Gadis Mafia [Masa Perbaikan]

Gadis Mafia [Masa Perbaikan]
BAB 22


__ADS_3

Mereka bertiga berjalan di koridor yang berada di lantai tiga, tiba-tiba Amora berhenti dan gadis dingin itu berjalan duluan sendirian.


"Elda, kamu duluan aja ganti bajunya, aku nanti akan menyusul kamu, aku mau ngambil sesuatu di kelas," kata Amora.


"Oh, oke. Sena, tolong temani dia. Aku duluan, yah?" Elda segera berjalan menuju ke ruang ganti meninggalkan sahabatnya dan Amora.


Mereka berdua pun pergi menuju ke kelas XI B, sedangkan Elda sudah semakin jauh dari pandangan mereka berdua.


***


Ketika Amora melewati satu kelas, ia mendengar seorang yang sedang berguman sendiri. Ia pun kembali melihat isi kelas tersebut yang merupakan kelas XII C.


"Aku ingin mengakhiri hidupku sekarang," ucap seorang pria yang berada di mejanya bersandar dan merupakan kakak kelas mereka.


"Dia bilang apa tadi?" tanya Amora.


Pria itu pun melangkah ke arah jendela terbuka. "Aku ingin bunuh diri."


"Gawat, dia ingin mengakhiri hidupnya," kata Sena menepuk-nepuk badan Amora.


"Apa?" Amora segera menghampiri pria tersebut yang sudah berada di ambang jendela sambil menatap keluar.


Tap ... tap ... tap ...


"Hei, apa yang kamu lakukan?" Amora menarik baju kakak kelasnya itu dengan kuat supaya ia bisa menahannya.


"Jangan ganggu aku!!" bentaknya menepiskan tangannya dengan kasar membuat gadis yang sedang menahannya, terlempar dengan keadaan tersungkur di lantai.


"Ugh ...."


"Amora, kamu nggak apa-apa?" tanya Sena menghampiri Amora yang sudah tersungkur di lantai.


"Aku gak papa."

__ADS_1


Amora berusaha berdiri untuk menyadarkan pria tersebut. "Hei, apa yang kamu lakukan. Jangan melakukan hal nekat seperti itu," kata Amora.


"Kamu gak ngerti, semua orang membully-ku karena aku jelek. Mungkin, lebih baik aku mati daripada menderita."


"Selamat tinggal," pria itu memejamkan matanya dan menjatuhkan dirinya dari jendela tersebut.


"Jangan!!" Amora berhasil meraih tangan pria tersebut, ia pun menempel di dinding gedung sekolah itu.


"Amora, bahaya. Ini mustahil untuk menyelamatkan dia," kata Sena memeluk badan Amora dan membantu menarik pria tersebut dan gadis itu.


"Tidak! Aku nggak mau orang mati di hadapanku! Nyawa itu sangat berharga!" kata Amora berusaha menarik pria itu ke atas.


"Lepaskan tanganku! Biarkan aku mati dengan cara ini," ucap pria tersebut.


"Tidak!"


Semua siswa-siswi yang barada di bawah hanya melihat dan berteriak.


"Bahaya kalau begini."


"Jangan sampai ada korban bunuh diri lagi."


Ucap siswa-siswi yang sedang menyaksikan mereka dari lantai tiga.


"Tolong bertahan sebentar lagi," Amora bersih keras menarik tangan kakak kelasnya tersebut, lalu tangan Amora mulai licin.


Akhirnya tangan mereka berdua terlepas. "Tidak!!!" Amora berteriak sambil menatap kakak kelasnya itu.


"Aaaahhhhhh ...!"


Tap ... tap ... tap ...


WHUS!

__ADS_1


Tiba-tiba ada seorang gadis yang melewati Amora dan melompat dari jendela yang sama. Amora dan Sena tidak menyadari ada gadis yang baru-baru saja melompat dari jendela tersebut.


TAP!


Gadis itu berhasil menangkap lengan pria tersebut. ia masih memakai celana olahraga dan rambutnya masih terurai panjang.


Aiden yang berada di ruang UKS melihat orang yang jatuh dari lantai atas, ia langsung melihat dari jendela UKS.


Srek ... srek ... srek ...


Di bawah, ada pohon yang sangat lebat dan gadis itu berhasil mengendong tubuh cowok tersebut ala bridal style sampai ke bawah dengan selamat, sambil berlutut.


"K–kau tidak papa?" tanya gadis itu masih setia mengendong pria tersebut.


"E–elda?" kata Amora dan Sena bersamaan.


"Beku?" Aiden juga melihat gadis itu.


Keadaan Elda sekarang sedang berantakan, karena dahan-dahan dan ranting-ranting kecil membuat kulit dan wajah gadis dingin itu lecet.


Sudut bibir Elda agak sedikit mengeluarkan darah. Kemudian gadis dingin itu menurunkan pria tersebut dan menamparnya dengan keras.


PLAK!


Darah keluar dari hidung pria tersebut, akibat tamparan yang dibuat oleh Elda. Pria itu hanya terdiam, lalu gadis dingin itu menarik dasi pria tersebut dengan satu tangan dan juga dangan paksa.


"Sadarlah! Dasar kepala bodoh. Jangan mati di hadapanku. Aku sangat benci dengan orang sepertimu! Kamu tau, 'kan nyawa itu sangat berharga, bukan? Kenapa kamu ingin bunuh diri, Hah?!" bentakan Elda dengan emosi meledak membuat pria itu ketakuatan dan memundurkan kepalanya.


"A–a–aku ...." ucapan kakak kelas itu tidak dapat di lanjutkan lagi, karena Elda langsung membantingnya dengan keras hingga terduduk di tanah.


"Jangan kotori sekolah ini, dengan tumpahan darah kotormu itu," Elda menatap pria itu dengan wajah seram sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah itu menggunakan jempolnya.


Gadis itu pun meninggalkan kerumunan tersebut dengan mencondongkan tubuhnya, berjalan pelan, dan berwajah datar menjauh dari kerumunan tersebut.

__ADS_1


°°°


#TBC


__ADS_2