Gadis Lugu Milik Bara

Gadis Lugu Milik Bara
Pagi Yang Indah


__ADS_3

Rara terbangun lebih dulu dari Bara pagi ini. Tetapi tubuhnya masih enggan untuk bangkit dari tidurnya. Dirinya masih ingin berlama-lama memandangi wajah pria yang ada di hadapannya itu.


Mengingat semua sikap Bara yang akhir-akhir ini mulai berubah padanya, bahkan berubah cukup pesat menurutnya. Bara tidak pernah lagi membentaknya, berkata tajam padanya dan melayangkan tatapan tajam padanya.


Tentu Rara senang dengan perubahan itu, tetapi dalam hati kecilnya bertanya-tanya apa yang membuat Bara menjadi baik terhadapnya. Berbagai hal muncul dalam pemikirannya, tetapi Rara menampik semua itu.


Dengan perubahan Bara saat ini, Rara tidak ingin berbesar kepala. Rara tidak ingin terbuai dengan kebaikan Bara yang nanti malah membuatnya terjebak. Ya, Rara tidak sepenuhnya percaya pada Bara. Rara masih menganggap ada sesuatu yang disembunyikan Bara darinya. Dan mungkin saja Bara hanya memanfaatkannya.


Memang tidak bisa dipungkiri, mengingat bagaimana kejamnya Bara dulu, tidak mungkin seseorang berubah begitu cepat jika tidak memiliki tujuan lain.


Dan hal itulah yang membuat Rara menolak Bara kemarin malam. Selain memang karena takut, Rara juga tidak ingin terjebak dengan semua ini. Apalagi dia belum tau kemana arah pernikahan ini akan berlabuh. Memang Rara menanamkan prinsip satu kali menikah dalam seumur hidupnya, tetapi untuk pernikahannya kali ini, Rara tidak yakin. Karena hatinya terlalu rumit.


"Apa yang kau lihat?"

__ADS_1


Rara terkejut ketika Bara tiba-tiba membuka matanya.


"Kakak sudah bangun? Aku... aku tidak melihat apa-apa." sanggahnya padahal sudah tertangkap basah.


"Apakah aku sangat tampan sehingga kau betah memandangiku?" goda Bara.


"Tidak! Aku tidak melihatmu!" masih berusaha mengelak seraya memandang ke arah lain.


"Sudah ketahuan tapi masih saja mengelak." menjepit hidung Rara gemas.


"Biarkan saja. Aku akan menarik hidungmu setiap hari, sampai kau berubah jadi pinokio." semakin gencar menarik hidung Rara.


"Tidak mau. Aku tidak mau jadi pinokio! Lepas Kak. Aku mau mandi." menyingkirkan tangan Bara dari perutnya lalu turun dari tempat tidur.

__ADS_1


"Hati-hati, jangan sampai jatuh dan hidungmu terbentur. Nanti kau jadi pinokio." ejek Bara.


"Tidak! Aku tidak mau jadi pinokio!" dengusnya lalu berjalan menuju kamar mandi dengan menghentakkan kakinya.


Setelah Rara masuk ke dalam kamar mandi, Bara masih terkekeh, tetapi sesaat kemudian wajahnya menjadi dingin dan datar seperti dulu. Maniknya menatap penuh arti pada foto sang istri yang ada di nakas. Sesaat kemudian, terdengar helaan nafas resah dari pria itu.


Setelah pasangan suami istri itu rapi dengan pakaian masing-masing, keduanya akhirnya turun menuju ruang dapur. Jika dulu Bara selalu meninggalkannya di kamar, kini Bara menggandeng tangannya, dan sembari bersenda gurau di sepanjang menuju meja makan.


Interaksi mereka tentu menjadi sebuah pemandangan langka bagi penghuni rumah itu. Ada yang senang, heran, sekaligus marah melihat keakraban keduanya.


Para pelayan dan Derri adalah mereka yang senang melihat senyum Rara terbit untuk pertama kalinya di rumah ini, ya mereka tak pernah sekalipun melihat Rara tersenyum begitu tulus tanpa beban sedikitpun.


Vina dan Safira sangat heran melihat mereka. Tidak ada lagi kebencian di hati mereka, sebab sejak mengetahui Rara telah mengalami pelecehan hati mereka sudah terketuk. Mereka merasa bersalah pada Rara, tetapi gengsi dan penghormatan yang tinggi membuat mereka enggan mengaku salah dan akhirnya memilih untuk diam saja tanpa ingin membuat Rara menderita lagi.

__ADS_1


Sedangkan Dena, gadis yang awalnya sama seperti Ibu dan adiknya, kini semakin membenci Rara. Sejak tau Bara akan menikahinya amarahnya memuncak dan ingin menghancurkan Rara. Berbagai hal telah dia lakukan, tapi tetap saja Rara selalu selamat darinya.


Dan sekarang, manik tajamnya jelas-jelas melihat keakraban mereka. Bara yang belum pernah bersikap seperti itu pada siapa pun kini telah tertawa lepas bersama Rara, si anak haram. Tangannya mengepal, ingin sekali rasanya memisahkan keduanya.


__ADS_2