![Gadis Mafia [Masa Perbaikan]](https://asset.asean.biz.id/gadis-mafia--masa-perbaikan-.webp)
Setelah Elda mengemas barang-barangnya, yang ingin ia bawa, ia pun membawa kucing yang ia temukan di jalan tersebut, menggunakan tas khusus untuk kucing. Tiba-tiba Zeta menghampiri kakak dinginnya itu yang sedang membawa koper.
"Kakak mau kemana?" tanya Zeta sambil memakan cemilannya yang sedang ia genggam itu.
"Aku mau ke rumah baruku."
"Wah, sekarang kakak punya rumah, aku jadi iri sama kakak," kata Zeta sambil mengembungkan pipinya.
Elda hanya terkekeh kecil melihat tingkah adiknya perempuannya itu atau anak bungsu dari keluarga ini. "Jangan ngambek dong, nanti kakak beliin kamu boneka, mau tidak?" tanya Elda.
Zeta pun kembali tersenyum. "Yah, pastilah mau, boneka beruang, yah?" jawabnya tersenyum gembira kepada kakak perempuannya itu.
Zeta adalah anak bungsu dari keluarga Aldo, usianya lebih muda 2 tahun dari Elda, kini ia duduk di kelas IX SMP. Gadis ini memiliki rambut panjang dan bertubuh kecil.
"Iya," balas gadis dingin itu mengusap belai rambut adiknya itu dengan lembut. "Kakak pergi dulu, yah dek."
"Hati-hati, kak."
***
Di perjalanan, cuman keheningan di antara ibu dan anak itu, hanya suara mesin mobil yang mereka dengar, Elda pun memecahkan keheningan tersebut.
"Hmm ...," Elda berdehem lama untuk memikirkan apa yang harus di katakan kepada ibundanya itu.
"Ma, rumahnya gimana?" tanya gadis dingin itu menoleh ke Salsa yang sedang menyetir mobil kesayangannya itu.
"Yah ... rumahnya besar, seperti rumah kita," jawab Salsa menoleh sekilas kepada anak dinginnya itu, seperti dirinya.
"Oh," Elda hanya berkata 'Oh' kemudian ia berahli menatap keluar jendela mobil untuk melihat sekeliling.
Sampailah mereka di rumah gadis dingin itu, Elda hanya ternganga melihat bagunan yang akan ia tinggalin nanti.
'Wah ... besarnya,' batin Elda sambil menatap rumahnya itu dengan mata berbinar-binar.
"Ayo kita masuk," kata Salsa kepada anak dinginnya itu. Dan Elda hanya menganggukan kepalanya dengan semangat.
Mereka masuk ke dalam bagunan tersebut. "Wah ... dalamnya luas banget," gadis dingin itu kagum melihat isi dari bagunan itu.
"Bi ...!" teriak Salsa kepada salah satu maid yang berada di sana dalam rumah besar tersebut.
"Iya, nyonya," seorang paruh baya menghampiri sang nyonya rumah tersebut, ia pun membungkuk, 'kan tubuhnya.
"Ini adalah anak perempuan ku, ia akan menjadi nona di rumah ini," kata Salsa menatap sekilas Elda, kemudian ia mengusap pucuk rambut gadis dingin itu.
__ADS_1
"Salam kenal, nona," maid itu membungkuk, 'kan tubuhnya kepada gadis dingin itu yang merupakan nona rumah tersebut.
"Iya, bi."
"Bibi, sini. Ada hal yang ingin aku sampaikan kepada bib," kata Salsa.
"Apa itu, nyonya?" maid tersebut mulai mendekat ke arah Salsa.
"Kalau dia keluar malam-malam, gak udah khawatir, yah, bi. Dia itu sedang mencari hasratnya aja kalau malam-malam, supaya dia bisa menenangkan dirinya," bisik Salsa.
"Oh, oke nyonya."
"Tolong antarkan dia ke kamarnya," kata Salsa kepada maid tersebut, kemudian ia berahli menatap anak dinginnya itu. "Dan Elda, mama pulang dulu, yah?"
"Iya, ma," balas Elda sambil tersenyum kepada Salsa, ia pun pergi menuju ke pintu utama rumah tersebut.
"Sini, nona. Saya akan mengantarkan anda ke kamar."
"Baik, bi."
Maid tersebut mengantar Elda ke kamarnya yang berada di lantai atas, gadis dingin hanya mengangkat kepalanya untuk melihat dinding-dinding dan atap bangunan tersebut.
"Ini kamar anda nona, ada yang di perlukan lagi, nona?" tanya maid itu menatap Elda yang sedang menarik kopernya itu.
"Sudah gak ada, bi. Makasih," jawab gadis dingin itu tersenyum kepada maid tersebut yang sekarang ada di hadapannya.
Elda setia melihat maid tersebut pergi, setelah maid itu tidak terlihat lagi, gadis dingin itu pun membuka pintu kamarnya itu.
"Hah, nyamannya," kata Elda merebakan dirinya di king-size miliknya, betapa bahagianya gadis dingin itu.
"Kitty, kita sekarang akan bersenang-senang disini," ucap gadis dingin kepada kucingnya itu.
Meong~
"Wah, wah. Ternyata ada disini kamu, dari tadi aku nyariin kamu sampai kelalang-keliling tujuh putaran cari kamu," kata Sena tiba-tiba muncul entah darimana.
'Aku, tidak mengharapkan mu untuk mencariku, kok,' batin gadis dingin itu sambil menyipitkan matanya.
"Eh, Sena. kapan kamu datang?" tanya Elda memperbaiki posisinya menjadi duduk di tepi king-sizenya.
"Barusan. Bagaimana kabarmu?"
"Baik," Elda hanya membalas dengan senyuman manisanya itu untuk sahabatnya yang telah tiada sejak lama itu.
__ADS_1
Sedangkan kediaman rumah Salsa, seorang kakak sibuk mencari Elda dari sana ke sini. Entah ia sedang ingin menjailinya atau ada hal yang ingin di sampaikan kepada gadis dingin itu.
"Ma, Elda mana?" tanya Gale menoleh kanan-kiri kepalanya.
"Dia sudah mama pindahkan ke rumah barunya," jawab Salsa duduk di sofa sambil meminum secangkir teh yang sedang ia genggam.
Gale hanya mengangakan mulutnya lebar-lebar. 'Hah? Adik dingin itu sudah punya rumah pribadi? Ternyata dia sudah melabui sang kakak, rupanya,' bantinya sambil menangis dalam hati.
Keesokan paginya, Elda bersiap-siap berangkat ke sekolah, dengan seragam biru putih, dasi kupu-kupu biru, dan rambut terurai panjang ke bawah.
"Bi, aku pergi dulu, yah," kata gadis dingin itu sambil menuruni anak tangga sambil menggendong tas yang beradadi punggungnya.
"Sarapannya sudah siap, nona," kata maid itu sambil menatap gadis itu sedang terburu-buru untul pergi ke sekolah.
"Enggak usah, bi. Aku makan di sekolah saja, bibi makan saja makanannya," ujar Elda segera menutup pintu utama rumah tersebut.
"Iya, nona."
'Nona Elda baik juga, yah. Seperti nyonya Salsa,' ucapnya membatin sambil tersenyum. Ia meninggalkan tempat tadi dan menuju ke dapur.
Gadis dingin itu pergi ke sekolah menggunakan motor yang di berikan oleh ibunya. Sesampainya di sekolah, ia memakirkan motornya dan langsung menuju ke kelas.
"Eh? Semua orang-orang belum pada datang, yah? Mungkin aku yang terlalu cepat ke sekolah," kata gadis dingin itu membuka pintu kelas tersebut.
Elda langsung duduk di kursinya dan membaca buku novel kegemarannya. Yah, Elda punya banyak koleksi buku novel yang romantis, fantasi, komedi, dan Horor.
Beberapa menit kemudian, para siswa-siswi pada berdatangan, sehinggalah datang Amora, yang ingin menghampiri gadis dingin itu.
"Apa kabar, Elda?" tanya Amora sambil menyampingkan tubuhnya menghadap gadis dingin tersebut.
"Baik."
***
"Hari rabu kita akan pergi kemping, yah. Milan dan wakil ketua kelas, kalian akan bertanggung jawab, dalam hal kegiatan ini," kata ibu Rina.
"Maaf, bu. Saya akan mengundurkan diri menjadi ketua kelas," ucap Milan tiba-tiba sambil mengangkat tangannya.
Semua siswa-siswi yang berada di dalam keas itu kaget sambil menoleh ke arah Milan yang termasuk siswa terpintar di kelas tersebut.
"Saya juga, bu. Saya ingin mengundurkan diri menjadi wakil ketua," kata Randi ikut mengangkat tangannya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kami lelah, bu," jawab mereka berdua serentak, membuat ibu Rina memegang kepalanya yang pusing itu.
"Baiklah, siapa yang ingin mencalonkan menjadi ketua kelas?" tanyanya sambil menatal seluruh muridnya.