
Manik gadis itu bertautan dengan manik sendu milik Rara, tetapi tidak berlangsung lama, sebab gadis itu langsung berlalu tanpa menyapa dirinya.
"Nona?" Charles menyadarkannya.
Rara mengangguk dan melanjutkan langkahnya memasuki ruangan. Begitu masuk, Bara yang sedang membuka jas hitamnya menyambutnya.
"Kakak." panggil Rara.
"Kau sudah datang?" secercah senyuman terbit di wajah pria itu. "Kemari." sambil berjalan menuju sofa.
Rara mengangguk dan dengan senyum ceria menghampiri sang suami.
"Wah banyak sekali makanan." maniknya semakin berbinar melihat banyak makanan di atas meja kaca itu.
"Duduk di sini. Kita akan makan siang." Bara menepuk sisi di sampingnya.
"Jadi Kakak memanggilku untuk makan siang?" tanya Rara senang.
"Hmm. Aku bosan akhir-akhir ini selalu makan siang sendiri." jawab Bara sambil mengambil beberapa menu makan siang yang sepertinya dipesan dari restoran terbaik di dekat sini.
Rara hendak mengambil bagiannya juga, tetapi Bara menghentikan.
"Tidak usah. Kita makan dari sini saja."
"Maksud Kakak?"
"Buka mulutmu!"
Dengan ragu Rara membuka mulutnya, dan Bara langsung memasukkan suapan pertamanya pada gadis itu.
"Kita makan sepiring berdua?" Rara berucap dengan mulut penuh makanan.
"Jangan bicara sambil makan." tegur pria itu, kemudian memasukkan suapan kedua ke dalam mulutnya sendiri.
Rara cukup terkejut akan tindakan Bara yang satu ini. Tetapi tidak mau terlalu memikirkannya, sebab perutnya sudah terasa lapar.
__ADS_1
Setelah menelan makanannya, Bara kembali menyuapinya, selanjutnya dirinya sendiri. Dan begitulah sampai makan siang yang begitu banyak itu tandas tak bersisa.
***
"Iya di situ agak sakit."
"Tolong tekan dengan kuat saja, pijatanmu tidak terasa."
"Tapi Kak, ini sudah di ambang batas kekuatanku." ucap Rara yang tengah susah payah memijat bahu Bara di sofa.
"Tapi aku tidak merasakan apa-apa. Kau ini seperti sedang mengelus anak kucing saja." decak pria itu.
"Kakak... jangan salahkan aku. Aku sudah memijatmu sekuat tenagaku, memang dasar badanmu yang sangat keras seperti batu." kesal Rara.
"Ahk sudahlah. Kemari, akan aku tunjukkan bagaimana caranya memijat." Bara langsung menarik Rara ke atas pangkuannya, lalu menekan lengan kecil Rara dengan tangan kekar berototnya.
"Aaaa... sakit." Rara memekik. "Sakit."
Bara terkekeh, lalu melepaskan cengkraman tangannya. "Seperti namanya memijat."
"Itu bukan memijat namanya. Kakak hampir meremukkan tulangku." dengus Rara sambil memegangi lengannya.
"Kakak sangat menyebalkan! Lihat saja...."
"Sudah cukup. Aku mengantuk, biarkan aku tidur sebentar." Bara menyandarkan tubuhnya, tetapi tetap mengapit Rara erat di antara kakinya.
"Kak, lepas." bukannya menurut, Bara malah menarik Rara bersandar di atas tubuhnya.
"Temani aku tidur sebentar." bisik Bara.
"Tapi Kak, aku..."
"Diamlah. Atau aku akan menidurimu."
Mau tidak mau Rara mengikuti kemauan Bara.
__ADS_1
"Ehmm Kak... apakah Kakak pernah punya kekasih?" tanya Rara tiba-tiba.
"Kenapa menanyakan hal itu?" kata Bara yang masih memejamkan matanya.
"Tidak ada. Hanya penasaran saja siapa gadis bodoh yang mau pada Kakak."
"Maksudmu apa?"
Rara terkekeh, "Tidak. Tidak apa-apa. Siapa Kak wanita itu?"
"Baiklah kalau kau memaksa." Bara membuka matanya, "Umur gadis itu sangat beda jauh dariku, aku bertemu dengannya pertama kali saat dia masih lima tahun, dan aku dua belas tahun."
"Apakah Kakak seorang pedofil, menyukai anak balita?"
"Ck. Kau..."
Rara terkekeh lagi, "Tidak tidak. Lanjutkan ceritanya Kak."
"Kami sering bertemu dulu, dan dia tumbuh menjadi gadis yang cantik."
"Lalu Kakak menjadikannya kekasih?"
"Sebaiknya kau saja yang bercerita." kesal Bara karena Rara selalu memotongnya. Sedangkan Rara hanya tersenyum lebar.
"Tidak lagi Kak. Lanjutkan saja."
Meski masih kesal, Bara akhirnya melanjutkan ceritanya. "Aku tidak menjadikannya kekasih. Aku membiarkannya bebas melakukan apa yang dia suka. Tapi aku berjanji akan menjadikannya milikku seutuhnya." ucap pria itu.
Rara diam termenung. Mendengar cerita Bara, berarti pernikahan ini akan berakhir cepat atau lambat.
"Tapi Kakak sudah..."
"Aku tau. Kau tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu."
Bukan itu maksud Rara. Jika suatu saat nanti Bara meninggalkannya, dia tidak apa-apa. Malah dia akan senang hati menerima perpisahan ini, karena gadis itu tidak menyimpan perasaan apa-apa terhadap suaminya.
__ADS_1
Namun, tanpa dia sadari, dalam hatinya yang terdalam, ada ketidakrelaan saat membayangkan dirinya terpisah dari Bara. Namun Rara menampik hal tersebut.
Mengingat cerita Bara, Rara teringat gadis yang dia temui baru saja. Gadis yang keluar dari ruangan Bara, yang menatapnya dengan angkuh. Apakah mungkin?