
Menghindar, adalah hal yang selalu Rara lakukan selama satu minggu ini. Rara berusaha untuk mempersingkat pertemuannya dengan sang suami.
Rara selalu bangun lebih dahulu dari Bara dan berangkat sebelum Bara terbangun. Satu minggu ini, sekolah mempercepat jadwal pulang, karena sebentar lagi mereka akan mengadakan ujian kelulusan. Sehingga pada saat Bara menjemputnya, Bara tidak akan menemukannya di sekolah. Dan ketika malam hari pun, Rara tidur lebih cepat dari biasanya, sebelum Bara pulang.
Oleh karena itu, selama satu minggu ini dirinya dan Bara tidak saling menyapa, meskipun berada dalam ruangan yang sama.
Tidak terasa sudah setengah tahun dirinya bersekolah di sini. Dalam satu bulan ke depan, ujian kelulusan akan diadakan bagi siswa tingkat akhir. Selama mengecam pendidikan, hanya dalam enam bulan ini dirinya merasa nyaman di sekolah. Sebelumnya hanya diisi dengan hinaan dan bulian dari teman-teman di sekolah lamanya.
"Rara..." sapa Mic yang entah datang dari mana. "Kau akan pulang?"
"Iya Mic." jawab Rara dengan senyum cerah seperti biasa. Dan senyum itulah yang paling Mic sukai.
"Ayo kuantar. Mobil jemputanmu belum datang bukan?" tawar Mic.
"Tidak perlu Mic. Sopirku sebentar lagi pasti datang." tolak Rara secara halus.
"Ayolah Rara. Sebentar lagi kita akan lulus, dan kita belum tentu akan bertemu sesering ini lagi. Biarkan aku mengantarmu." Mic masih belum menyerah. Tangannya menggenggam tangan Rara, berniat membawanya.
"Tapi Mic..." Ucapan Rara terhenti ketika sebuah mobil mewah berwarna hitam legam berhenti di depan mereka.
Jantung Rara berdetak dengan kencang, sebab dia tau dengan jelas siapa pemilik mobil ini. Kaca mobil terbuka, sosok pria berwajah rupawan menatap tajam keduanya. Maniknya menelisik bagai mata elang ke arah genggaman sepasang tangan yang tertaut dengan erat itu.

"Kak Bara..." cicit Rara yang jelas didengar oleh kedua pria tampan itu.
Tubuhnya menegang setelah tatapan tajam itu. Melihat itu, Rara teringat bagaimana dulu mata elang itu menatapnya. Sangat tajam dan mematikan. Rara baru menyadari tangannya berada dalam genggaman Mic. Dia melepas genggaman itu perlahan.
"Maaf Mic. Aku harus pulang." pamit Rara. Rara mengitari mobil dengan langkah ragu, kemudian duduk di sebelah Bara. Sebelum mobil melaju, Bara masih melayangkan tatapan membunuh pada Mic yang masih mematung.
__ADS_1
Setelah mobil itu melaju meninggalkannya, Mic menghela nafas resah. Baru saja, dirinya bisa merasakan dengan jelas tubuh Rara gemetaran begitu melihat kedatangan pria yang begitu terkenal di kota itu.
Sungguh Mic masih belum menemukan titik terang akan apa yang sudah terjadi pada sahabat perempuannya itu. Satu bulan lebih dia menyelidiki Rara menggunakan kekuasaan orang tuanya, namun hanya satu rahasia yang dia dapatkan. Yaitu bahwa Rara merupakan putri bungsu keluarga Pramana.
Begitu banyak pertanyaan timbul. Ingin sekali rasanya mempertanyakan pada Rara, tetapi dokter psikiater yang pernah memeriksa Rara, melarangnya. Pasalnya kesehatan psikis gadis itu sangat parah yang bisa menyebabkan delusi, atau bahkan bisa menyebabkan kehilangan kewarasannya, jika mendapat tekanan.
Dan Mic tidak mau hal itu terjadi. Dia tidak ingin gadis yang sudah menjadi ratu di hatinya menderita. Lebih baik dirinya mencari tau sendiri, dan suatu saat nanti dia akan membawa gadis itu pergi jauh dan menyembuhkan luka gadis itu.
***
Begitu masuk ke dalam mobil, suasana mencekam menyambutnya. "Kak Bara..." sapanya meski merasa ketakutan.
Namun Bara tidak menjawab, maniknya menatap lurus ke depan. Bahkan ketika mobil melaju pun, Bara hanya diam saja.
Di sampingnya jantung Rara bertalu-talu dengan begitu kencangnya. Satu minggu tidak bertegur sapa, membuatnya sedikit gugup dan canggung, apalagi mereka bertemu dalam suasana yang tidak tepat.
Sampai di rumah, Rara heran sebab Bara ikut turun dari mobil. Biasanya Bara hanya mengantarnya pulang, lalu kembali lagi bekerja. Rara berjalan, merasa tidak nyaman karena Bara mengikutinya dari belakang. Meski tidak melihat, dirinya bisa merasakan sorot mata tajam itu menatap punggungnya.
Begitu masuk ke dalam kamar, Bara mendudukkannya di atas sofa. Pria itu berjongkok di hadapannya, dengan kedua tangan diletakkan di atas pangkuan Rara.
Bara menundukkan kepalanya, dan terdengar beberapa kali helaan nafas darinya.
"Kakak sedang apa?" tanya Rara yang risih dengan tangan Bara di atas pahanya.
Saat itu juga, Bara mengangkat pandangannya. Kali ini bukan tatapan tajam penuh amarah, melainkan tatapan sendu yang menghanyutkan, membuat Rara tertegun seketika.
Tangan Bara terangkat membelai pipinya lembut. "Kenapa kau menghindariku?" tanya pria itu tanpa basa-basi.
Suaranya tercekat, tidak menyangka akan mendapat pertanyaan itu. Ternyata Bara menyadari bahwa dirinya sedang menghindar.
__ADS_1
"A...aku..." tidak tau mau menjawab apa.
"Apakah kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Bara dengan suara yang begitu lembut.
Rara langsung menggeleng cepat, "Tidak. Aku tidak menyembunyikan apapun."
Namun justru membuat Bara semakin curiga. Gadis itu tidak pandai berbohong.
"Kau berbohong." tuduh Bara. "Bukankah kita sudah berjanji untuk saling terbuka?" pria itu mengingatkan.
Tapi Kakak juga tidak jujur padaku... Batinnya.
"Ada apa Rara? Katakan padaku. Aku tidak akan marah jika kau jujur."
Namun Rara menggeleng dan memilih bungkam.
Sekali lagi Bara menghembuskan nafasnya resah.
"Apakah janji kita sebelumnya tidak ada artinya bagimu? Apakah semua itu hanya omong kosong saja? Apakah kau sudah melupakannya? Bicaralah Rara!" cecar pria itu tidak sabar.
"Mari hentikan semua ini Kak." akhirnya suara lembut Rara menyahut.
"Apa?"
"Aku lelah Kak. Aku ingin berhenti..."
"Apa maksudmu Rara!"
"Hentikan semua sandiwara ini Kak. Jangan bersikap manis lagi padaku. Aku lelah terus berpura-pura bahagia di depanmu. Lebih baik hentikan saja, agar kita berdua tidak saling menyakiti...."
__ADS_1
Tangis gadis itu pecah, menggelegar di dalam kamar itu. Luruh sudah beban yang dipikulnya selama ini.