Gadis Mafia [Masa Perbaikan]

Gadis Mafia [Masa Perbaikan]
BAB 25


__ADS_3

Semua siswa-siswi yang berada di dalam kelas tersebut hanya terdiam dan mengunci mulut mereka rapat-rapat.


"Enggak ada yang mau?" tanya Ibu Rina sambil menatap semua anak muridnya itu dari kanan-kiri. Semua siswa-siswi hanya terdiam, apa jangan-jangan mereka di kutuk menjadi batu atau patung, yah?


Ia pun kembali memegang kepalanya dengan satu tangannya. 'Apa aku harus menunjuknya langsung?' tanyannya dalam membantin.


'Dari kelas satu sekolah dasar, aku sudah selalu menjadi ketua kelas. Tapi kalau sekarang gimana, yah?' batin gadis dingin itu sambil memalingkan wajahnya.


"Baiklah, kalau begitu ...."


"Tunggu sebentar!!" kedua orang itu bersamaan menepuk meja mereka dengan serempak. Membuat kedua orang itu bertukar pandangan.


'Ngapain, musang itu ikut-ikutan menepuk meja?' batin gadis dingin itu menyipitkan matanya sambil menatap lelaki jangkung itu.


'Dasar beku, ngapain dia ikutan berdiri juga?' batin lelaki jangkung itu sambil menatap tajam gadis dingin itu.


Yaps, kedua orang tersebut adalah Elda dan Aiden. Mereka berdua ingin mengajukan diri sebagai calon ketua kelas. Lelaki jangkung itu juga dulu ketua kelas dari sekolah dasar dan masuk sekolah menengah atas. Dia tidak mendapatkan gelar ketua kelas lagi, karena wali kelas memilih ketua kelas atas keputusannya.


"Ada apa?" tanya ibu Rina melihat tingkah kedua anak muridnya itu. Kedua orang tersebut langsung menoleh ke arah gurunya.


"Saya ingin mencalonkan menjadi ketua kelas, bu ...!" lagi-lagi mereka berdua berucap secara bersamaan, kemudian mereka saling menukar pandangan lagi.


"Baiklah, siapkan pidato kalian besok," ibu Rina merasa aman karena ada anak muridnya yang sedia mencalonkan dirinya menjadi ketia kelas.


"Terima kasih banyak, bu ...," kata gadis dingin itu kembali duduk di kursinya.


"Makasih, bu."


'Liat aja nanti, aku akan mengalahkan kamu cewek dingin,' batin Aiden dengan senyum khasnya sambil menatap gadis dingin itu dengan ekor matanya.


'Aku enggak boleh kalah dari siluman musang itu,' batin gadis dingin itu sambil menatap buku yang ada di atas mejanya itu.


***


Bel istirahat berbunyi, Elda masih di dalam kelas untuk menulis pidatonya. Sementara Zelda, pergi mengikuti lelaki jangkung itu ke kantin.

__ADS_1


"Sayang, ayo kita ke kantin bersama, yah?" tanya gadis bermata sipit itu mengandeng tangan Aiden.


"Ah, ogah aku pergi sama kamu," jawab lelaki jangkung itu sambil menepiskan tangan Zelda yang melekat di lengannya.


"Oh, dan satu lagi. Kita sudah tidak ada hubungan lagi," lanjutnya meninggalkan gadis bermata sipit itu yang malang tersebut.


'Aku tidak akan menyerah sebelum aku dapatin kamu lagi, Aiden,' batin Zelda, mengepalkan tangannya sambil menatap punggung lelaki itu hingga ia tak terlihat lagi.


***


Lelaki jangkung itu pergi ke kantin, tanpa sengaja ia ketemu dengan teman-temannya di kantin tersebut.


"Hei bro, sini," panggil Ansel memanggil sang leader yang sedang berdiri sambil menatap mereka dengan menyipitkan matanya.


Aiden pun menghampiri ketiga temannya itu. "Kamu sudah putus sama, Zelda?" tanya Deven sambil menatap Aiden yang sedang duduk di samping Ansel.


"Iya," jawabnya Aiden singkat dan dingin.


Jack hanya mengerutkan dahinya, kemudian ia bertanya kepada Aiden. "Kenapa?"


"Aku enggak nanya sama kamu, Tokke!" sambar Jack sambil menunjuk panjang Deven yang berada di hadapannya itu.


"Hei, tarik ucapanmu itu. Aku bukan hewan yang menempel di dinding dan bunyi toke, toke. Dasar Kecoa!" Deven juga tidak mau kalah.


"Kamu panggil aku dengan sebutan Kecoa? Mari sini kau!" Jack mulai naik ke atas meja yang mereka berempat tepati.


Aiden hanya menghela nafas dengan kasar, karena kedua temannya itu bikin ribut dan rusuh.


"Udah, stop!!!" teriakan Aiden membuat seisi kantin langsung diam dan mendadak sunyi seketika. Deven dan Jack pun menghentikan aksi mereka dengan tarik menarik kerah baju.


Kedua temannya itu pun kembali duduk di tempatnya masing-masing, karena sang leader akan menghancurkan gedung sekolah ini kalau dia tidak dapat menahan emosinya.


"Aku itu putus dengan dia, karena dia memiliki sifat buruk," lelaki jangkung itu langsung membuka mulut.


"Kapan kamu melihat Zelda bersifat buruk?" tanya Ansel yang kepada di samping lelaki jangkung itu.

__ADS_1


"Satu minggu yang lalu."


"Aku kira Zelda itu orang baik, ternyata sifat dia buruk, jadi kamu ingin mencari penganti untuk melupakan dia?" tanya Ansel.


"Enggak, ah. Aku lagi malas," jawab Aiden.


***


Sementara di kelas Elda masih membuat pidato untuk besok buat ia umumkan fi depan kelas. Zelda sedang berjalan sendirian di koridor, tiba-tiba dia melihat gadis dingin itu dengan menulis naskah pidatonya.


'Dasar beruang kutub, kenapa dia harus ikut dalam pemilihan ketua kelas? Hah, aku punya ide,' batin Zelda dengan senyum liciknya dan bersembunyi di balik pintu kelas tersebut.


"Elda, ayo kita kekantin," ajak Amora kepada teman dinginnya itu yang masih menulis di atas meja.


"Hmm ... tunggu sebentar, aku simpan semua barang-barangku di laci," balas gadis dingin itu menyimpan pidatonya di laci, kemudian pergi bersama Amora.


'Bagus, ini dia kesempatan aku untuk mencari pidato itu,' batin Zelda sambil mengacak-ngacak laci gadis dingin itu untuk mencari pidato tersebut.


"Akhirnya ketemu juga, hehehe ..., " tawa licik itu di buat oleh gadis bermata sipit itu, ia juga sedang memegang kertas berisi pidato yang di tulis oleh Elda.


'Jangan harap kamu menjadi ketua kelas di kelas ini. Selama aku masih ada di sisi Aiden, aku mau Aiden menjadi ketua kelas di kelas ini bukannya kamu, beruang kutub!' batinnya membawa kertas tersebut pergi entah kemana.


***


Elda dan Amora pun, akhirnya sampai di kelas mereka. Dan gadis dingin itu langsung duduk di kursinya, ia ingin mengambil kertas yang berisi pidato yang ia tulis tadi.


"Eh? pidato aku kemana?" tanya Elda menaikan semua perlengkapan sekolahnya yang ia simpan di laci ke atas meja.


"Kamu cari apa?" tanya Amora kepada temannya itu yang sedang kebingungan mencari sesuatu.


"Pidato yang aku tulis tadi, hilang Amora," jawab gadis dingin itu masih mencari naskah pidato tersebut.


Gadis bermata sipit itu masuk ke dalam kelas sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. "Hei, sedang mencari apa? pidato kamu, yah?" tanya Zelda kepada gadis dingin itu yang sedang berjongkok.


"Darimana kamu tau, pasti kamu yang ngambil naskah pidatoku. Sini kembalikan," pinta Elda dengan nada geram.

__ADS_1


••••


__ADS_2