Gadis Lugu Milik Bara

Gadis Lugu Milik Bara
Permintaan Bara


__ADS_3

Selama seminggu ini, Bara tidak membiarkan Rara keluar kamar barang sebentar pun. Pria itu mengurungnya dan bahkan tidak memperbolehkannya turun dari ranjang. Bara tidak mau repot-repot membawa Rara ke rumah sakit, membuat dokter spesialis kulit harus bolak-balik datang ke rumah itu.


Berita bahwa Rara tengah terluka sudah diketahui oleh semua penghuni rumah itu. Derri yang sangat cemas dan penasaran dengan keadaan Rara sudah beberapa kali ditolak oleh Bara. Ya, selain tidak memperbolehkan Rara keluar, Bara juga tidak membiarkan seorang pun masuk ke dalam kamar kecuali dokter yang memeriksa Rara.


Tentu saja, sebab di dalam kamar tubuh Rara tidak berbalut sehelai benang pun menutupi. Pria itu tidak ingin seorang pun melihat tubuh gadis itu, termasuk Derri sekali pun.


Lain halnya dengan halnya dengan Dena, gadis itu tidak merasa bersalah sama sekali atas perbuatannya. Dia malah senang dan bersuka ria di atas penderitaan saudara tirinya itu. Entah terbuat dari mana hatinya.


Begitu juga dengan Rara, gadis malang itu tidak mau mengatakan siapa yang telah melukainya. Dan dia semakin diam karena Bara pun tidak pernah bertanya dan mengungkitnya lagi.


Seminggu lebih mendapat perawatan intensif, luka di dada Rara sudah mengering, hanya tinggal bekas luka yang kentara menghiasi dadanya. Rara begitu sedih melihat bekas itu, sangat jelek dan tidak enak dipandang.


Bagaimana nanti jika suaminya melihatnya? Apakah ada laki-laki yang mau memiliki istri dengan tubuh cacat ini? Seketika itu juga Rara tersadar.

__ADS_1


Suami? Bukankah dirinya sudah memiliki suami? Dan juga suaminya sudah melihat luka itu bahkan sekujur tubuhnya sudah dilihat oleh suaminya. Lalu suami mana yang Rara maksud?


"Kakak, besok aku sudah bisa sekolah kan?" tanya Rara yang sedang bersandar di tempat tidur. Sedangkan Bara sedang duduk di sofa sambil memangku laptopnya.


"Hmm..." jawabnya singkat tanpa melihatnya. Rara tersenyum senang, akhirnya dia bisa keluar dari sangkar emas ini.


"Berarti besok Kakak juga akan bekerja?" tanyanya lagi, entah kenapa Rara begitu lancang bicara sebanyak ini pada suami dinginnya.


Mendengar pertanyaan itu, kali ini Bara membalas tatapan itu. Ada apa gerangan istri malangnya bertanya seperti itu.


"Terima kasih Kak...." ucapnya ragu. "Terima kasih karena Kakak sudah merawatku sampai aku sembuh."


Bara memandangi wajah yang terlihat riang itu lamat-lamat. Tapi tidak terlalu lama, kemudian kembali fokus ke laptopnya setelah bergumam tidak jelas menjawab Rara.

__ADS_1


Meski hanya dijawab seperti itu, Rara tidak marah. Memang sifat Bara sudah seperti itu dari dulunya, jadi jangan berharap laki-laki itu menjawab lebih dari itu.


Rara mengeratkan gaun tidurnya, karena lukanya sudah mengering, Bara sudah mengizinkannya memakai baju.


"Emm... Kakak punya banyak pekerjaan?" tanya gadis itu lagi. Entah kenapa malam ini dia lebih banyak bicara. Setelah minum obat, harusnya Rara sudah tertidur tapi entah kenapa Rara tidak bisa memejamkan matanya dan tertarik untuk mengajak Bara berbicara.


Lagi-lagi Bara mengalihkan pandangannya pada gadis yang menurutnya aneh malam ini. Manik tajamnya memindai apakah ada yang salah terhadap Rara.


Menyadari tatapan Bara, Rara menjadi salah tingkah, dia pun merutuki dirinya telah menanyakan hal itu. Padahal sebelumnya Rara tidak pernah selancang itu.


"Maksudku... apakah Kakak tidak lelah? Kakak sudah... maksudku kakak pasti lelah karena mengurusku..." ucap gadis itu terbata.


Tanpa disangka Bara menutup laptopnya dan meletakkannya di atas meja. Pria itu berdiri, mendekati Rara seraya membuka kaos hitam yang membalut tubuh berototnya.

__ADS_1


Maniknya terus menatap tajam Rara, melemparkan kaos itu sembarang, dan dengan lancangnya duduk di depan Rara memamerkan tubuh berototnya.


"Aah... kau benar, tubuhku sangat lelah, kau tidak keberatan memijat tubuhku bukan?"


__ADS_2