![Gadis Mafia [Masa Perbaikan]](https://asset.asean.biz.id/gadis-mafia--masa-perbaikan-.webp)
"Sudah, sana. Nanti kamu ketinggalan bus," kata Gale membalikan badan gadis dingin itu dengan senyumnya dan mendorong Elda hingga hampir jatuh ke tanah, Kemudian lelaki itu langsung naik ke bus setelah mendorong Elda.
"Eh? Dasar kakak menyebalkan, hampir aja aku jatuh cium tanah air, dan bibirku hampir saja ternodai," gerutu Elda menyeimbangkan tubuh nya yang hampir jatuh ke tanah. gadis dingin itu pun berhasil berdiri tegak kemudian ia menuju ke teman-teman sekelasnya untuk mengabsen mereka.
"Oke aku akan mengabsen kalian," kata gadis dingin itu dengan sambil memegang selembaran kertas yang berisi nama-nama para murid kelasnya.
"Baik!" sahut mereka semua, gadis dingin itu pun mengabsen mereka semua satu persatu dan tiba di akhir absen yang bernama gadis bermata sipit itu.
"Zelda!" panggil gadis dingin itu memanggil namanya beberapa kali tetapi Zelda hanya diam aja melipatkan kedua tangannya di dadanya dan dia tidak menghiraukan gadis dingin itu.
"Woi, cewek tuli! Apa kamu dengar aku manggil nama kamu beberapa kali dari tadi, hah?!" gertak gadis dingin itu dengan emosi, ia pun menghampiri Zelda.
"Biar aku yang isi nama absen aku sendiri," kata Zelda santai sambil mengambil kertas Absen dari tangan gadis dingin itu dan mengambil pensilnya juga, dia menceklis namanya dan mengembalikan absen tersebut pada Elda kemudian gadis bermata sipit itu masuk ke bus duluan.
'Dasar mak lampir! Awas saja kau!' batin gadis dingin itu mematahkan pensil yang ia pegang menjadi dua dengan satu tangannya.
Semua siswa-siswi kaget melihat gadis dingin itu mematahkan pensil tersebut, gadis itu pun menyuruh mereka masuk ke bus secara disiplin dan beraturan.
"Kalian masuk ke bus dengan teratur, yah. Jangan seperti dia tidak patut untuk di contoh," kata gadis dingin itu tersenyum paksa kepada teman-teman sekelasnya itu.
__ADS_1
"B--baik"
"Elda, aku masuk, yah. Jangan marah-marah nanti cepat tua," ejek Amora melambaikan tangan pada gadis dingin itu.
Gadis dingin itu menundukkan kepalanya. "Kamu mau mati atau mau singgah dulu ke rumah sakit?" tanya Elda dengan nada seram membuat Amora menelan salivanya dengan kasar.
"Err ... a--aku ma--ma--masuk dulu, yah?" Amora langsung masuk ke dalam bus untuk menghindari amukkan gadis dingin itu, Elda hanya memegang kepalanya yang terasa sakit itu.
***
Mereka pun dalam perjalanan ke tempat tujuan. Gadis dingin itu duduk di dekat jendela sambil mendengarkan musik dari headset warna kuningnya dan dia duduk di sebelah dengan Adrian.
'Akhirnya aku bisa duduk bareng sama calon pacarku,' batin Adrian bersorak dalam hatinya sambil senyam-senyum sendiri ke arah gadis dingin itu.
Sedangkan Aiden duduk bersama gadis bermata sipit itu yaitu mantan kekasihnya, Aiden melihat gadis dingin itu dan Adrian dengan tatapan tidak menyenangkan.
'Kenapa tuh, bocah duduk dekat---Eh, tapi ngapain juga aku duduk sama gadis beku itu? Mending aku duduk sama Deven daripada cewek sebel ini!' gerutu lelaki jangkung tersebut.
Amora duduk sendirian di belakang gadis dingin itu. Beberapa jam jalan yang dilewati akhirnya mereka semua sampai di tempat tujuan yaitu hutan, semua siswa-siswi turun dari bus dengan berombongan, seseorang perempuan yang menghampiri gadis dingin itu.
__ADS_1
"Elda!" teriaknya sambil berlari ke arah gadis dingin itu.
"Hai, Kaila. Ada apa?" tanya Elda menyapa kembali perempuan tersebut dengan lembut, ia pun menatap gadis itu dengan tengah memegang lututnya akibat berlari.
"Aku mau berterima kasih, sudah menyelamatin aku waktu itu," kata Kaila sambil tersenyum dan memegang kedua tangannya.
"Oh, kirain apa. Iya sama-sama."
"Kalau begitu aku pergi dulu, yah."
Gadis dingin itu hanya melihat Kaila pergi dan kembali bersama teman sekelasnya. Sesampainya di sana guru membagi kelompok untuk menjelajah hutan besok.
"Oke ibu akan membagi kelompok, yah!"
Beberapa menit kemudian ibu guru sudah membagi masing-masing kelompok, Amora tidak sekelompok dengan gadis dingin itu, melainkan dengan orang lain. Sedangkan gadis dingin itu sekelompok dengan kedua orang menyebalkan itu.
'Hah? Kenapa aku sekelompok sama musang dan wanita mak lampir ini, sih?' batin gadis dingin itu sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
'Aku maunya sekelompok bersama sahabat-sahabat bobrok aku,' gerutu lelaki jangking itu sambil bertampang murung.
__ADS_1
"Yey! Aku sekelompok dengan Aiden!" sorak gadis bermata sipit itu sambil memeluk tubuh jangkung milik Aiden itu.
***