![Gadis Mafia [Masa Perbaikan]](https://asset.asean.biz.id/gadis-mafia--masa-perbaikan-.webp)
Gadis dingin itu, ingin pergi meninggalkan lelaki jangkung itu. Tapi tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang.
Elda di tarik paksa oleh Aiden hingga mendorongnya sampai punggung gadis dingin itu terbentur di tembok.
Lelaki itu mengunci pergerakan gadis dingin itu. "Hei, menyingkirlah dari hadapanku!" Elda membentak lelaki jangkung yang berada di hadapannya itu.
Aiden hanya memperlihatkan smirknya. "Kalau aku tidak mau, hmm?" lelaki itu mengangkat dagu gadis dingin itu.
Urat-urat dahi gadis dingin itu mulai naik ke permukaan. 'Cih, musang ini benar-benar tidak mau menyingkir, yah?' batinnya tersenyum miring.
"Aku bilang menyingkirlah! Atau ...."
"Atau ap—"
Ucapan lelaki jangkung itu terhenti karena Elda tiba-tiba menendang kaki Aiden dengan keras, membuat lelaki itu tersungkur di lantai.
"Makanya, jangan pernah menghalangiku lagi," ucapnya dingin, kemudian pergi meninggalkan lelaki itu dengan keadaan tersungkur di lantai sambil memegang kakinya.
'Sial,' Aiden berusaha untuk berdiri dari posisinya yang tadi itu.
***
"Hei, Elda," sapa Amora dari belakang gadis dingin itu.
"Ada apa, Amora?" tanya gadis dingin itu menoleh ke arah Amora yang sedang memegang baju olahraganya.
"Kamu, mau kemana?"
"Ruang ganti."
"Ya, udah. Kita ke ruang ganti untuk mata pelajaran olahraga."
"Hmm ...." Gadis dingin itu hanya mendehem.
Sesampainya di ruang ganti, Elda dan Amora langsung menganti pakaiannya menjadi pakaian olahraga. Setelah sampai di lapangan mereka melakukan pemanasan untuk bermain volly ball.
***
Setegah jam kemudian, mata pelajaran olahraga sudah selesai. Gadis dingin itu dan Amora pergi ke toilet untuk membasuh tangan mereka.
'Aura ini ...?' batin gadis dingin itu merasakan sesuatu yang merupakan aura yang dingin dan seram.
__ADS_1
"Amora, aku ingin memperlihatkan sesuatu."
Amora hanya megernyitkan dahinya. "Apa?" tanyanya sambil memiringkan kepalanya dan menatap gadis dingin itu.
"Tapi kamu harus berjanji, kamu jangan kaget, takut, dan pingsan."
"Iya, aku janji," balas Amora mengangkat satu tangannya menghadap ke gadis dingin itu.
"Tutup matamu, dulu."
"Baik," Amora menutup matanya menggunakan kedua telapak tangannya kemudian mengangguk kepada Elda.
"Sena, sena, sini ...," Elda memanggil sahabatnya itu dengan suara pelan supaya Amora tidak mendengarnya.
"Ada apa?" tanya Sena menghampiri sahabatnya itu yang tengah-tengah bersuara pelan itu.
"Aku mau ngenalin dia sama kamu," jawab Elda menunjuk Amora yang sedang menutup matanya.
"Tapi kalau dia takut sama aku, gimana?" tanya Sena menatap Elda yang sudah bersedia untuk mengenalkan mereka berdua.
"Aku sudah ngasih tau dia, supaya dia jangan kaget, takut, atauapun pingsan," Sena pun menganggukan kepalanya karena telah mendengar ucapan sahabatnya itu. Karena dia percaya kepada Elda.
Amora membuka matanya. "Hah? siapa dia, Elda?" tanyanya melebarkan matanya sambil menunjuk hantu cantik itu.
"Dia ...." Ucapan gadis dingin itu terhenti di tengah kalimat karena sahabatnya langsung menyelah ucapannya itu.
"Aku sahabatnya Elda. Nama aku Sena Clementine, aku ini sebenarnya hantu yang berwujud manusia. Tapi jangan takut, yah. Aku nggak nyakiti orang kok," jelas Sena mengulurkan tangannya.
"I–iya, aku Amora Wilhelmina," Amora membalas uluran tangan Sena.
"Eh? Kok bisa di sentuh?" lanjutnya bertanya.
"Siapa saja yang bisa melihatku, pasti dia bisa menyentuhku juga atau aku tidak akan tembus ketika di sentuh," jawab Sena tersenyum kecil.
"Oh. Kalau boleh tau ... kenapa kamu bisa bersahabat dengan Elda? Padahal kamu itu sudah tiada di dunia ini," tanya Amora sambil menatap hantu cantik itu.
"Panjang ceritanya," kata Elda menatap Amora dengan ekor matanya.
"Pendekan."
"Nggak bisa!"
__ADS_1
"Sudah, nanti aku ceritain," kata Sena menatap kedua orang tersebut.
"Baiklah," balas Amora menganggikan kepalanya kepada hantu cantik itu.
***
Di tempat lain, Aiden sedang jalan-jalan di koridor sekolah sambil memasukan kedua tanganya di saku celananya.
BRUK!
Aiden mendengar suara orang yang tersungkur di lantai, ia pun menghentikan lankahanya. "Hei! Kamu itu buta atau gimana? Kamu, 'kan bisa melihat di depan ada orang! Kenapa malah main tabrak aja?!"
Suara itu membuat Aiden menghampiri sumber suara tersebut. Ia sebenarnya mengenali suara itu yang merupakan suara---pacarnya.
Aiden pun sampai di tempat dimana dia mendengar suara itu. "Maaf, aku gak sengaja," katanya tidak berani menatap gadis yang sedang membentaknya itu.
"Maaf katamu?!" Zelda menarik kerah baju siswa itu yang merupakan adik kelas yang culun dan pendiam.
PLAK!
Gadis bermata sipit itu, menampar adik kelasnya tersebut hingga sudut bibirnya lecet akibat tamparan yang di berikan oleh Zelda.
"Zelda, hentikan!!" teriakan itu bergema di lorong tersebut membuat ketiga orang itu menoleh ke sumber teriakan itu.
"Siapa, sih–?" Zelda hanya membulatkan matanya karena melihat seorang lelaki yang ia kenali. "A–aiden?"
"Apa yang kau lakukan, hah?!" lelaki jangkung itu menghampiri Zelda dan adik kelas laki-laki tersebut.
Zelda melonggarkan tarikannya. "A–aku. Dia yang nabrak aku duluan, Aiden," gadis bermata sipit itu menunjuk adik kelasnya tersebut.
"Aku sangat kecewa denganmu, jadi selama ini sikap kamu yang sebenarnya adalah suka menindas orang lain. Aku kira kamu tuh, cewek yang baik, tapi nyatanya ...."
"Aiden, dengerin aku dulu, kamu gak marah, 'kan?" gadis bermata sipit itu menangkap lengan lelaki itu dan berusaha membujuk Aiden supaya ia tidak marah kepadanya.
"Aku tidak marah," lelaki jangkung itu berucap sambil menundukan kepalanya. Zelda pun bersorak gembira.
"Aku cuman mau kita putus, sekarang!!" Aiden menepiskan tangan gadis bermata sipit itu dengan kasar kemudian lelaki jangkun itu pergi menghampiri adik kelasnya tersebut, lalu mengantarnya ke UKS.
"Aiden! Aiden! Dengarkan aku dulu! Aiden!" Zelda mencoba berteriak sekeras mungkin agar lelaki jangkung itu mendengarkannya.
Aku enggak akan menyerah, buat dapatin kamu kembail Aiden. Aku sudah terlalu cinta sama kamu," batin Zelda.
__ADS_1