Gadis Lugu Milik Bara

Gadis Lugu Milik Bara
Kencan (Part 3)


__ADS_3

Kencan hari ini belum berakhir, Bara masih memiliki banyak list yang akan dia lakukan bersama Rara hari ini. Bara membawa Rara menonton film di bioskop yang ada di mall itu, setelah mereka menghabiskan ice creamnya.


Wajah Rara masih bersemu akibat perkataan absurd pria itu baru saja. Memiliki anak? Yang benar saja, dia masih terlalu kecil untuk hal semacam itu. Bahkan dirinya masih pantas disebut sebagai anak-anak.


Begitu mereka sampai, filmnya akan dimulai. Sepertinya Bara sudah merencanakan hal ini, karena mereka tidak perlu lagi harus mengantri membeli tiket.


Rara tidak banyak bertanya mengenai film yang akan mereka tonton nanti, karena sebentar lagi juga mereka akan tau.


Bara membawa Rara duduk di tempat paling pojok di belakang. Satu barisan mereka dan dua baris di depan mereka kosong. Rara pikir pemilik kursi itu belum datang, tapi sampai film sudah mulai pun, tidak ada yang menduduki kursi itu.


"Kak, kenapa barisan kita dan di depan kosong?" tanya Rara akhirnya.


"Aku sudah membeli tiket untuk tiga baris kursi ini." jawabnya santai.


"Apa? Kak...?" meminta penjelasan.


"Sebenarnya tadi aku ingin menyewa satu bioskop ini, tapi aku pikir kencan kita tidak akan seru jika seperti itu. Lebih baik seperti ini, tidak akan ada yang mengganggu kita."


"Kak..." Rara sungguh tidak percaya. Lagipula kenapa penonton lain harus mengganggunya jika duduk di dekat mereka? Lelaki aneh.


"Sudah, diam saja. Filmnya akan segera dimulai." ucap Bara yang sudah fokus pada layar tancap yang sepertinya menayangkan film horor.


Rara membulatkan matanya. Dia tidak tau Bara memilih film horor. Padahal Rara sangat takut menonton film bergenre horor.

__ADS_1


"Kak kenapa tidak bilang kau memilih film horor?" protes Rara yang sudah mulai ketakutan dengan suara-suara mengerikan dari film.


"Memangnya kenapa. Kau takut?" Rara mengangguk. "Maaf, aku tidak tau. Tapi tidak usah takut, aku ada di sini." Bara menenangkan, tapi itu tidak akan berpengaruh apa-apa pada Rara.


Sebab gadis itu benar-benar takut dan trauma akan kenangan masa lalunya. Dulu Dena dan Safira pernah mengurungnya di dalam sebuah gudang gelap, dan menakut-nakuti dirinya. Oleh karena itu Rara menjadi takut gelap dan semua makhluk yang ada di dalamnya.


Film sudah mulai dan makhluk-makhluk mengerikan sudah bermunculan. Rara memejamkan matanya erat dan menutup kedua telinganya. Film horor kali ini berasal dari Indonesia yang terkenal dengan betapa seram dan mistisnya hantu-hantu dari negara tersebut. Bahkan hanya dengan suara saja, bisa membuat seseorang ketakutan.


"Kak...." Rara tidak tahan berada di sini. Apalagi di sebelahnya kosong membuat ketakutannya semakin bertambah.


Bara melihat Rara heran, begitu takutkah gadis ini dengan film horor?


"Rara jangan takut. Aku ada di sini...."


Tanpa Rara sangka, tubuh mungilnya terangkat dengan mudahnya dan berpindah ke atas pangkuan Bara.


Rara yang benar-benar ketakutan, langsung menelusupkan kepalanya ke dalam pelukan pria itu. Mendekap erat dan sesekali gemetar ketika mendengar nyanyian menyeramkan seorang wanita, meski sudah menutup kupingnya erat.


Tetapi, beberapa saat kemudian, suara-suara itu berganti dengan suara musik dari earphone yang tiba-tiba menempel di kedua telinganya. Suara-suara mengerikan itu tidak terdengar lagi, membuat Rara menjadi tenang.


Rara menegakkan kepalanya, melihat Bara yang fokus pada film. Kedua tangannya tersampir di atas dada Bara dan tubuhnya berada di atas pangkuannya. Tubuhnya yang begitu mungil membuatnya lebih mudah diangkat oleh Bara yang bertubuh besar.


Rara seolah tidak bosan memandangi Bara, apalagi ketika lagu melo mendayu-dayu di telinganya membuatnya terhanyut dalam lamunannya.

__ADS_1


Merasa diperhatikan, Bara mengalihkan pandangannya pada Rara yang masih setia memandanginya.


Jarak wajah mereka sangat dekat, membuat keduanya bisa saling merasakan nafasnya masing-masing.


Rara seolah terhipnotis dengan tatapan itu. Tatapan yang dulu selalu menatapnya tajam, kini terlihat lembut dan sendu. Rara bahkan tidak menjauh ketika wajah itu semakin dekat. Bara menatap bibir ranum yang selalu memanggilnya dengan panggilan Kakak.


Dalam hitungan detik, bibir itu tenggelam dalam kelembutan bibirnya. Melum*tnya dan memberikan cecapan perlahan di bibir itu. Rara tidak menolak maupun membalas ciuman itu. Dia hanya terpaku dan terkejut bersamaan dengan jantungnya yang berdebar kencang.


Karena merasakan tidak ada penolakan dari Rara, Bara memperdalam ciumannya, yang semakin lama membuat Rara gelisah karena tergoda akan ciuman pria itu. Tanpa sadar tangannya memeluk leher Bara.


Rara ingin membalas ciuman itu, namun dia tidak bisa sebab tidak memiliki pengalaman berciuman sama sekali. Tapi akhirnya, dengan gamang, gadis itu mulai membalas setiap ******* Bara di lidahnya.


Bara tersenyum disela ciumannya. Ketika merasakan kegamangan dalam ciuman itu. Tangannya langsung menarik tengkuk Rara, seolah ingin menenggelamkan gadis itu dalam ciumannya.


Keduanya melakukan aktivitas panasnya tanpa peduli dengan penonton di dalam ruangan gelap itu. Rara yang sudah terhipnotis benar-benar menikmati ciuman ini. Perlakuan Bara yang begitu manis akhir-akhir ini, membuatnya tidak dapat menolak ciuman ini.


Bara baru melepaskan pertautan lidah mereka, saat merasakan Rara kehabisan oksigennya. Nafas keduanya terengah, tetapi kening mereka masih bersatu, saling menatap binar manik masing-masing.


Bara menipiskan bibirnya, ketika menyadari apa yang telah mereka lakukan baru saja. Sedangkan Rara, wajahnya memerah, bahkan lebih sangat panas.


Karena sangat malu, Rara menenggelamkan kepalanya ke dalam dekapan pria itu. Dia sangat malu...


Bara membalas pelukan itu, dan membiarkan gadis itu menghilangkan rasa malunya dalam dekapannya.

__ADS_1


Entah karena terlalu nyaman atau apa, Rara malah terlelap. Memasrahkan dirinya tanpa kesadaran dalam pelukan Bara.


__ADS_2