Gadis Lugu Milik Bara

Gadis Lugu Milik Bara
Menghindar


__ADS_3

Hari menjelang malam, Rara masih setia duduk di meja belajarnya. Tugasnya yang sangat banyak telah menyita waktunya, apalagi dalam waktu dekat ini, dia akan melaksanakan ujian kelulusan, membuatnya enggan membuang waktu dengan percuma.


Sepanjang hari ini, ucapan Dena tersingkirkan dari pikirannya. Tetapi, ketika dia sadar waktu telah berlalu begitu lama, satu per satu pergolakan itu menghantui pikirannya.


Rara melihat jam yang telah menunjukkan pukul delapan. Memperhatikan kamar yang masih sepi, menandakan bahwa sang suami belum juga pulang.


"Sedang apa Kak Bara sekarang?" gadis itu bertanya-tanya.


Hatinya begitu gundah memikirkan perkataan Dena tadi sore. Sebaik apapun Dena bersandiwara, tetap saja dirinya tidak akan mempercayainya. Dia tidak sebodoh itu, tergiur akan tawaran itu.


Tetapi, walau demikian, tetap saja pemikiran buruk menghantuinya. Apalagi dirinya telah melihat berbagai kejanggalan dalam diri suaminya. Rasanya terlalu cepat jika Bara memang benar-benar menyayanginya.


Sekali lagi, untuk yang kesekian kalinya, Rara melihat foto yang dikirimkan oleh saudari tirinya. Memperhatikan betapa tulus dan bahagia senyum Bara dalam foto itu. Selama mengenalnya, baru kali ini Rara melihat Bara dengan ekspresi itu. Nampaknya pria itu benar-benar menikmati pertemuan itu.


Rara memperbesar gambar wanita yang bergandengan mesra dengan Bara. Setelah dilihat-lihat, Rara teringat gadis yang pernah datang ke kantor Bara beberapa waktu lalu.


Ya, wanita dalam foto itu adalah gadis cantik yang terlihat masih muda itu. Rara mengingat wajah itu dengan jelas.


Melihat semua bukti yang ada, Rara teringat akan pengakuan Bara tentang gadis kecil yang pernah menjadi cinta pertamanya.


"Suatu saat nanti, aku akan menjadikannya milikku."


Rara menghela nafas berat, semua ini begitu sulit. Terlalu rumit jalan hidup yang dia jalani.


Sekian lama gadis itu berpikir, tetapi belum juga menemukan titik terang yang akan dia lakukan selanjutnya. Hingga akhirnya, kantuknya menyerang, Rara tertidur di sana.

__ADS_1


***


Keesokan paginya, Rara menggeliatkan tubuhnya yang terasa berat seperti tertimpa beban. Matanya dipaksa terbuka, dan sosok berwajah rupawan menyambut penglihatannya. Sejenak Rara memandangi pria itu, kemudian melepaskan dekapan pria itu, lalu beranjak dari atas ranjang.


Tidak biasanya Bara masih tidur jam segini. Nampaknya Bara benar-benar menikmati pertemuan itu, sampai terlambat bangun pagi ini.


Rara segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dalam waktu singkat Rara telah selesai. Saat menuju ruang ganti, Bara masih lelap dalam tidurnya. Sembari bersiap-siap, Rara juga menyiapkan segala keperluan sang suami.


Setelah semuanya sudah lengkap, Rara keluar dari kamar. Sebelum benar-benar keluar, dengan ragu-ragu, gadis itu mengecup kening Bara yang masih tertidur.


"Aku berangkat Kak." pamitnya, meski tau Bara tidak mendengarnya.


Tapi ternyata Rara salah, tanpa disadarinya, Bara telah bangun dari tidurnya. Bara menatap pintu kamar yang baru tertutup. Bara merasakan keanehan akan sikap Rara pagi ini. Sebenarnya Bara ingin mengejarnya, tetapi melihat hari sudah sangat siang, menggagalkan aksinya.


Rara turun dari mobil dengan langkah tergesa-gesa. Pagi ini dia telah berhasil menghindari Bara dengan berangkat sekolah lebih cepat dari biasanya.


Bukan karena termakan oleh ucapan Dena, Rara melakukan ini. Melainkan, karena pikirannya telah terbuka. Tidak mungkin seseorang yang begitu membencinya dengan sangat, tiba-tiba dalam sekejap mata berubah menjadi manis.


Sangat tidak mungkin.


Rara hanya ingin menyelamatkan hatinya saja, yang terlanjur jatuh dalam pesona pria itu. Agar hatinya tidak jatuh terlalu dalam, Rara akan berusaha semampunya untuk menghindar dan mempersingkat pertemuan mereka.


Dengan begitu, hatinya akan tetap terbentengi dan tak akan roboh oleh semua sikap manis pria itu. Dan suatu saat nanti, jika benar Bara memang akan memilih wanita lain, hatinya tidak akan merasakan sakit tak terperi.


Selain karena ingin menghindari Bara, Rara juga tergesa-gesa, karena tugas sekolahnya yang dia kerjakan seharian penuh, belum selesai. Kemarin malam dirinya malah tertidur, meninggalkan beberapa soal lagi.

__ADS_1


"Selamat pagi Jessie." sapanya pada teman baiknya itu.


"Pagi." balas Jessie ramah.


"Boleh pinjamkan aku bukumu? Tugasku belum selesai." pinta Rara.


Kening Jessie berkerut heran, pasalnya batu kali ini seorang Rara belum mengerjakan tugasnya.


"You kidding me? Bagaimana bisa siswi teladan sepertimu belum mengerjakan tugas?" heran Jessie.


"Aku akan menjelaskannya nanti, tolong berikan bukumu."


Meski masih heran, Jessie tetap memberikan bukunya.


Rara membuka bukunya. Beberapa kali dia membolak-balik lembaran buku, tetapi tidak menemukan catatan terakhirnya.


"Ada apa?" tanya Jessie akhirnya.


"Aku bingung?" menunjukkan bukunya oada Jessie.


Jessie membaca sejenak, "Kau sudah selesai Rara. Lalu kenapa mengatakan belum selesai?" ucap Jessie.


"Benarkah?"


"Lihat saja sendiri."

__ADS_1


Rara menurut, dan benar saja, tugasnya sudah selesai dikerjakan. Tapi siapa yang melakukannya? Karena Rara ingat dengan jelas, ada banyak soal-soal yang masih belum selesai dikerjakan.


Siapa yang melakukannya?


__ADS_2