
Kabut gairah yang menguasai tubuh pria itu seketika lenyap begitu pertanyaan Rara terdengar. Maniknya membalas tatapan sendu itu dengan menelisik. Ada apa gerangan gadis ini mempertanyakan hal itu? Belum pernah Rara ikut campur dalam urusannya sebelumnya, atau dengan siapa dirinya bertemu.
"Memangnya kenapa?" tanya Bara.
Rara melepas tangannya dari lengan kekar itu, kemudian menunduk.
"Bu..bukan apa-apa Kak. Aku hanya ingin tau saja." gadis itu menjadi ketakutan.
Apalagi melihat Bara menatapnya dengan tidak biasa, membuatnya berpikir bahwa Bara marah terhadapnya. Namun sedetik kemudian usapan lembut terasa di pucuk kepalanya. Rara menegakkan kepalanya, melihat Bara yang tersenyum hangat.
"Hari itu sebenarnya aku ingin membawamu menemui mereka. Tetapi sepertinya kau memiliki tugas yang harus kau selesaikan bukan? Jadi aku mengurungkan untuk membawamu bersamaku." jelas Bara.
"Kakak akan membawaku bersama Kakak hari itu?" Rara terkejut bukan main. Bukankah Bara bertemu keluarga kekasihnya hari itu? Lalu Bara juga membawanya menemui mereka? Sebenarnya apa yang terjadi?
"Hmm... mereka terus menanyakan dirimu."
"Aku? Ke..kenapa mereka..."
"Lebih baik kau bertemu mereka langsung. Malam ini aku membuat janji temu dengan mereka. Apakah kau bersedia ikut?" potong Bara.
"Malam ini?"
"Ya. Tapi jika kau tidak bersedia juga tidak apa-apa...."
"Aku bersedia Kak." jawab Rara cepat.
Bara tersenyum, "Baiklah, bersiaplah untuk nanti malam. Siapkan dirimu secantik mungkin." ujar Bara sebelum akhirnya berjalan menuju kamar mandi.
Sedangkan Rara masih melamun di atas ranjang. Jika benar orang-orang dalam foto itu adalah keluarga kekasih Bara, lalu kenapa Bara malah ingin membawanya bertemu mereka? Sebenarnya siapa orang-orang itu?
***
__ADS_1
Malam tiba, Bara dan Rara sudah rapi dengan pakaian semi formal. Rara mengenakan sebuah gaun malam yang tidak terlalu terbuka, serasi dengan Bara yang berpakaian non formal malam itu.
Sebelum berangkat, Bara mematut sang istri yang selalu terlihat menawan di matanya. Tatapan matanya tanpa disadari membuat Rara salah tingkah. Rara tersenyum malu-malu, rasanya ingin cepat-cepat berlalu dari hadapan Bara.
"Cantik." lirih pria itu dan terdengar oleh Rara.
"Ayo." ajak Bara kemudian menggandeng Rara keluar dari kamar.
"Sebenarnya kita akan bertemu siapa Kak?" tanya Rara ketika mereka berada di dalam mobil. Seperti biasa supir keluarga yang akan mengemudi.
"Nanti kau juga akan tau. Tetapi satu hal yang harus kau ketahui, mereka adalah bagian terpenting dalam hidupku." jawab Bara.
Rara diam, bingung menjawab apa. Ternyata sang suami memiliki orang-orang penting di hidupnya selain keluarganya? Rasa penasarannya semakin membesar saja.
"Jangan terlalu banyak berpikir. Mereka juga akan menjadi bagian terpenting dalam hidupmu." ujar Bara sambil merangkulnya.
"A..aku? Tapi ke..."
"Sst... jangan banyak bertanya, atau aku akan menciummu di sini." ancam Bara.
Tidak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi berhenti di pekarangan sebuah rumah besar nan mewah, tidak berbeda jauh dengan rumah keluarga Pramana.
"Kak..." Rara hendak bertanya.
"Bertanyalah, maka jangan salahkan aku jika aku menciummu di sini." ujar Bara.
Rara melihat sekitarnya yang dikelilingi oleh beberapa orang berpakaian serba hitam yang Rara yakini adalah pengawal di rumah tersebut.
Bara tersenyum geli, dengan sengaja mencuri kecupan di pipi Rara.
"Ayo." membawa Rara memasuki rumah mewah itu.
__ADS_1
Begitu memasuki rumah, seorang pelayan sudah menyambut dan mengarahkan menuju ruang makan.
Rara masih memeluk lengan Bara dengan jantung berdetak lebih cepat. Gadis itu takut sesuatu yang buruk terjadi padanya di rumah ini. Seperti itulah Rara. Gadis ini sangat ketakutan jika bertemu orang-orang baru.
Setelah berjalan melewati beberapa ruangan, akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan yang cukup besar. Bukan ruangan itu yang menjadi fokus Rara, tetapi sekumpulan orang-orang yang tengah duduk dengan rapi mengelilingi meja makan.
Jantung Rara semakin berdetak cepat, pun pelukannya semakin erat di lengan Bara. Orang-orang itu menatap dirinya dengan tajam.
"Selamat malam semuanya." sapa Bara pada orang-orang itu.
"Selamat malam sayang." seorang wanita paruh baya berpenampilan glamor tiba-tiba berdiri mendekati Bara. Wanita itu memberikan kecupan di kedua pipi Bara kemudian menarik Bara dalam pelukannya, membuat pelukan Rara langsung terlepas dari lengan kekar itu.
"Bagaimana kabarmu Nak? Satu minggu ini kau belum menyapa Mommy." cecar wanita itu.
"Kakak..." bukan Rara, melainkan seorang gadis cantik tiba-tiba menerjang Bara.
"Kenapa tidak mengangkat teleponku? Kakak tidak menyayangiku lagi?" gadis itu mengerucutkan bibirnya dan menggelayut manja dalam pelukan Bara.
"Kau ini..." Bara juga memperlakukannya dengan begitu lembut.
"Maafkan aku Mommy. Satu minggu ini pekerjaanku sangat banyak." jelas Bara.
"Tidak apa-apa Nak. Yang penting kau bisa menjaga kesehatanmu dan jangan terlalu sibuk bekerja. Mari, Mommy sudah menyiapkan makanan kesukaanmu." ucap wanita itu, entah sengaja atau tidak, mereka mengabaikan keberadaan Rara di sana.
"Tunggu Mommy..." Bara menarik gadis yang sedari tadi bersembunyi di belakangnya, memeluk pinggangnya erat.
Rara menundukkan kepalanya karena mendapat tatapan sengit dari kedua wanita yang mungkin saja adalah ibu dan anak.
"Mommy, Cathy, dan semuanya. Perkenalkan, wanita ini adalah istriku." ucap Bara dengan lantang.
"Istrimu?" wanita yang Bara panggil Mommy menaikkan alisnya, disertai tatapan sinis terhadap Rara. Tidak luput, semua orang di ruangan itu memperhatikan Rara dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan tidak biasa.
__ADS_1
TBC ☘️☘️☘️
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTENYA YAA