![Gadis Mafia [Masa Perbaikan]](https://asset.asean.biz.id/gadis-mafia--masa-perbaikan-.webp)
Pria itu langsung menyerang gadis yang berjaket hitam itu dengan senjata tajam nya. Elda dapat menghindar dari serangan pria tersebut dengan sekali gerakan saja.
"Bu! pergilah dari sini!!" pinta Elda sambil beteriak kepada wanita yang sedang bergetaran. Wanita itu hanya mengangguk, lalu pergi dari tempat itu.
'Sial!!' batin Pria tersebut dengan mendengus kesal. Dan ia kembali menyerang Elda dengan senjata tajamnya sambil melayangkan pisau itu ke arahnya.
Elda mengeluarkan pistol dari kantongnya yang hendak menembaknya. Tapi, pria itu berhasil menghalang pistol gadis dingin itu. Kemudian pria tersebut mendorong Elda, sehingga pistolnya terlempar dan pisaunya berhasil menggores pipi mulus Elda sakit? Tidak, gadis dingin itu tidak merasakan apapun, hingga cairan merah keluar dari pipinya.
Pisau itu pun berpindah tangan ke tangan Elda. Kemudian ia menusuk bagian perut orang yang berada di hadapannya. Pria tersebut tergeletak di tanah dan masih sanggup bicara pada gadis yang sedang memegang pisaunya tadi.
"Sebenarnya, siapa kau?!" tanya pria tersebut dengan nada bentak dan masih tergeletak di tanah. Tapi, masih bicara berbicara sama gadis yang melemparkan pisau pria tersebut ke segala arah, kemudian ia mengambil pistolnya yang terlempar tadi.
Setelah mengambil pistolnya yang berada di tanah. Ia mulai menghampiri pria tersebut, lalu berjongkok menarik kerah bajunya. Elda mendekati telinga pria itu dengan pelan-pelan.
"Kau mau tau siapa aku?" tanya Elda berbisik di telinga pria yang berada di hadapannya. Dan membuat pria itu hanya terdiam membeku kaku.
"Sekarang aku akan mengatakan siapa diriku yang sebenarnya," lanjutnya mulai memelankan bisikannya lagi.
"Aku adalah gadis yang selalu mencari mangsa yang cocok untuk melampiaskan amarahku. Dan aku adalah gadis yang sudah bermain-main dengan mangsanya, seperti kau .... " jelas Elda di telinga dan orang itu hanya menelen salivanya dengan susah payah sambil mengeluarkan keringat yang sudah bercucuran kemana-mana.
"A–aku tidak takut sama kamu, sama sekali!!" pria itu tidak percaya dengan kata-kata Elda tadi, membuat gadis itu muak melihat mukannya.
"Oh, ya. Kalau begitu ...." ucapannya terhenti sejenak, ia melepaskan kerah baju pria itu kemudian berdiri menghadap pria itu. Gadis yang berwajah datar itu mengarahkan pistolnya kepada pria tersebut.
Ia menyampingkan badannya, kemudian gadis itu menatap pria itu dengan ekor matanya, "Selamat tinggal!!!" lanjutnya melepaskan peluru yang berada di pistol itu.
__ADS_1
Dor!
Dor!
Dor!
Pria itu menerima tembakan dari Elda, membuatnya tergeletak di tanah dengan keadaan yang mengenaskan. Elda pun menelepon bodyguardnya untuk membereskan mayat pria itu dengan segera.
"Tolong bantu aku di sini," pinta Elda kepada bodyguardnya melalui via telepon.
"Baik nona, Kami akan segera kesana." balas bodyguard tersebut paham kemudian menutup teleponnya dengan segera.
Beberapa menit kemudian bodyguard pun datang dan membawa mayat pria itu. Elda belum sadar bahwa di pipi ya masih mengeluarkan darah hingga Arga memberitahuinya.
"Maaf nona, ada luka di pipi anda," kata Arga menunjuk pipi Elda yang sedang meneteskan darah.
"Perlukah aku belikan plester, nona?" tanya Arga gadis itu dengan menatap gadis itu dengan khawatir.
"Gak perlu. Biar aku obatin sendiri nanti dirumah," tolak gadis dingin itu lembut kemudian pergi meninggalkan para bodyguardnya.
"Baiklah, hati-hati di jalan nona," seru Arga tersenyum dengan membungkukan tubuhnya.
"Iya, makasih," balas Elda pergi meninggalkan tempat yang tadi dan melangkah menjauh dari lokasi.
Pukul 22.00.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Elda langsung menuju ke kamarnya dan menganti pakaiannya, kemudian mengobati luka yang ada di pipinya tersebut.
"Aws ...," ringis gadis itu kesakitan mengobati pipinya yang luka dengan plester.
"Elda, kamu ada di kamar?" tanya Gale mengetuk pintu kamar adiknya itu dengan sangat pelan-pelan.
"Ada apa?" balas Elda dengan teriakan nya membuatnya kesal, karena kakaknya itu selalu saja membuatnya kesal.
"Sana tidur. Udah jam 10 malam nih, nanti kamu terlambat bangun ke sekolah," pinta Gale yang berada di depan pintu kamar adiknya itu.
"Iya bawel ...!" ketus Elda kesal dan melempar dirinya di ranjang, kemudian ia memperbaiki posisinya untuk tidur. Gadis itu pun tertidur.
Pukul 06.00
Suara alarm yang begitu nyaring membuat Elda terbangun. Kemudian meranjak ke kamar mandi kemudian ia turun ke lantai bawah untuk sarapan pagi.
Sesampainya di sekolah Amora menghampiri Elda. "Selamat pagi, Elda!" ucapan hangat dari Amora yang mengos-ngosan.
"Pagi juga, Amora." balas Elda menoleh ke arah Amora yang sedang mengatur napasnya akibat berlari mengejarnya.
"Ayo, kita ke kelas bersama," bujuk Amora tersenyum kepada gadis yang berada di sampingnya.
"Ayo." balas Elda tersenyum kecil.
____________
__ADS_1
#TBC