Gadis Lugu Milik Bara

Gadis Lugu Milik Bara
Tawaran


__ADS_3

Sepanjang akhir pekan ini, Rara menghabiskan waktunya di meja belajarnya. Tugasnya sangat banyak, membuatnya harus tetap di dalam kamar di hari libur yang biasa diisi dengan merawat bunga-bunga di taman.


Selama mengerjakan tugasnya, pikiran gadis itu tidak bisa beralih dari sang suami yang tengah menemui seseorang yang entah siapa.


'My Love.' Nama itu kembali menghantuinya. Siapa sebenarnya wanita itu? Wanita itu memanggil sayang pada suaminya.


Rara memegang dadanya yang terasa sesak. Kenapa setelah hatinya benar-benar jatuh pada Bara, kebenaran terungkap. Harusnya dirinya tidak secepat itu, sehingga dia tidak harus merasa sesakit ini.


"Kau benar-benar jahat Kak." lirih gadis itu.


Gadis itu akhirnya berusaha untuk mengubur dalam-dalam perasaan yang terlanjur mendiami hatinya. Meski sulit rasanya, tetapi dia akan berusaha.


Disela belajarnya, Rara merasa kehausan. Rara terpaksa turun ke bawah, karena persediaan air putih di kamarnya sudah kosong. Bisa saja dia menyuruh pelayan, tetapi dirinya adalah sosok yang terbiasa melakukan apa saja sendiri.


Seperti biasa, rumah mewah ini akan sepi oleh penghuninya saat siang hari. Semuanya sibuk dengan aktivitas mereka di luar rumah meskipun hari minggu. Rara pikir hanya dirinya dan para pelayan yang ada di rumah ini.


Ternyata tidak. Saat mengambil minuman dari lemari pendingin, Dena tiba-tiba menghampirinya. Seperti biasa, dengan sorot mata tajam yang ingin menelannya hidup-hidup.


Rara pikir, Dena akan kembali mengganggunya. Namun Dena malah terlihat santai, mengambil minuman dari dalam lemari. Tetapi, meskipun begitu tetap saja Rara merasa terintimidasi dengan kehadirannya.


Tidak tahan berlama-lama bersama Dena, Rara melangkah pergi, namun tertahan oleh panggilan Dena.


"Rara." untuk pertama kalinya Dena memanggil namanya dengan benar, tanpa embel-embel 'anak haram'.


Tubuhnya menegang ketakutan, dan enggan berbalik untuk menjawab wanita kejam itu.


"Dimana Kak Bara?" tanya Dena dengan wajah santainya.

__ADS_1


Mau tidak mau, karena masih memiliki kesopanan, Rara berbalik, tanpa ingin bertatapan langsung dengan mata tajam itu.


"Kak Bara sedang keluar Kak." jawabnya pelan dengan suara pelan.


"Keluar kemana?" gadis itu sambil bersedekap menatap Rara dengan pongah.


Rara menggeleng "Aku tidak tau Kak. Kak Bara mengatakan dia sedang ada urusan." jawabnya seadanya, ingin rasanya pergi secepatnya dari tempat ini.


"Dan kau tidak tau dia sedang apa sekarang?" tersenyum mengejek.


Rara menggeleng, "Aku... aku ke kamar dulu Kak." pamit Rara dengan cepat. Dia tidak ingin berlama-lama berdekatan dengan Dena, karena bagaimana pun pasti akan ada pertengkaran dalam percakapan mereka.


Belum tiga langkah kakinya melangkah, ponselnya berbunyi. Rara mengambil ponsel itu, tapi tidak menghentikan langkahnya.


Tetapi, begitu membuka pesan yang baru datang, langkahnya benar-benar terhenti. Maniknya memperhatikan sebuah foto yang dikirim oleh Dena. Yaitu foto Bara yang tengah duduk di sebuah meja bersama beberapa orang yang tidak dikenalinya.


"Apa ini Kak?" tanyanya dengan sedikit takut.


"Kau benar-benar ingin tau?"


Rara tidak menjawab, karena pikirannya melayang pada Bara yang tengah duduk bersebelahan dalam foto itu. Tidak hanya itu, Bara terlihat akrab dengan gadis cantik itu. Terlihat dari senyum Bara memancar tidak seperti biasanya.


"Baiklah. Aku akan memberitahukanmu." Dena tau, Rara pasti ingin tau, meski gadis itu tidak menjawab.


"Hari ini, Kak Bara sedang mengadakan pertemuan dengan keluarga calon istrinya." ucap Dena tanpa perasaan sedikit pun. Hatinya begitu senang melihat adik tirinya itu begitu terperangah akan ucapannya.


"Dalam foto itu, wanita di samping Kak Bara adalah calon istri Kak Bara. Dan yang lainnya adalah keluarga wanita itu." ujar gadis itu seolah tidak puas menyakiti Rara.

__ADS_1


"Kenapa kau begitu terkejut Rara?"


"Jangan katakan kau cemburu?" wajah simpatinya begitu palsu.


Dena terkekeh, "Rara Rara... Kau ini polos atau bodoh? Bisa-bisanya kau jatuh cinta pada Kak Bara. Padahal kau tau betul bagaimana sikapnya padamu." langkahnya kian mendekati Rara, "Sebenarnya aku ingin sekali memberitahu alasan Kak Bara menikahimu. Tapi aku tidak berhak, karena Kak Bara telah membungkam kami. Kalau kau penasaran, tanya saja Kak Bara."


Dena mengusap rambut Rara perlahan, "Sebenarnya aku sangat mengasihanimu Rara. Hanya karena Kak Bara bersikap baik padamu, kau berpikir Kak Bara menyukaimu."


"Kau salah Rara. Kak Bara memiliki tujuan khusus. Dan aku tidak tau pasti akan hal itu." menghela nafasnya panjang. "Dan satu hal yang harus kau ketahui. Dalam waktu dekat ini, Kak Bara akan melangsungkan pernikahannya."


Untuk pertama kalinya, Rara bereaksi setelah sekian banyak penuturan Dena. Maniknya berkaca-kaca, yang perlahan menjadi butiran air mata di pelupuk matanya.


"Sst... jangan menangis adikku sayang."


"Aku tau kau belum benar-benar jatuh hati pada Kak Bara. Dan juga kau tidak ingin lebih sakit dari ini ke depannya. Hah, mana ada wanita yang ingin diduakan."


Senyum palsunya merekah, "Kalau kau mau, aku bisa membantumu lepas dari Kak Bara." tawar Dena.


"Tidak usah terburu-buru mengambil keputusan. Aku mengerti perasaanmu saat ini. Jika nanti kau membutuhkan bantuanku, temui aku."


Dena hampir melenggang pergi, "Aku memang membencimu Rara. Tapi aku mengatakan hal ini padamu karena aku memang kasihan padamu. Aku paling tidak bisa melihat hal yang pernah dialami ibuku, dialami olehmu juga."


"Aku pergi dulu." menepuk pundak Rara, "Ingat, temui aku jika kau butuh bantuan." ujarnya sebelum akhirnya melenggang pergi dari hadapan Rara.


TBC ☘️☘️☘️


Jangan lupa like, coment dan votenya yaaa

__ADS_1


__ADS_2