Gadis Lugu Milik Bara

Gadis Lugu Milik Bara
Sepenggal Kisah


__ADS_3

Pukul sebelas lewat, Rara mengusap matanya yang sudah merah akibat menahan kantuk. Gadis itu ingin sekali tidur, tetapi ditahannya karena suaminya belum pulang. Seperti perintah yang Bara katakan, Rara tidak boleh tidur sebelum Bara pulang.


Begitu Bara pulang Rara lah yang akan melayani pria itu. Menyiapkan pakaiannya bahkan hingga hal-hal kecil sekalipun.


"Lama sekali mereka pulang." gerutunya. Mulutnya terbuka lebar seraya meregangkan otot-otot tubuhnya.


Dan saat itu juga pintu kamar terbuka dengan kasar. Rara hampir mengumpat jika tidak melihat siapa yang datang. Ternyata suaminya, yang masih mengenakan kemejanya dan jas yang tersampir di lengannya.


Manik keduanya saling bertaut tajam, hingga Bara duduk di sebelahnya. Rara yang sudah benar-benar mengantuk, dengan sigap mendekati Bara, berjongkok di depan pria itu lalu membukakan sepatunya, seperti biasa.


Rara menggigit bibirnya, ketika merasakan perih saat telapak tangannya yang terluka bergerak membuka sepatu Bara. Namun sepintar apapun Rara menyembunyikan raut wajahnya, Bara, pria jeli dan peka, dapat melihat keanehan Rara. Tangan Rara gemetar ketika menyentuh kakinya.


Setelah Rara menyimpan sepatu Bara ke tempat, Rara bergegas menuju kamar mandi. Dia akan melaksanakan pelayanan selanjutnya untuk suami kejamnya itu. Rara menyiapkan air hangat untuk pria itu.


Rara melupakan luka di tangannya, dan dengan cerobohnya memasukkan tangannya ke dalam bathtub berisi air hangat saat akan merasakan suhu air.


Kali ini Rara tidak bisa menyembunyikan kesakitannya. "Sakit sekali..." cicitnya dan meniup-niup telapak tangannya.


"Ada apa?!" suara dingin mencekam mengejutkannya.


"Ah tidak. Aku tidak apa-apa Kak." menyembunyikan tangannya dari jangkauan pandangan Bara. "Aku keluar dulu, air mandimu sudah siap Kak." dengan terburu-buru Rara keluar dari kamar mandi.


Sebelum tidur, Rara melakukan tugas terakhirnya, yaitu menyiapkan piyama Bara. Setelah itu, dia bisa tidur tanpa gangguan dari Bara nanti.


Rara merutuki dirinya sambil memandangi bekas tusukan bunga mawar. "Bisa-bisanya aku tidak merasakan sakitnya saat menggenggamnya tadi. Oh.. ini sangat sakit." meringis sebab rasa sakitnya bertambah setelah terkena air hangat.


Rasa sakit itu perlahan membawa Rara berkelana dalam tidurnya, hingga dalam waktu singkat Rara sudah terlelap. Gadis itu tidak sadar, ucapannya didengar oleh Bara yang ternyata sudah berdiri di belakangnya.


Tentu pria itu juga bisa melihat dengan jelas telapak tangan Rara yang memerah dan ada beberapa bekas luka menghiasinya. Raut wajahnya yang biasanya selalu datar, kini berubah. Tetapi tidak seorang pun bisa mengartikan raut wajahnya, sebab Bara, lelaki yang sangat pandai menyembunyikan ekspresinya.


***

__ADS_1


Keesokan harinya, seperti biasa Rara melakukan tugasnya melayani Bara. Setelah itu baru bersiap-siap untuk ke sekolahnya. Tapi pagi ini, Rara mempersingkat waktunya bersiap-siap, karena dia ingin mengejar Bara yang selalu berangkat lebih pagi.


Di meja makan, seperti biasa seluruh anggota keluarga, sedang menikmati sarapannya. Rara duduk dengan tenang di samping Bara, tidak terlalu ketakutan lagi, sebab Safira dan Vina tidak lagi menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Hanya saja Dena, wanita itu terus saja menatapnya tajam.


"Kak Bara..." Dena dengan senyum manisnya memberikan piring kecil dengan roti yang sudah lengkap dengan isiannya. Bara dengan wajah datar menerimanya lalu melahap sarapannya dengan tenang dan elegan.


Rara melihat semua itu, statusnya sebagai istri dari seorang Bara seolah tidak ada gunanya. Bukankah seharusnya dirinya yang melakukan itu pada Bara? Dan lagi, Dena tersenyum mengejek padanya.


Rara menanyakan pada hatinya. Dia sama sekali tidak memiliki perasaan yang berarti pada Bara, tetapi kenapa ada dia merasa sedih? Rara menampik pikiran yang sudah melayang kemana-mana. Dia tidak mungkin cemburu, mungkin hanya sedikit sedih saja sebab mengingat statusnya saat ini, tetapi malah orang lain yang melayani suaminya.


"Oh ya..." Dena memecah keheningan. "Ayah, Ibu, Kak Bara apakah kalian tidak melupakan sesuatu?"


"Melupakan apa?" Davina yang menjawab.


"Menyebalkan." mencebik kesal, "Kalian melupakan ulang tahunku?" bibirnya mengerucut.


"Tidak ada yang melupakannya, karena ulang tahunmu masih satu minggu lagi." bantah Vina. Vina menatap putri sulungnya itu lekat, "Ibu tau apa keinginanmu. Mulai besok Ibu akan mengurus pesta ulang tahunmu. Tenang saja." ujar Vina yang sudah mengerti dengan putrinya itu.


Tetapi....


Hening....


Tetapi....


Hening....


Semua orang di meja makan itu menghentikan kegiatannya ketika menyadari sesuatu. Hingga sedetik kemudian, Derri, Vina, Dena, Safira, kecuali Bara yang tetap berwajah datar. Mereka kompak menatap Rara yang juga bergeming.


Mereka baru ingat, hari ulangtahun Dena juga bertepatan dengan hari ulangtahun putri bungsu keluarga Pramana, Rara si gadis malang.


Sekuat tenaga Rara menahan air matanya, ketika menyadari semua pandangan tertuju padanya. Namun Rara semakin menundukkan wajahnya, dia tidak ingin mereka melihat kesedihannya yang membuat mereka semakin senang melihat keterpurukannya.

__ADS_1


Dulu setiap hari itu tiba, perayaan besar-besaran akan diadakan di rumah mewah itu, untuk merayakan ulang tahun putri sulung keluarga ini. Mereka berpesta ria, melupakan Rara yang juga sedang ulang tahun di hari yang sama.


Gadis itu akan berdiam diri di paviliun yang berada di tempat paling jauh dari rumah utama, merayakan ulang tahunnya dalam kesepian.


Semua itu diatur oleh Dena. Gadis yang selalu merasa Rara telah merebut miliknya, tidak memperbolehkan Rara muncul di hari ulang tahunnya. Bahkan ketika Derri meminta agar ulang tahun Rara dirayakan sekaligus, Vina yang menjadi pawang putrinya menolak mentah-mentah permintaan itu.


"Anak haram itu tidak pantas bersanding bersama putri-putriku!" kalimat itu jelas-jelas diteriakkan di hadapan Rara.


Pernah sekali, Rara tidak sengaja muncul di pesta itu. Tentu banyak yang bertanya siapa Rara yang berpakaian lusuh berada di antara tamu undangan. Dan apa yang mereka katakan, mereka mengatakan bahwa Rara adalah putri salah seorang pelayan di rumah ini.


Sungguh penderitaan gadis itu begitu kuat biasa sakitnya.


Rara memasukkan suapan terakhirnya. Tentu mereka heran dengan reaksi Rara. dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Bersikap seolah apa yang didengarnya tadi tidak berarti apa-apa.


"A..aku berangkat dulu." Rara berdiri lalu menghampiri Derri. Rara mengambil tangan pria tua itu, lalu meletakkan di kepalanya.


Rara yang pernah tinggal di Indonesia sudah terbiasa dengan tradisi itu. Andai Davina, Bara, dan kedua kakaknya mau, dia pasti akan melakukan hal yang sama pada mereka. Mencium tangan orang-orang dewasa itu sebelum dirinya berangkat ke sekolah, pasti akan sangat menyenangkan. Tapi itu tidak akan mungkin terjadi.


Tanpa ingin berlama-lama, Rara segera pergi. Meninggalkan manusia-manusia tidak berperasaan itu dengan perasaan hancurnya.


Derri menatap nelangsa anak gadisnya yang malang itu. Lihat saja, Rara bahkan tidak sedih. Perasaan Derri hancur melihat betapa tegarnya putrinya itu.


"Andini... lihatlah putri kita. Dia persis seperti dirimu sekarang. Dia sangat pandai menyembunyikan perasaannya." batin Derri yang teringat pada mendiang istri keduanya.


Begitu masuk ke dalam mobil, Rara tersenyum. Hingga mobil bergerak melaju, senyumnya tidak pudar, hingga rasa perih yang tidak terperi mencuat dan runtuhlah pertahanan gadis itu.


Air mata mengalir, membasahi senyumannya yang begitu pilu.


Ulang tahun? Apakah tahun ini dia juga akan merayakannya dengan cara yang sama? Berdiam diri jauh dari kerumunan, dan mendengar riuh sorak-sorai orang-orang yang merayakan ulang tahun Dena.


Sudah empat tahun Rara seperti itu. Dari usia enam hingga tiga belas tahun, Rara cukup beruntung karena ada sang Ibunda yang menyanyikan lagu selamat ulang tahun padanya. Bahkan Ibunya rela mengendap-endap mencuri sepotong kue untuk dirinya.

__ADS_1


Tetapi setelah kematian sang Ibunda, tidak ada lagi yang melakukan hal itu untuknya.


__ADS_2