Gadis Lugu Milik Bara

Gadis Lugu Milik Bara
Hadiah


__ADS_3

Keesokan harinya, Rara sudah sepenuhnya sembuh, meski bekas luka itu masih tetap ada. Gadis itu terlihat berbeda, jika tadi malam Rara histeris dan ketakutan, pagi ini Rara terlihat biasa saja. Seolah apa yang terjadi tidak berimbas apa-apa pagi ini.


Hal itulah yang membuat Bara heran dengan Rara. Bagaimana mungkin sikap Rara berubah dalam waktu semalaman. Gadis ini selalu penuh kejutan sejak bertemu beberapa waktu lalu.


Bara sudah rapi dengan setelan kerjanya bersamaan dengan Rara yang juga siap dengan seragam sekolahnya. Jika dulu Bara selalu berangkat dengan cepat, tapi pagi ini Bara mengalah dan mengikuti timing keberangkatan Rara. Entah kenapa dia tidak ingin jauh-jauh dari gadis itu.


Keduanya memilih menghabiskan sarapan di dalam kamar, setelah selesai segera turun dari kamar.


Sepertinya ada yang berbeda ketika para pelayan melihat Tuan dan Nona muda rumah ini terlihat kompak. Mereka melihat Bara dan Rara berjalan berbarengan. Sungguh pemandangan yang langka dan pertama kalinya. Bagaimana mungkin Rara bisa berjalan bersebelahan dengan orang yang paling dingin seantero. Tetapi meskipun begitu, mereka turut senang melihat perkembangan hubungan mereka. Dengan begitu, Rara si gadis malang akan memiliki seseorang untuk melindungi. Sudah cukup Rara menderita selama belasan tahun lamanya.


"Dimana mobilnya?" Rara bergumam di halaman rumah seraya memperhatikan sekitar. Mobil yang mengantar jemputnya tidak ada di sana.


Tidak lama kemudian, sebuah mobil mewah hitam legam berhenti di depannya. Seorang lelaki yang merupakan sopir membukakan pintu untuknya.


"Silahkan masuk Nona." sopir itu mempersilahkan.


"Tapi ini mobil Kakak Bara bukan?" tanya Rara yang enggan masuk.


"Cepat masuk! Supirmu mengambil cuti hari ini." ucap Bara tiba-tiba yang berdiri di belakangnya.


Rara masih mematung dan ragu.


"Sampai kapan kau akan mematung? Kau ingin terlambat?" sentak Bara yang mendahului Rara masuk ke dalam mobil.


"Baiklah." akhirnya Rara masuk ke dalam mobil, duduk bersebelahan dengan Bara.


Di dalam mobil, seperti biasa Bara selalu diam, begitupun Rara yang enggan berbicara. Saat sampai di sekolah pun, keduanya tetap diam.


"Kak, aku turun dulu. Terima kasih sudah mengantarku." pamit Rara tetapi tidak mendapat jawaban dari Bara.

__ADS_1


Rara berjalan menuju kelasnya, senyumnya mengembang saat akan menghampiri kelasnya. Dia merindukan kelasnya yang sudah seminggu ini ditinggalkannya.


Tetapi Mic yang datang entah darimana menghadang langkahnya.


"Mic Ada apa?" tanyanya.


"Kau darimana saja satu minggu ini? Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi? Lalu kenapa kau meninggalkan rumah sakit saat aku pergi?" cecar Mic dengan wajah cemas.


"Tunggu Mic, satu-satu dulu. Biarkan aku menjawabnya."


"Ok, maaf, aku sangat mencemaskanmu. Kau terluka hari itu dan tiba-tiba menghilang. Padahal lukamu belum ditangani dengan baik." Mic masih begitu cemas membuat Rara terkesan akan perhatian pria ini.


"Mic..." tersenyum, "Aku tidak apa-apa, aku sudah mendapatkan perawatan yang baik di rumah, jadi berhenti mencemaskanku. Maaf kalau hari itu aku meninggalkan rumah sakit tanpa sepengetahuanmu."


Melihat senyum tulus Rara membuat Mic akhirnya lega. "Huh, sudahlah. Yang penting kau tidak kenapa-napa. Lalu, lukamu bagaimana? Apakah sudah mengering?"


"Syukurlah. Kalau kau mau, aku bisa membawamu ke dokter terbaik untuk menghilangkan bekasnya." tawar Mic.


"Tidak usah Mic. Aku sudah memiliki dokternya." ucap Rara berbohong. "Mic aku masuk dulu ya."


"Tunggu." menahan lengan Rara, "Kau tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku?" menatap dalam-dalam manik sendu itu.


"Menjelaskan? Menjelaskan apa?"


"Kau mendapat lukamu itu darimana?"


Rara terdiam, gadis tertutup sepertinya tidak pernah mau berbagi penderitaannya kepada orang lain.


Melihat tatapan Rara, Mic tau gadis ini belum mau bercerita. "Baiklah kalau kau belum mau bercerita. Tapi jika kau sudah siap, aku akan menjadi pendengar setia untukmu."

__ADS_1


"Terima kasih Mic. Kau sudah banyak membantuku."


***


Sepulang sekolah Rara dengan semangat masuk ke dalam kamarnya. Senyumnya mengembang menghiasi wajahnya yang terlihat antusias. Tidak ingin ada orang yang mengganggu, Rara mengunci pintu kamarnya.


Rara mengambil sebuah kotak dari dalam tasnya. Sebuah kotak hadiah berwarna biru muda. Di atasnya bertuliskan Mr. X, yang berarti adalah Dave, pengagum rahasianya.


Dengan tidak sabar Rara membuka kotak itu. Senyumnya semakin lebar melihat beberapa set perhiasan di dalam sana.


"Cantik sekali." meski Rara bukan penggila perhiasan, tetap saja dia kagum melihat perhiasan mewah yang berkilauan itu.


Tetapi ada satu lagi yang mencuri perhatiannya. Sebuah kotak beludru berwarna biru dengan sebuah kertas di atasnya.


Rara membuka kotak itu, menemukan sebuah kalung liontin berbentuk hati di dalamnya.


"Cantik." kemudian membuka lipatan kertas yang terselip di dalamnya.


Selamat ulang tahun Rara. Semoga sehat dan panjang umur. Jika kau berkenan, pakailah kalung itu setiap hari. Tapi jangan buka liontinnya sampai aku memberikan pesan berikutnya.


Isi surat itu.


"Huh singkat sekali. Padahal aku masih ingin membaca tulisannya. Kapan ya aku bisa bertemu dengannya?" lirihnya.


Tetapi keceriaannya kembali ketika melihat liontin itu. "Kira-kira apa ya isinya?" menimang-nimang liontin itu yang terasa gatal ingin membukanya.


"Ah tidak boleh. Dave sudah berpesan padaku. Aku tidak boleh membohonginya." akhirnya Rara memakai liontin itu.


Sepertinya kalung itu dibuat khusus untuknya. Lihatlah, kalung itu begitu kontras menghiasi leher jenjang nan putih itu.

__ADS_1


__ADS_2