![Gadis Mafia [Masa Perbaikan]](https://asset.asean.biz.id/gadis-mafia--masa-perbaikan-.webp)
Mereka pun sampai di pos terakhir dan langsung menuju ke tempat perkemahan, sedangkan Zelda merasa merinding dan ketakutan. Gadis dingin itu berjalan paling belakang sambil menundukkan kepalanya sambil diam tanpa bicara.
"Eh? Rasanya ada yang mengikuti kita dari belakang, deh. Kalian dengar suara-suara aneh, 'kan?" tanya Jefri dan mereka berdua pun menganggukan kepalanya, kecuali gadis dingin itu.
Mereka semua pun menoleh dan berjalan ke arah sumber suara yang ada di semak-semak yang bergoyang-goyang sendiri, mereka bertiga semakin mendekat ... mendekat ... dan ....
BAH!
Muncullah sosok hantu wanita dari semak-semak itu dengan wajahnya ditutupi oleh rambut panjang, wajah mereka bertiga langsung pucat sambil melototkan mata mereka.
"ARGH ...!" teriak mereka bertiga sambil memundurkan tubuh mereka, teriakan mereka bertiga sangat keras membuat para burung terbangun dan berterbangan dari pohonnya. Gadis dingin itu, mah nyantai tidak berteriak sama sekali dia sering melihat film horor di laptopnya.
"LARI!" mereka bertiga pun berlari ke segala arah, Aiden tanpa sengaja menarik tangan mungil milik gadis dingin itu sedangkan gafis bermata sipit itu dan Jefri, mereka berdua berlari entah kemana.
"Eh, tunggu---" ucapan gadis dingin itu terhenti karena Aiden menarik tangannya dengan kuat menjauh dari hantu tersebut, lelaki jangkung itu ketakutan sambil menutup matanya. Mereka berdua pun berhenti di bawah pohon besar yang berada di tengah hutan.
"Woi! Lepasin tangan aku!" kata gadis dingin itu menggertak lelaki jangkung itu, Aiden pun menoleh dan mendapatkan sosok gadis dingin yang berada di sampingnya itu.
"Lah, kenapa kamu ada disini?" tanya Aiden ngos-ngosan sambil menatap gadis yang ada di hadapannya itu, dia pun melepaskan tangannya dari tangan Elda.
"Hmm ... bau jigong," kata Elda mencium aroma tangannya yang sudah dipegang oleh lelaki jangkung itu, Aiden hanya menggulir bola matanya dengan malas.
"Kamu yang bawa aku ke sini, kamu amesia, yah? Atau ... kepala kamu terbentur sesuatu?" tanya gadis dingin itu menjaga jarak aman dari lelaki jangkung itu.
"Tidak, tuh!"
'Dasar musang! Untung ada cahaya bulan jadi tidak terlalu gelap, kalau tidak ... mampus aku kalau hutan ini gelap gulita,' batin gadis dingin itu menyilangkan kedua tangannya untuk memeluk dirinya sendiri.
"Kita di mana sekarang?"
__ADS_1
"Tanya sama diri kamu sendiri, kenapa kita sampai kesini. Oh, iya, kamu harus mencari jalan keluar dari hutan ini, jangan menolak! Aku benci sepertimu," jawab gadis dingin itu.
"Argh ...!" Aiden mengacak-ngacak rambutnya frustasi, akibat dia tidak mengingat arah jalan pulang ... aku tanpamu butiran bedu. Cih, malah nyanyi.
"Kamu tidak pernah keramas, yah? Jadi rambut kamu gatal kaya ulat bulu," kata gadis dingin itu sambil melihat lelaki jangkung itu lewat ekor matanya.
"Aku keramas tau! Tiga kali sehari, kalau di rumah aku!"
***
Sementara gadis bermata sipit itu dan Jefri berhasil lari sampai keluar dari hutam seram itu. Kemudian Amora menghampiri gadis bermata sipit itu, dia tidak melihat gadis dingin itu bersamanya keluar dari hutan tersebut. Kelompok Aiden adalah kelompok terakhir keluar dari hutan.
"Zelda, dua anggotamu kemana?" tanya Amora menghampiri kepada gadis bermata sipit itu, Zelda masih terengah-engah akibat berlari, gadis lampir itu pun menegok ke belakang dan tidak menemukan kedua orang itu.
Gale pun menghampiri mereka semua. "Ada apa ini?" tanya lelaki yang merupakan kakak dari gadis dingin itu, mereka semua pun menoleh ke arah Gale.
"Jangan lupakan, Aiden juga." Jack langsung melanjutkan perkataan Amora. Kakak gadis dingin itu langsung membuka matanya lebar-lebar.
"Gawat, kalau cahaya sinar bulan menghilang, Elda bisa ketakutan," guman Gale segera masuk ke dalam hutan yang lebat itu, mereka semua pun mengikuti Gale dari belakang. Bagaimana sekarang perasaan Gale? Yah, pastinya khawatir kepada gadis dingin itu.
***
Mereka berdua hanya tidak terdiam dan tidak berbicara. Elda berjongkok di bawah pohon besar itu, sedangkan lelaki jangkung itu masih tetap berdiri di sampingnya.
"Apakah ada orang akan mencari kita?" tanya Aiden menoleh ke gadis dingin itu yang tengah berjongkok sambil menatap datar ke arah depan yang terdapat hutan yang gelap gulita.
"Mungkin saja."
"Kamu dari keluarga mana, sih? Dingin benget," kata Aiden sambil menatap gadis yang berjongkok itu dengan tatapan sinis. Elda tidak menjawab pertanyaan lelaki jangkung itu dia hanya terdiam sambil mengamati sekitaran.
__ADS_1
'Dasar cewek dingin!' batinnya sambil memayunkan mulutnya. Gadis dingin itu mendengar suara membantin Aiden, dia ingin bicara, tapi dia memutuskan untuk diam.
Tiba-tiba sinar bulan tertutup oleh awan membuat gadis dingin itu panik. 'Aku mohon jangan gelap ... aku mohon jangan ... Ya, tuhan tolong aku,' batin gadis dingin itu bergetar sambil menundukkan kepalanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Aiden menyadari gadia dingin itu ketakutan dia langsung berjongkok dan meletakan jaketnya untuk menutupi tubuh gadis dingin itu.
Sontak membuat gadis dingin itu terkejut. "Kamu takut sama takut sama gelap?" tanya lelaki jangkung itu menolehkan kepalanya yang di samping gadis dingin itu. Elda merasa sedikit lega akibat ada orang yang berada di sampingnya itu, sinar bulan pun kembali menyinari alam yang gelap itu.
Gadis dingin itu menoleh ke lelaki jangkung itu. Mata mereka sambil bertemu, Aiden melihat mata gadis dingin itu sudah berkaca-kaca, tatapan mereka cukup lama, sehingga gadis dingin itu menyadarkan lamunan mereka.
"Aku cuman trauma saja," jawab gadis dingin itu memalingkan wajahnya, kemudian Aiden kembali berdiri sambil memalingkan wajahnya juga.
"K--ka--kamu---" ucapan lelaki jangkung itu terhenti karena dia langsung menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. 'Sial, kenapa aku jadi gugup begini?' umpatnya dengan wajah memerah. Jangan tanya, Elda mendengarnya.
Elda hanya terdiam sejenak, gadis dingin.itu tertuju dengan sosok yang berada di dalam hutan tersebut, sosok itu melambaikan tangannya ke depan, gadis dingin itu berdiri kemudian menghampirinya.
"Kamu mau kemana?" tanya Aiden, gadis dingin itu tidak menjawab pertanyaan Aiden, dia hanya melanjutkan langkahnya menuju ke makhluk astral itu.
"Ada apa, Sena?"
"Sini aku tunjukan arah ke Kakak kamu, dia bersama dengan yang lainnya sedang mencarimu," kata Sena tersenyum kepada sahabatnya itu.
"Tunggu sebentar aku panggil dulu si musang, itu dulu."
"Hei, sini!" teriak gadis dingin itu, Aiden pun menoleh ke arahnya kemudian berjalan pelan ke arahnya. Dengan tampang datarnya lelaki jangkung itu bertanya.
"Ada apa?"
"Ikut denganku. Beb, silakan tunjukan jalannya," kata gadis dingin itu dengan seuara pelan di akhir katanya, Sena pun berjalan duluan diikuti oleh gadis dingin itu dan Aiden.
➖➖➖
__ADS_1