Gadis Mafia [Masa Perbaikan]

Gadis Mafia [Masa Perbaikan]
BAB 27


__ADS_3

Malam harinya Elda sedang duduk di tepi king-sizenya, ia mengamati foto-foto mereka bertiga yang berada di galeri ponselnya itu.


Gadis dingin ini melihat foto tersebut yang berada di pahanya, dia melihat fotonya bersama dengan Sena saat taman bermain tadi yang sedang memakai bando lucu. Amora memotret mereka berdua. Hatinya merasa lega, karena dia bisa ke taman bermain bersama sahabatnya itu.


Kalau orang melihat foto ini, mereka akan menganggap Elda sedang berfoto sendirian, padahal Sena berada di sampingnya itu. Cuman orang tertentu yang bisa melihat Sena yang berada di dalam foto tersebut.


Tanpa di sadari, gadis dingin ini menangis sambil menatap layar ponselnya yang telah terkena oleh air matanya sendiri, yang terdapat fotonya dan juga Sena. Tangannya bergetar saat melihat senyum Sena yang begitu bahagia.


"Seandainya kamu masih ada di dunia ini, aku akan membawamu pergi ke taman bermain itu selalu, bahkan berhari-hari pun jika perlu. T–tapi ...."


"Akhhh ... sakit," ucapnya terhenti karena ia langsung memegang dadanya yang terasa sesak itu. Ia segera mengambil sebuah pil yang berada di lacinya itu.


Yaps, obat itu adalah obat penenang khusus buat gadis dingin itu, ia di berikan oleh dokter kenalannya. Tapi keluarga atau pun sahabatnya tidak mengetahui tentang obat penenang itu.


Semejak sahabatnya itu meninggal, ia hanya merasakan sakit atau sesak di dadanya itu. Ia pun memutuskan untuk menemukan obat penenang. Dokter yang memberikan obat tersebut berkata 'Jika kamu belum bisa mengontrol rasa sakitmu di dalam hatimu itu, sakit yang begitu sesak di dadamu tidak akan pernah berhenti. Ataupun kamu juga akan–mati.'


Gadis dingin itu mendengarkan peringatan tersebut, tapi dia hanya mengabaikan peringatan itu. Jika dia mati, dia akan menyusul sahabatnya itu.


Setelah ia memakan pil tersebut, Elda menarik nafas panjang, kemudian ia harus bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.


"Ehem ... obat-ku sudah mulai habis, aku akan meminta lagi sama Arka," ucap gadis dingin itu menyimpan kembali pil tersebut kembali ke lacinya.


"Dan untuk sahabatku, aku akan membalas dendamkan tentang kematianmu itu. Aku sendiri akan menyelidiki tentang kasus ini. Akan ku bunuh mereka dengan tanganku sendiri."


Elda mulai beranjak dari duduknya, kemudian ia pergi ke lemarinya untuk memilih pakainannya yang akan di pakenya malam ini.


Setelah memakai jaket hitam, masker hitam, sepatu juga hitam, dan rambut tidak di ikat. Ia membiarkan rambutnya untuk terurai panjang.


"Mari kita memulai misi ini sekarang," ucapnya keluar dari kamarnya, tak lupa dia menelepon Arga untuk menemaninya untuk menyelidiki tentang identitas pembunuh itu.


Pukul 20.00, di situlah Elda keluar malam ini. Dia menyuruh Arga untuk menemaninya membeli obat kepada dokter Arka. Yah ... bisa di bilang, kalau cuman bodyguard pribadinya saja yang tau kalau gadis dingin ini memakai obat penenang.


***


Keesokan paginya, gadis dingin itu bangun dan rambutnya masih berantakan, suara alarm berbunyi tepat di sampingnya itu, ia melihat jam tersebut yang sudah menunjukan pukul 07.00 pagi.


"Hah, gawat. Lima belas menit lagi, pelajaran pertama akan di mulai. Huwaa ...!" teriak gadis dingin itu langsung terjang dari king-sizenya, ia langsung melayang ke kamar mandi. Setelah ia selesai dengan ritual mandinya, seragam sudah di kenakan dia langsung buru-buru turun ke lantai bawah.


DUAK!


"Arrgghhh ... pintu bodoh," gadis dingin itu lupa membuka pintu kamarnya dan ia pun kejeduk di pintu tersebut.


Elda pun menurunin anak tangga dengan cepat. "Harus cepat, harus cepat," dia menuruni anak tangga dengan kaos kaki putihnya.


"Eh ...?" akibat salah langkah, gadis dingin itu terpeleset dari anak tangga tersebut, dia, sih ... suruh siapa terlambat? Jadinya gini, deh.


BUK!


"Aw ...," ringis gadis dingin itu yang sudah sampai di anak tangga terakhir dengan posisi terbalik. Maid yang mendengar suara keributan langsung menghampiri nona rumah itu.


"N–nona! Anda tidak apa-apa?" tanyanya sambil menutup mulutnya dan menatap gadis dingin itu yang sudah tersungkur terbalik.


Elda hanya menyipitkan matanya. 'Ah ... tangga bodoh,' batinnya memperbaiki posisinya semula dan membersihkan debu yang menempel di pakaiannya.


"Aku tidak papa, bi."


Elda langsung berlari menuju pintu utama, tak lupa ia memakai sepatunya terburu-buru. "Non, sarapan dulu," ucap maid tersebut.


"Aku, sarapannya di sekolah saja, bi."


Sesampainya di pakiran, ia langsung menaiki, kemudian melajukannya dengan cepat. Tidak lupa dia juga memakai helm.


Gadis dingin ini sudah sampai di sekolah, ia memakirkan motornya di pakiran sekolah. Elda sedikit merasa kesal.


DUK!


"Motor bodoh dan lambat," gadis dingin ini menendang motornya itu, kemudian dia langsung pergi menuju ke kelasnya.


Aduh beku, seandainya motornya itu bisa bicara dia langsung nangis tau, tangisnya mengeluarkan oli.

__ADS_1


gadia dingin ini berlari di koridor, sepi dan hampa. Apakah pelajaran pertama sudah di mulai? "Kenapa sepi sekali? Apa jangan-jangan ...," Elda memberhentikan langkahanya sambil memikirkan sesuatu.


'Huwaahh ... aku sudah terlambat ...!' bantinya sambil teriak dan ia melanjutkan berlari maratonnya.


BAM!


"Oh, astaga," kagetnya melemparkan buku yang sedang ia pegang terlempar jauh ke depan bangku yang berada di depannya itu.


"Maaf, bu. Saya tel—" ucapan gadis dingin itu terhenti.


Krik ... krik ... krik ...


Suara jangkrik mau lewat ... membuat suasana di kelas tersebut hening. Elda hanya terkejut melihat isi kelas tersebut hanya seorang gadis biasa saja.


"Amora ...?" tanya gadis dingin itu menatap Amora yang sedang terduduk di kursinya, ia hanya menatap Elda dengan wajah datar.


"Iya, ini aku, Amora.


Amora berdiri dari duduknya untuk mengambil buku yang telempar tersebut yang sudah tergeletak di lantai kelas tersebut. Sedangkan gadis dingin itu berjalan pelan menuju ke kursinya.


DUK!


"Aarrgghhh ... meja bodoh!" teriak gadis dingin itu, karena kakinya tidak sengaja terbentur di meja tersebut. Apakah hari ini dia benar-benar sial?


"Kayaknya, dia lagi stres ...," guman Amora menyipitkan matanya sambil menatap gadis dingin itu.


"Aku tidak stres, tau!" Elda dengar apa yang di gumankan oleh Amora, membuat dia kaget, karena gadis dingin itu langsung menatapnya dengan tajam.


Gadis dingin pun telah sampai di kursinya ia langsung menegelamkan kepalanya di lipatan kedua tangannya yang berada di atas meja.


"Semua orang kemana?" tanya Elda tiba-tiba dan tanpa menoleh ke arah Amora.


"Di makan monster. Kamu nggak liat jam, yah? Ini baru pukul enam lewat lima belas menit," jawab Amora menghampiri gadis dingin itu, ia duduk di bangku yang berada di depan bangku Elda.


"Oh."


'Kayaknya, aku salah mengatur jam di alarm-ku," batinnya sambil menolehkan kepalanya ke pintu jendela.


"Belum, genrenya apa?"


"Horor. Aku baru nonton sampai episode lima, sudah tegang banget. Semuanya cuman sepuluh episode saja, coba kamu nonton, deh. Pasti seru dan tegang," jawab Amora.


"Oh, kirain comedy. Nanti kalau ada waktu aku nonton."


"Ini novel kamu, makasih sudah minjamin aku, novelnya bagus ... banget," ucap Amora menyodorkan novel yang dulu di pinjamkan oleh gadis dingin itu.


"Hmm ...."


"Ada lagi, tidak?" tanyanya sambil meletakan kedua tangannya di dagunya.


Gadis dingin itu mendongak-kan kepalanya sambil menatap gadis yang berada di hadapannya itu. "Banyak, kok," jawab Elda tersenyum kecil.


"Di kamar kamu, 'kan?" tanya Amora semakin yakin dengan ucapan gadis dingin itu yang sedang menatapnya tanpa ekspresi.


"Bukan."


"Terus? Dimana?"


"Di penjual, hahaha ...!" gadis dingin itu tertawa dengan tawa yang super Evil-nya, membuat urat dahi Amora naik ke permukaan.


'Aku bunuh dia, boleh tidak, yah?' batin Amora.


Elda yang mendengar isi hati atau pikiran gadis itu, tawanya langsung terhenti. Gadis dingin itu langsung diam dengan wajah datarnya, ia kembali menyilangkan kedua tangannya di atas meja. "Boleh, tapi aku akan membunuhmu duluan," jawabnya sambil tersenyum Devil.


Amora terlonjak kaget. 'Apa yang baru saja dia katakan? Dia ingin membunuhku? Apa dia serius?' dalam batinya gadis ini bertanya-tanya.


Elda hanya tersenyum miring. "Aku serius, kalau kamu mengajakku untuk saling membacok," gadis dingin kembali menatap wajah kaget Amora.


Lagi-lagi, gadis itu itu kaget mendengar ucapan yang keluar dari mulut gadis dingin itu. " B–bagaimana, kamu bisa tau apa yang aku pikirkan?" tanyanya mulai takut karena ia melihat ekspresi wajah Elda telah berubah menjadi mode pembunuhan.

__ADS_1


'Kekekek ... ternyata dia lucu juga, yah. Kalau takut," batin Elda sambil terkekeh renyah.


"Aku cuma asal jawab saja."


"Elleh. Jadi buku novelnya banyak di kamar pribadi kamu?" tanya Amora menatap wajah datar gadis dingin itu.


"Hmm ...," jawabnya sambil mendehem singkat, ia kembali menegelamkan kepalanya di lipatan tangan yang berada di atas meja.


Tiba-tiba jendela terbuka, angin yang begitu kencang membawa sebuah selembaran kertas, dan memasuki kelas tersebut.


PLUP!


Kertas tersebut melayang mengenai wajah cantik gadis dingin itu yang sedang menegelamkan kepalanya sambil menoleh ke arah jendela.


"E–elda?"


Gadis dingin itu memperbaiki posisinya menjadi duduk tegak. Ia segera mengambil kertas tersebut dari wajahnya, kemudian ia meremasnya.


"DASAR ANGIN SIALAN, BODOH, DAN JUGA SEBEL!!!" gadis dingin itu berdiri dan langsung marah-marah di ambang jendela. Amora yang melihat itu jadi merinding. "DAN INI JUGA, DASAR KERTAS BODOH!" Elda kembali membuka kertas tersebut, kemudian ia merobeknya hingga menjadi beberapa sobekan kecil.


'Kayaknya, dia lagi PMS," batin Amora.


"Aku tidak PMS!" gadis dingin itu menoleh tajam ke arah Amora yang masih terduduk di bangku tadi.


***


Pelajaran pertama pun di mulai, Amora masih ingin jauh-jauh dari singa garang itu, maksudnya Elda. Sedangkan gadis dingin itu masih marah-marah tidak jelas, sambil mencoret-coret bukunya.


Ibu guru pun telah tiba, tapi dia membawa seseorang. "Pagi, semua," sapa hangat dari ibu guru tersebut.


"Pagi, bu ...," balas mereka merempak.


"Kita kedatangan murid baru, silakan masuk, jangan malu-malu," ucap guru itu memanggil seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu.


Murid itu melangkah perlahan memasuki ruangan tersebut. "Halo, semua. Kenalkan namaku Adrian Shaw," ucapnya sambil tersenyum kepada penghuni kelas.


"Kyaaa ... gantengnya ...!"


"Senyumannya manislah ...."


"Calon pacarku ...."


Semua ocehan tersebut membuat gadis dingin itu menggulir bola matanya malas, ia kemudian kembali mencoret-coret bukunya.


"Oke, silakan kamu duduk di kursi kosong itu," ucap ibu guru sambil menunjuk kursi kosong yang berada di depan gadis dingin itu.


"Makasih, bu," Adrian pun menuju ke kursinya sambil berjalan santai, ia hanya tersenyum kepada Elda, tapi gadis dingin itu tidak merespon senyuman itu, ia kembali mencoret-coret bukunya.


"Oke, kita lanjut tentang pemilihan ketua kelas, yah? Yang pertama, Aiden. Silakan kamu ke depan untuk membacakan pidatomu," ucap Ibu guru.


Aiden pun menuju ke depan kelas. "Halo, semuanya. Aku akan berpidato untuk pemilihan ketua kelas ...," lelaki jangkung itu berpidato, ia mengambil waktu tiga puluh menit untuk pidatonya.


Setelah selesai Aiden berpidato, sekarang giliran gadis dingin itu untuk naik berpidato di deoan kelas.


"Hai, semua. Kali ini saya ingin berpidato untuk menjadi calon ketua kelas, tolong pilih saya," ucap gadis dingin itu lanjut membaca pidatonya.


'Hah? bukannya naskahnya sudah aku robek? Kenapa dia bisa ikut lagi, padahal waktu itu sudah tidak sempat lagi untuk menulisnya,' batin gadis bermata sipit itu, sedangkan Elda hanya tersenyum miring mendengar isi hati mak lampir itu.


***


"Sekian, terima kasih."


Elda menuju ke tempat duduknya, sedangkan Amora hanya mengacukan dua jempol untuk gadis dingin itu, walaupun tangannya bergetar. Elda hanya tersenyum kepada Amora.


"Sekarang kita melakukan pemilihan ketua kelas, tolong kalian tulis nama orang yang kalian pilih, tulisnya di kertas kecil yang ibu beri tadi, yah?" ucap Ibu guru.


"Baik, bu," kata mereka semua serempak.


Pemilihan pun berjalan lancar, para penghuni kelas telah antri menunggu giliran mereka untuk memilih dan memasukannya di kotak suara, penghitungan suara pun di mulai.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, akhirnya hasil pun sudah keluar, ibu telah memegang kertas dari hasil pemilihan tersebut.


#TBC


__ADS_2