Hampir setiap hari, Rara selalu berada di sini. Apalagi ketika pelayan memperbolehkannya untuk mengolah beberapa meter lahan.
Dengan senang hati Rara menerimanya, dia menanam banyak bunga di sana. Dirinya yang merupakan penyuka bunga, membuatnya lebih mudah menghabiskan waktu yang berguna. Tidak hanya itu saja, Rara juga menanam beberapa jenis sayuran yang mudah dirawat di rumah.
Di saat Rara sedang sibuk dengan tanamannya, tanpa sengaja dia melihat Safira sedang bicara pada pelayan di dekatnya. Sayup-sayup gadis itu mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1
Rara tidak terlalu mendengar mereka dengan jelas, tetapi beberapa saat kemudian, Safira dan pelayan itu mendekatinya.
"Kak Safira." sapanya dengan tangan masih memegang spray khusus tanaman. Tetapi Safira hanya berekspresi datar membalas sapaannya.
"Nona Rara, Nona Safira sedang mencari bunga Gazania untuk kamarnya. Tetapi di taman ini, hanya bunga milik Nona yang sudah mekar. Bolehkah Nona memberikan beberapa tangkai saja untuk Nona Dena?" tanya pelayan itu.
Rara sejenak diam, dan melihat hamparan bunga Gazania yang dirawat oleh pelayan yang masih belum mekar, sedangkan bunga yang dia rawat sudah mekar dengan begitu indahnya.
Rara melihat Safira, dia baru tau jika kakak tirinya ini juga menyukai bunga. Dan mengenai permintaannya, bagaimana mungkin Rara menolak. Bahkan jika harus memberikan semua bunga ini padanya, Rara rela, asalkan kakaknya itu senang.
"Tentu saja. Ambil saja sebanyak yang kau mau." ucapnya dengan senang hati.
Pelayan itu mengangguk, kemudian mengambil peralatannya untuk memetik bunga indah itu.
Sembari pelayan memetik bunga, kedua Kakak beradik itu berdiri dengan canggung.
"Kakak menyukai bunga?" tanya Rara, yang sedari tadi mengumpulkan keberaniannya untuk menyapa Safira.
Safira cukup terkejut mendengarnya, tetapi dia hanya mengangguk samar dengan wajah datar, sedangkan pandangannya mengarah pada pelayan yang sedang memetik bunga.
"Aku juga. Di sini aku menanam banyak bunga, kalau Kakak mau, aku akan menunjukkannya pada Kakak, kebetulan mereka sedang bermekaran." ucapnya dengan sedikit takut.
"Iya Kak." mengangguk cepat. "Kakak ingin melihatnya?" penuh harap.
Cukup lama Safira mempertimbangkan, tetapi akhirnya dia mengangguk dengan senyuman tipis yang tidak disadari oleh Rara.
"Kalau begitu ayo." karena begitu bersemangat secara refleks menarik tangan Safira. "Maaf Kak." ucapnya dengan cepat melepas tangan Safira.
"Hmm." jawabnya dingin. "Cepat tunjukkan padaku bunga-bunga itu!" perintahnya sedikit ketus.
Seketika senyum Rara kembali cerah, "Iya Kak." dengan penuh semangat menuntun Safira menuju hamparan bunga yang sedang bermekaran dengan begitu cantik.
Safira tidak bisa menyembunyikan kekagumannya melihat pemandangan ini. Dirinya yang merupakan penyuka bunga pasti akan berjingkrak senang melihatnya. Sudah lama Safira menginginkan kebun bunga yang dikerjakan dengan tangannya sendiri. Tetapi semua hanya tinggal angan, sebab dirinya begitu sibuk dengan pekerjaannya.
Apalagi Davina tidak memperbolehkannya untuk bersentuhan dengan kegiatan yang menurutnya kotor ini.
Rara juga melihat wajah senang sang kakak, dan dia juga turut senang dengan itu.
__ADS_1
"Kakak menyukainya?"
Tanpa Rara sangka, Safira tersenyum padanya. "Iya. Aku menyukainya."
"Kalau Kakak mau, Kakak boleh memetiknya."
"Tidak usah. Bunga Gazania milikmu sudah cukup untuk kamarku." tolaknya.
"Kau yang menanam semua ini?"
"Iya Kak." jawabnya, ada sedikit kebanggaan dalam hatinya saat mengatakan hal itu.
"Nona, bunganya sudah siap." pelayan tadi datang membawa rangkaian bunga Gazania di dalam sebuah wadah kaca berisi air sebagai pertahanan hidupnya.
Sangat indah, sama seperti pemiliknya.
Dan Safira lagi-lagi menampilkan senyumnya. Dia hendak mengambil bunga itu, tetapi pelayan menolak.
"Biarkan saya yang membawanya Nona."
"Tidak usah. Biarkan aku yang membawanya." mengambil bunga itu dari pelayan.
"Terima kasih Rara." ucapnya dengan tulus pada sang pemilik.
Dan hal itu sanggup membuat Rara tertegun. Rasanya seperti mimpi, Safira bicara selembut dan setulus itu padanya.
"Lain kali, ajak aku berkebun." ucapnya lagi sebelum akhirnya membawa bunga kesukaannya ke dalam rumah.
Safira berjalan menuju kamarnya sambil tersenyum memandangi bunga indah itu.
"Sepertinya kau senang sekali." seseorang tiba-tiba menghentikannya.
"Kak Dena?"
Prang...
Tanpa Safira sangka, Dena merebut bunga itu, lalu melemparnya ke lantai dengan kasar. Bunga indah itu seketika hancur serta pecahan kaca bertebaran dimana-mana.
__ADS_1
"Beraninya kau bicara dengan anak haram itu!" geram Dena dengan sengit.