
Setelah berbicara dengan dokter psikiater terbaik di rumah sakit itu, Mic duduk di sebelah Rara yang masih berada di bawah pengaruh obat penenang. Karena setelah Rara sadar, dokter itu akan memeriksa Rara.
Manik tajamnya menatap nanar kulit dada yang melepuh dan kini sudah bernanah. Rahangnya mengeras, pun dengan kepalan tangannya yang panas untuk menghancurkan orang yang telah menyakiti gadis itu.
Mic harus berbuat sesuatu. Dia harus melindungi Rara. Mic akhirnya pergi dari ruangan itu untuk menemui anak buah ayahnya, untuk mencari tau latar belakang Rara. Dengan mengetahui hal itu, Mic bisa melindungi Rara.
Selang dua jam kemudian, sepertinya efek obat penenang itu sudah hilang. Rara mengerjapkan matanya, dan sadar begitu melihat langit-langit kamar rumah sakit.
Dengan susah payah, gadis itu bangkit dari tempat tidur. Kemudian melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga sore. Selama itukah dirinya tidak sadarkan diri?
Dia harus segera pulang, karena jam pulang sekolah sudah hampir berakhir. Menahan rasa sakitnya, Rara mencabut paksa selang infus di pergelangan tangannya, kemudian turun dari atas ranjang.
Rara tersadar, tubuh bagian atasnya hanya berbalut kaos tanpa lengan, tidak mungkin dirinya keluar dengan tampilan seperti ini. Kebetulan sekali, sebuah jaket yang Rara yakini milik Mic tersampir di kursi dekat brankar. Rara mengambilnya dan memakai jaket berwarna hitam itu. Rara meringis ketika jaket itu bergesekan dengan luka di dadanya.
Setelah mengambil tasnya, Rara keluar dari ruangan itu dan segera pulang ke rumah keluarga Pramana.
***
Malam tiba, Rara sudah berbaring di tempat tidur hanya dengan menggunakan bathrobe, Rara sengaja agar kain itu tidak mengenai dadanya.
__ADS_1
Sebenarnya masih terlalu cepat untuknya tidur, tetapi kepalanya sangat pusing dan berat. Terlebih lagi dadanya yang terasa panas meski sudah mengoleskan obat untuk luka bakar di sana. Gadis itu benar-benar menderita malam ini.
Terdengar suara pintu terbuka, Rara buru-buru menarik selimut untuk menutupi dadanya, kemudian memejamkan matanya. Seseorang masuk ke dalam kamarnya, dan Rara yakin orang itu adalah suaminya.
Suara derap langkah kaki orang itu semakin mendekatinya. Rara semakin memejamkan matanya erat. Tubuhnya menegang kala merasakan sentuhan telapak tangan yang terasa dingin di keningnya.
Nafas gadis itu seolah terhenti, apalagi merasakan tangan itu hendak menarik selimut yang menutupi tubuhnya. Rara langsung memegang erat ujung selimut, mencoba menahan orang itu.
Rara membuka matanya, dan langsung bersitatap dengan Bara yang menatapnya dengan tatapan sendu.
"Kak..." lirih Rara.
Tanpa Rara sadari, tangan Bara sudah menyingkap selimut tebal itu, dan kini luka itu terpampang jelas di mata pria itu.
Tatapan Bara seketika menajam dipenuhi bara api.
Seolah tidak cukup, pria itu kembali menarik bathrobe itu lebih lebar. Seluruh bagian dada atas gadis itu melepuh, tidak sampai di situ, bahkan lukanya menjalar hingga belahan dada.
Setelah memandangi luka itu, Bara beralih pada wajah yang kini sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Siapa yang melakukan ini?!" suara pria itu menajam.
"Kak..." Rara menggigit bibirnya yang gemetaran, gadis itu begitu ketakutan melihat wajah sangar itu. Berusaha menarik bathrobe untuk menutupi tubuhnya yang sudah setengah telanjang, tapi ditahan oleh Bara.
"Siapa yang melakukannya Rara!"
Rara menggeleng cepat. "Panas Kak..." lirihnya saat rasa panas seperti terbakar kembali menggerogoti dadanya.
Bara seketika tersadar, menatap nanar dada gadis itu. Pria itu segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Setelah selesai, Bara melihat Rara yang kesakitan.
"Apa yang harus kulakukan?"
Pria itu tidak menahan diri lagi pada gadis ini. Sifat dingin dan arogannya seolah menghilang begitu saja ketika melihat Rara menderita.
"Panas Kak..."
Bara tidak bisa lagi berpikir jernih. Dia tidak sanggup melihat Rara seperti ini.
__ADS_1
Menghilangkan segala sifat pongah dan congkak Bara menundukkan kepalanya di dekat dada Rara. Pria itu meniup-niup luka itu, meski tidak yakin akan berdampak bagi Rara.