Gadis Mafia [Masa Perbaikan]

Gadis Mafia [Masa Perbaikan]
BAB 18


__ADS_3

Elda meletakan satu lengannya di atas kedua matanya kemudian ia menangis, entah apa yang sedang di pikirkan oleh gadis dingin itu membuat dirinya menangis.


"Sena, kenapa kamu nggak ngasih tau aku dari awal, kita ini sabahat, 'kan? Kenapa kamu tega sama aku?" ucap Elda menangis.


Elda bangkit dari tempat tidurnya dan menghapus air matanya kemudian ia pergi mandi karena hari sudah mulai gelap.


Setelah makan malam, papanya memanggil gadis dingin itu ke ruangannya, ada hal yang ingin di sampaikan oleh papanya itu kepada Elda.


"Elda, sini sebentar!" teriaknya membuat gadis dingin itu menoleh ke arah sang papa tersayangnya.


"Ada apa, pah?" tanya Elda menghampiri papanya yang sedang berada di depan pintu ruangan pribadi papanya itu.


Setelah sampai di ruangan tersebut, papanya menyuruh anak gadisnya itu untuk duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan meja kerja papanya itu.


"Kenapa papa membawa Elda kesini?"


"Papa mau cerita tentang masa lalu papa dan mama." Jawabnya duduk di kursi kerjanya sambil menatap anak gadisnya itu.


"Oh, iya lupa. Elda sudah lama mau ngasih tau kepada papa, bagaimana papa dan mama bisa bersama!" ucap gadis dingin itu menumbuk tangannya.


"Pada zaman dahulu ...."


"Udah ... gak usah banyak drama, langsung intinya aja, pah." Kata Elda menyipitkan matanya, gadis ini memang tidak suka menunggu atau bisa di bilang ia benci menunggu.


'Lagipun ... emang zaman papa dan mama itu, zaman batu, yah? Pake kata zaman dahulu pula.' Batin gadis itu memalingkan wajahnya sekilas dan menyipitkan matanya.


"Oke, aku mulai dari mana, yah?" ucap papanya memejamkan matanya sambil mengingat kembali apa yang terjadi pada mereka berdua.


_Flashback On_


Kisah ini bermula dari seorang laki-laki yang sedang pulang dari les-nya dan ia masih memakai baju seragam sekolah. Yah, namanya adalah Aldo.


Aldo sebenarnya sudah kelas 3 SMA dan tinggal menghitung hari ia akan lulus dari sekolah tersebut.


Laki-laki tersebut ingin pulang ke rumahnya dan tiba-tiba ...


DOR!


Aldo kaget mendengar suara tembakan tersebut, kemudian ia pergi ke arah sumber suara tersebut dan ia pun sampai ke tempat tujuan, lalu ia bersembunyi di balik tembok.


Ia melihat ada seorang gadis yang seumurannya sedang memegang dua pistol di tangannya sambil memegang bahunya yang terluka.


Gadis itu di kepung oleh beberapa penjahat bersenjata pedang sambil menatap gadis itu yang sudah terlihat kelehanan.


Dan sebagian anak buah geng berpedang itu telah jatuh atau tewas akibat mereka telah berhadapan dengan gadis itu, sekarang pun gadis itu harus melawan 10 orang lagi.


"Menyerahlah, kamu sudah kalah!" kata leader penjahat itu menunjuk gadis itu menggunakan pedangnya yang sedang ia genggam itu.


"Aku tidak akan pernah menyerah!!" balasnya teriak kepada leader itu, walaupun tenaganya hampir mulai habis.


"Kalian berdua, habisi dia sekarang juga!"


Kedua anak buah geng berpedang itu pun menyerang langsung menyerangnya. Dan gadis itu langsung mengarahkan pistolnya ke arah mereka berdua, tapi ....


'Sial!' batinnya kesal karena kedua pistolnya itu telah kehabisan peluru. Dan ia tidak mempunyai pistol ataupun peluru cadangan.


Kedua pedang itu telah melayang ke arahnya, gadis itu hanya bisa memejamkan matanya dan menunduk karena pedang semakin dekat ke arahnya.


Tap ... tap ... tap ...


TENG!!


Gadis itu membuka matanya secara perlahan dan ia tidak merasa sakit sedikit pun, dia pun mendongak-kan kepalanya dan ternyata ada seorang lelaki yang masih berpakaian seragam sekolah yang sedang menghalangi pedang tersebut yang ingin mengenainya .


Aldo berhasil menahan pedang kedua anak buah tersebut menggunakan pedang yang tergeletak di tanah dan langsung berdiri membelakangi gadis itu.

__ADS_1


"Hei, hentikan!" pinta Aldo yang masih menghalang pergerakan kedua orang tersebut sambil menahan mereka dengan sekuat tenaga.


"Apa urusanmu, bocah?!" tanya leader geng berpedang tersebut.


"Bocah? Kau bilang aku bocah?!" teriak Aldo dan langsung mendorong kedua penjahat itu hingga tersungkur di tanah.


"Kenapa kalian cuman melihatnya? cepat serang dia!" titah leader.


Mereka semua pun menyerang Aldo, ia menghindari serangan mereka dengan gesit dan lincah, membuat mereka semua tidak dapat mengenainya maupun melukainya.


Setelah beberapa menit, pertarungan pun berakhir. Aldo pun memenangkan pertarungan ini, semua anak buah penjahat itu telah tewas dan tinggal ketua nya saja yang tinggal.


"Sekarang, giliran kamu!" ucap Aldo menunjuk ketua penjahat dengan pedang yang ia pegang.


"A-aku, ampuni akuuuuu ...!" ucap leader tersebut lari terbirit-birit.


Aldo meletakan kembali pedang tersebut di tanah kemudian ia menghampiri gadis itu yang tengah kewalahan.


"Kamu, gak apa-apa?" tanya Aldo.


"Aku gak pa—"


"Eh-eh, gadis ini merepotkan saja." Ucap Aldo menangkap tubuh gadis itu yang hampir jatuh ke tanah.


Aldo pun mengendongnya sampai ke rumah sakit. Sela beberapa menit kemudian, gadis itu pun sadar dan Aldo terus menatap sinis gadis yang tengah duduk di atas brankar.


"Aku dimana?" tanyanya sambil memegang kepala dan bahunya sudah di balut oleh kain kasa.


"Kamu dirumah sakit," jawab Aldo ketus.


"Ngapain kamu disini? Jawab atau aku membunuhmu sekarang!" ucapnya kaget dan langsung menoleh ke arah Aldo yang tengah menyipitkan matanya.


"Aduh, ini anak orang tidak tau berterima kasih," balas Aldo.


"Kenapa aku harus berterima kasih sama kamu?!" tanyanya bernada bentak.


"Jawab!!!" teriaknya langsung mengambil pistol yang berada di atas meja yang berada di samping brankarnya itu.


"Kamu lupa yah? Aku yang nolongin kamu dari kepungan penjahat itu dan aku membawamu ke rumah sakit," jelas Aldo.


"Oh, iya kah? maaf, sudah bersangka buruk kepada kamu," ucapnya menggaruk pelipisnya ragu-ragu.


"Omong-omong, nama kamu siapa?" tanya Aldo kepo.


"Kepo!" jawabnya.


"Aku cuman tanya baik-baik lho~ kenapa kamu ngegas?" tanya Aldo.


"Baiklah, namaku Salsabila, aku masih sekolah, kelas XII SMA, cucu dari mafia terkenal di dunia, dan aku—"


"Hei, aku cuman tanya nama kamu aja lah, kenapa indentitasmu juga?" ucap Aldo.


"Terserah aku, emang dari dulu aku memperkenalkan diri aku seperti itu," balas Salsa ketus.


"Kalau begitu, aku pulang dulu. Besok aku kesini lagi," ucap Aldo diambang pintu kemudian ia pergi.


"Kok, aku pernah liat dia, yah? Perasaan aku pernah liat." Ucap Salsa menaruh tangannya di dagu.


Satu menit memikirkannya, Salsa pun akhirnya ia ingat siapa kah Aldo itu.


"Ahah! aku ingat, ia adalah siswa kelas XII A, dari sekolah sama denganku. Ia juga siswa pintar di kelasnya. Tapi, namanya siapa, yah?" guman Salsa.


Tiba-tiba aja ponsel Salsa bergetar.


Drtt ... drtt ... drtt ...

__ADS_1


'Gawat!' teriaknya dalam hati membuatnya gugup untuk menganggkat telepon ini, orang yang menghubungi Salsa adalah---papanya.


"Halo, pah?" ucap Salsa.


"Apakah kamu, sudah menemukan pacar?" tanya papanya.


'Aduh, mati aku. Kenapa sekarang sih, di tanyanya?' batin Salsa sambil mengigit bibir bawahnya.


"B-belum pah," jawab Salsa.


"Ingat Salsa! Kalau kamu tidak menemukan pacar sampai besok malam, papa tidak segan-segan menjodohkanmu dengan laki-laki pilihan papa! Ngerti kamu?" ucap papanya.


"B-baik pah,"


Tut–


Salsa pun menghembuskan napasnya dengan kasar sambil mengacak-ngacak rambutnya frustasi.


"Agrhhh ...!" ucap Salsa.


Salsa dijodohkan oleh papanya. Tapi, gadis ini selalu membantah, karena sudah cape bilangin putrinya tersebut yang keras kepala, papanya memberi tantangan untuk anak gadisnya itu supaya mencari pacar, kalau Salsa gagal, ia akan di jodohkan paksa oleh lelaki pilihan papanya.


Pagi harinya, Aldo pun pergi kerumah sakit dengan membawa buah tangan, untuk mengunjungi gadis dingin itu.


"Aku datang!!" ucap Aldo membawa sekeranjang buah-buahan.


"Ngapain kamu kesini, Hah?" ucap Salsa dengan nada dingin.


"Cih, ini anak tidak berhutang budi banget," guman Aldo menyipitkan matanya menatap gadis nyebelin itu.


"Kamu, tidak sekolah?"


"Hei, kamu lupa, yah? Ini hari minggu, neng!" jawab Aldo menatap sinis gadis itu.


"Hah? Iya, kah?" tanya Salsa.


"Hmm ...." Jawab Aldo hanya mendehem saja.


Aldo pun duduk di sofa sedangkan Salsa sedang memikirkan cara memecahkan masalahnya.


Ia pun menoleh kearah Aldo, ia melihat Aldo yang sedang bersinar dan ia mendapatkan ide yang cermelang.


"Punya ide, hihihi ...." Ucap Salsa sambil terkekeh kecil, Aldo hanya menatap datar gadis itu apa yang sedang terkekeh sendiri seperti orang—kerasukan.


"Nama kamu siapa?" tanya Salsa.


"Aldo." Jawabnya cepat.


"Baiklah Aldo, kamu harus menjadi pacar pura-pura aku!" ucap Salsa lantang dan membuat Aldo tersentak kaget.


"Hah? jadi pacar kamu? tak mungkin!" balas Aldo melambaikan tangannya.


"Ayolah, kali ini saja," ucap Salsa menghampiri Aldo yang sedang duduk di sofa sambil mengeluarkan puppy eyesnya.


"Tidak akan!!!" tegas Aldo.


"Oh, jadi kamu tidak mau yah?" ucap Salsa mengeluarkan pisau lipat dari sakunya kemudian ia berjalan ke arah Aldo.


"A-apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Aldo takut dan langsung berdiri, lalu ia berjalan mundur.


Aldo terus mundur, hingga akhirnya ada jalan buntu. 'Sial, kenapa ada tembok disini, sih?' batin Aldo.


"Jawab!! kamu menjadi pacar pura-puraku atau nyawa kamu melayang sekarang juga?!" bentak gadis itu mengarahkan ujung tajam pisau tersebut di leher Aldo.


Aldo hanya menelan salivanya dengan susah payah. "Oke, fine. Aku akan menjadi pacar kamu!" ucap Aldo terpaksa.

__ADS_1


Gadis itu memiringkan kepalanya. "Bagus," ucap Salsa menepuk-nepuk kepala Aldo. Lelaki itu pun menghela nafas lega.


"Berikan alamat rumah kamu, aku akan menjemputmu nanti malam." Lanjutnya dan Aldo pun memberikan alamatnya pada Salsa.


__ADS_2