Gadis Lugu Milik Bara

Gadis Lugu Milik Bara
Layani Aku


__ADS_3

Setelah ciuman panas mereka malam itu, hubungan kedua pasangan itu semakin dekat. Jika dulu selalu takut untuk bicara, kini Rara sudah lebih leluasa berbicara pada Bara. Tidak ada lagi ketakutan yang tersisa, sebab Bara sudah membuang aura intimidasinya terhadap gadis itu.


Seperti malam ini, ketika keduanya hendak tidur, Bara meminta Rara untuk tidur lebih dekat dan berbantalkan lengannya. Meski ragu, Rara tetap menurut dan bersandar lebih dekat pada pria itu. Tanpa disangka-sangka, Bara meletakkan tangannya di atas perut Rara.


Rara cukup terkejut, lalu menatap Bara, "Tidurlah. Malam semakin larut." ujar pria itu, karena jarak mereka yang sangat dekat, Rara bisa merasakan hembusan nafas pria itu di permukaan kulit wajahnya.


Melihat Bara memejamkan matanya, Rara memilih memandangi langit-langit kamar. Dia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, sebab belum pernah gadis itu tidur dipeluk seperti ini setelah kematian sang ibunda.


Pelukan ini sangat nyaman, membuat Rara enggan memejamkan mata dan memilih merasakan pelukan yang sudah sangat dirindukannya ini. Pelukan yang sama nyamannya dengan pelukan sang ibunda.


Rara melirik Bara sebentar, "Kakak sudah tidur?"


"Hmmm?" hanya gumaman yang berarti Bara belum tidur.


"Bagaimana pekerjaan Kakak?" tanyanya pelan.


Bara langsung membuka matanya, "Kau tidak bisa tidur?" diangguki oleh Rara.


"Baiklah aku akan menemanimu sampai kau mengantuk." ucap Bara seraya semakin mengikis jarak keduanya. "Kenapa menanyakan pekerjaanku hmm?"


"Bukan apa-apa. Hanya saja akhir-akhir ini, aku melihat Kakak terlalu bekerja keras dan pulang selalu terlambat. Jangan terlalu memforsir tenagamu Kak, nanti kau malah sakit." terang gadis itu yang jelas-jelas menunjukkan perhatiannya.


Mendengar penuturan sang istri, Bara menipiskan bibirnya, dan menatap Rara dengan jenaka.


"Kau mengkhawatirkanku?"


Rara jelas melihat senyum usil di wajah Bara, membuat wajahnya memerah malu.


"Ti..tidak. Aku hanya... maksudku... tidak ada salahnya kan aku mengkhawatirkan suamiku...." Rara langsung membekap mulutnya, ketika menyadari telah mengucapkan hal segamblang itu.


"Jadi kau sudah menganggap aku suamimu?" tanya Bara dengan senyum jenakanya.

__ADS_1


"Ti..dak... maksudku... kakak memang suamiku bukan?" Rara tidak tau mau berkata apa.


"Tapi aku belum seutuhnya menjadi suamimu." ucap Bara disela senyum gelinya.


"Apa? Kenapa begitu?"


"Karena kau belum melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang istri sebagai kodratnya terhadap suami."


"Melakukan apa?" Rara benar-benar tidak mengerti.


"Kau ini. Itu saja tidak mengerti. Kau tidak tau apa itu tugas seorang istri?" menjepit hidung Rara gemas yang heran akan kepolosannya.


"Tugas istri adalah melayani suami. Tapi bukankah aku sudah melakukannya?"


Bara malah menatapnya tajam, "Kau sudah melayaniku di atas ranjang?" ucap Bara akhirnya, karena jengah dengan tingkah polos Rara.


Rara seketika terdiam, maniknya membulat sempurna. Sedangkan Bara tertawa dalam hati, apalagi saat melihat rona merah di wajah cantik itu.


"A..aku sudah mengantuk Kak." Rara langsung memejamkan matanya erat.


Dan sontak hal itu membuat Bara terkekeh, "Kau malah menghindari pertanyaanku. Cepat bangun rubah kecil, jangan berpura-pura tidur." menjepit hidung Rara gemas.


"Emh. Aku tidak bisa bernafas Kak." membuka matanya lebar-lebar, sedangkan Bara masih dalam mode usilnya.


"Tidak akan! Cepat jawab, kau sudah melayaniku dengan baik atau tidak!" Bara semakin gencar mengerjainya.


"Kak... lepas. Aku tidak bisa bernafas." rengek gadis itu.


"Jawab dulu."


"Iya... belum. Aku belum melayanimu dengan baik." ucap Rara akhirnya. Dan Bara melepas jepitan tangannya.

__ADS_1


"Hidungku sakit!" Rara mendengus kesal.


"Kau sudah sadar bukan, kalau kau belum melayaniku dengan baik?" Bara menghiraukannya.


"Sekarang cepat layani aku!" perintah Bara.


"Apa?! Tidak. Aku tidak mau!" Rara langsung beringsut menjauh dari Bara.


"Heh. Kau ingin mengabaikan tugasmu? Kau ingin menjadi istri durhaka rupanya." menatap tajam.


"Ti...tidak Kak. Bukan begitu maksudku. Hanya.. hanya saja... aku belum siap." cicit Rara dengan wajah sedih.


Rara berharap Bara mau mengerti dirinya, tapi sepertinya harapan itu pupus ketika Bara menyeretnya mendekat.


"Kak aku belum siap. Aku masih sekolah..." matanya berkaca-kaca dalam pelukan Bara.


"Tolong jangan lakukan itu padaku Kak... aku takut..." air matanya turut membendung di pelupuk matanya.


"Hei. Kau ini kenapa? Siapa yang akan melakukan apa?" ucap Bara menghentikan tangis Rara.


"Kak... tapi Kakak bilang...."


"Sudah tidurlah. Aku mengantuk." ucap Bara, dan semakin mendekap tubuh mungil itu.


"Kak..."


"Kalau masih belum tidur, aku akan benar-benar melakukannya!" ancam Bara, dan sontak membuat Rara langsung memejamkan matanya.


Merasakan sudah tidak ada lagi pergerakan dari tubuh mungil dalam dekapannya, Bara menundukkan wajahnya.


"Aku akan menunggumu sampai kau siap." bisik Bara.

__ADS_1


TBC


__ADS_2