![Gadis Mafia [Masa Perbaikan]](https://asset.asean.biz.id/gadis-mafia--masa-perbaikan-.webp)
Zelda hanya mengepalkan kedua tangannya, Ara hanya menahan gadis bermata sipit itu agar tidak menyusul mereka. Mereka bertiga sedang berjalan di koridor yang ingin menuju ke kantin, tetapi seorang guru memanggil gadis dingin itu.
"Elda Celeste?" panggil Ibu guru, gadis dingin itu pun menoleh ke arah sumber suara.
"Iya, bu. Ada apa?" tanya Elda memberhentikan langkahnya kemudian ia menghampiri guru tersebut.
"Tolong panggil Aiden, kita akan mulai diskusi tentang perkemahan minggu depan," katanya sembari tersenyum kepada gadis dingin itu.
"Oh, baik bu," guru itu pun masuk kembali ke dalam ruangannya tersebut. Elda pun kembali kepada kedua orang tersebut.
"Kalian duluan saja, nanti aku akan nyusul."
"Kami duluan, yah," Amora dan Adrian pun pergi meninggalkan gadis dingin itu di koridor tadi, Elda melihat mereka sudah akrab, padahal mereka baru saja kenalan.
Gadis dingin itu pun mencari lelaki jangkung itu ke sana ke sini, tapi hasilnya tidak menguntungkan atau bisa di bilang belum ketemu sama sekali.
'Musang itu kemana, sih?' batin gadis dingin itu sembari menelusuri semua wilayah gedung sekolah itu.
***
Sela beberapa menit ia mencari, gadis dingin itu pun melihat musang itu di halaman sekolah bersama teman-teman bobroknya.
"Woi, musang. Sini kamu!" teriak Elda sambil melihat Aiden sedang bermain basket bersama rekan-rekannya.
Salah satu dari mereka menoleh ke arah sumber suara. "Dia?" tanya Ansel menunjuk leadernya.
"Hmm ...," jawabnya sambil mengangguk dari jarak jauh.
"Aiden, kayaknya kamu di panggil musang sama gadis beku itu," kata Jack menunjuk gadis dingin itu.
Lelaki jangkung itu hanya mendengus kasar, ia pun menghampiri gadis yang memanggilnya itu. "Ada apa?" tanya Aiden memasukan tangannya ke saku celananya.
"Kita di panggil sama ibu Rina," jawab gadis dingin itu menatap datar musang itu.
__ADS_1
"Untuk?" tanyanya memiringkan kepalanya ke samping sambil menaikan alisnya sebelah.
"Argh ... sini ikut aku saja, jangan banyak ocehan," kata Elda menarik telinga lelaki jangkung itu.
"Ah, sakit. Lepasin enggak!" pinta Aiden.
"Tidak," satu kata keluar dari mulut gadis dingin itu membuat Aiden kesal plus ingin mencabit-cabit mangsanya tepat di deoan matanya..
***
Elda menarik lelaki jangkung itu sampai di koridor ruang guru, ia pun melepaskan jeweran tersebut dari telinga busuk lelaki itu.
"Ayo, kita masuk," kata gadis dingin itu dan Aiden hanya menganggukan kepalanya dengan atusias.
"Aiden, sudah ada, bu," kata Elda tersenyum sambil berdiri di samping lelaki jangkung itu. "Apa kamu sengaja bawa aku kesini, supaya aku di hukum," guman lelaki jangkung itu.
TAP!
"Shh ... sakit, tau," ringis Aiden memegang kakinya yang telah di injak oleh gadis dingin itu, ia hanya menatap Elda lewat ekor matanya.
Beberapa menit mereka pun selesai berdiskusi tentang persiapan kemah nanti, mereka berdua menuju ke kelas, untuk pelajaran selanjutnya. semua siswa sudah duduk di kursinya masing-masing.
"Kita akan menyampaikan keperluan yang akan di bawa untuk perkemahan besok lusa," kata Elda yang sedang berdiri di depan kelas.
"Silakan Aiden, bacakan apa yang harus di bawa untuk perkemahan nanti," lanjutnya menoleh ke arah lelaki jangkung tersebut.
"Kok aku, sih?" tanya Aiden suara pelan.
"Enggak usah banyak bacot," jawab hmgadis dingin itu bersuara pelan sambil mencubit tangan Aiden.
"Aww ... sakit, tau."
"Makanya, cepat bicara!"
__ADS_1
"Ehem, yang akan di perlukan untuk kemah nanti adalah ...." Aiden menjelaskan apa yang akan dibawa untuk perkemahan besok lusa.
"Terima kasih atas perhatiannya, silakan keluar," kata gadis dingin itu sembari menoleh kanan kiri.
Semua murid pun keluar dari kelas, gadis dingin itu juga ingin keluar, tapi tangannya tiba-tiba di tarik oleh lelaki jangkung itu.
"Jangan keluar dulu," ujarnya.
"Ada apa? Kalau macam-macam, aku bunuh kamu," balas gadis dingin itu menepiskan tangan musang itu.
'Ini cewek sadis banget, dingin pula,' batin Aiden menyipitkan matanya.
"Tadi kamu, ngapain manggil aku musang, di depan teman-temanku?" tanya Aiden mendekatkan dirinya ke gadia dingin itu.
"Yah, suka-suka aku lah. Aku mau manggil kamu siapa, monyet kek, musang kek," jawabnya dingin.
"Oh, jadi itu julukan aku sekarang?" tanyanya lagi, menyilangkan kedua tangannya di dada, sambil menatap sinis gadis yang berada di hadapannya itu.
"Hmm ...," balasnya singkat dan dingin.
Lelaki jangkung itu mengepalkan tangannya. "Dasar gadis beku–" Aiden ingin membogem gadis dingin itu, tapi Elda langsung mengeluarkan pisau lipat dari kantong bajunya dan mengarahkan ke leher musang, tak lupa ia menarik dasi Aiden.
"Kamu mau mati sekarang?" tanya Elda masih mengarahkan pisau tersebut tepat di leher Aiden.
'Sial,' umpatnya membantin.
Kemudian gadis dingin itu menarik kembali pisaunya kembali ke kantong bajunya, ia pun pergi meninggalkan lelaki jangkung itu.
Aiden pun merapikan dasinya, dia pun hanya mengamati punggung gadis dingin itu yang hilang di telan tembok. 'Gadis beku,' batinnya kesal.
***
Pulang sekolah, gadis dingin itu menaiki motor nya, di tengah perjalanan pulang, ia melihat seorang perempuan yang mirip dengan baju seragamnya dan di serang oleh geng jalanan. Elda pun berhentikan motornya dan menuju ke geng tersebut.
__ADS_1
***