
Dena berjalan mengendap-endap di koridor sekitar kamar Bara dan Rara. Wajah gadis itu sedari tadi merenggut kesal, sebab Bara belum juga keluar dari kamarnya. Tidak biasanya Bara seperti ini, pria itu harusnya sudah turun dan bergabung bersama mereka di ruang makan.
Tetapi ketika melihat pelayan mengantarkan nampan ke kamar mereka, Dena menjadi penasaran. Apa yang membuat Bara yang selalu tepat waktu berangkat ke perusahaan, kini tidak muncul di meja makan?
Dan di sinilah dirinya sekarang, di depan pintu kamar pasangan pengantin baru itu. Telinganya menempel di pintu, berusaha mencuri dengar apa yang terjadi di dalam kamar. Tapi Dena tidak mendengar suara apapun dari dalam. Karena rasa penasarannya yang besar, Dena dengan lancang memutar kenop pintu kamar.
"Dikunci?" lirih gadis itu. "Apa yang mereka lakukan sampai harus mengunci pintu?" kesal Dena, karena pikirannya sudah melayang entah kemana.
"Tidak tidak tidak." menggelengkan kepalanya, "Kak Bara tidak mungkin melakukannya pada anak haram itu. Bukankah Kak Bara sangat membencinya." desis gadis itu.
Kebetulan saat itu seorang pelayan melewatinya, Dena memerintahkannya untuk mengambil kunci duplikat kamar Bara. Dan tidak butuh waktu lama, pelayan itu kembali membawa apa yang diinginkan Nona mudanya itu.
Dengan lancang Dena membuka kamar Bara. Keheningan menyambut ketika gadis itu masuk ke dalam kamar. Dena melangkahkan kakinya menelusuri kamar, tetapi tidak ada orang di sini. Hingga terdengar suara-suara dari arah kamar mandi.
Dena yang semakin penasaran mendekati pintu kamar mandi.
"Kak... sakit...." tubuh Dena seketika bergetar kala mendengar suara yang menurutnya aneh dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Pelan-pelan Kak... sakit..." terdengar lagi suara jeritan dari Rara. Tidak tidak, lebih mirip dengan erangan erotis akibat merasakan nikmat, mungkin?
"Apa yang mereka lakukan di dalam sana?!" desis gadis itu, tangannya mengepal merasakan emosi yang hampir meledak.
"Kak Bara benar-benar melakukannya dengan anak haram itu?" Dena tidak percaya Bara mau menyentuh Rara, mengingat dulu bahwa Bara begitu membenci gadis itu.
"Kak..." lagi-lagi suara-suara itu terdengar membuat Dena semakin emosi.
Tidak ingin mendengar suara-suara menyebalkan itu, Dena akhirnya memilih keluar dari kamar.
"Rara... kau benar-benar pembawa sial!" desisnya setelah menutup pintu dengan kasar.
Memalukan. batin Rara.
"Ssh..." Rara mendesis ketika tanpa sengaja busa sabun mengenai luka di bagian dadanya. "Perih..."
Melihat Rara lagi-lagi kesakitan, Bara langsung meniup luka itu, hingga Rara kembali tenang. Ya, pagi ini Bara sedang memandikan Rara. Entah apa yang merasuki pria itu hingga mau melakukan hal seperti ini.
__ADS_1
Bara kembali menyabuni tubuh Rara dengan hati-hati. Mulai dari sekujur punggung hingga bagian depan gadis itu. Pria itu bahkan tidak segan-segan menyentuh kedua gundukan mungil milik Rara tanpa ada rasa canggung sedikitpun.
Rara melebarkan matanya saat merasakan gelenyar aneh ketika Bara dengan lancang menyentuh bagian tubuh sensitifnya. Tubuhnya bergetar, karena tidak usah munafik, siapa yang tidak risih saat diperlakukan seperti ini.
"Kak aku bisa melakukannya sendiri." pinta gadis itu untuk yang kesekian kalinya, meski mustahil Bara akan menurut.
"Tidak bisakah kau diam sebentar saja. Bagaimana mungkin kau bisa mengurus dirimu dengan keadaan seperti ini?!"
Rara terdiam, memang benar apa yang Bara katakan, tapi tetap saja dia begitu malu.
Sedetik setelahnya, gadis itu terkesiap dari lamunannya, kala merasakan tangan Bara menyentuh pinggangnya, pria itu berusaha meloloskan bathrobe, kain terakhir yang menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Kak... apa yang kau lakukan?!" Rara menahan tangan Bara yang masih berusaha membuka kain itu.
"Lepaskan!" perintahnya dengan wajah tanpa dosa.
"Tidak. Aku bisa melakukannya sendiri. Keluarlah Kak." Rara memohon, tapi tak sedikitpun Bara mau mendengarnya.
__ADS_1
Kekuatan Rara tidak seberapa untuk melawan Bara yang memiliki tubuh besar berotot. Dengan mudahnya Bara menyentak kain itu, hingga kini Rara benar-benar polos.