Gadis Mafia [Masa Perbaikan]

Gadis Mafia [Masa Perbaikan]
BAB 19


__ADS_3

Malam harinya, Salsa menjemput Aldo, kemudian ia mengetuk pintu rumah Aldo dan seseorang paruh baya membuka pintu.


KREAK!


"Ada apa, yah?" tanya ibu Aldo dengan ramah dan lembut.


"Anu, tante. Aku ingin mau bertemu dengan Aldo, tan." Jawab Salsa tersenyum kikuk melihat seorang paruh baya itu yang begitu menawan.


"Oh ... kalau begitu, kamu masuk dulu, " kata ibu Aldo, mengajak gadis itu masuk ke dalam rumahnya.


"Iya tante,"


Ibu Aldo menyuruh gadis itu untuk duduk di sofa, yang berada di ruang tengah. Salsa ragu-ragu untuk berbicara dengan seorang paruh baya itu, karena baru pertama kalinya ia melihat orang yang begitu lembut kepada dirinya.


Yah, bisa di bilang kalau ibunya Salsa itu selalu saja memarahinya ketika membuat kesalahan, di larang keluar rumah malam-malam, di larang jalan sama pria, dan masih banyak lagi. Itu pun dia ibunya tidak pernah berkata lembut padanya.


"Tunggu, tante panggil dulu sih, Aldonya!" katanya mulai teriak dari lantai bawah. Ia menarik nafasnya dalam-dalam.


"Aldo! ada orang yang mencari kamu, tuh!" teriaknya sampai terdengar di seluruh ruangan.


"Iya mah, bentar lagi Aldo turun!"


Aldo pun turun menggunakan jas hitam, celana hitam, dan dasi biru, Aldo itu orangnya agak cereboh, yah.


Aldo pun duduk di samping ibunya. "Hei, Aldo. Dia siapa?" bisiknya ke telinga anaknya itu.


"Dia temanku, mah. Emang kenapa?"


"Dia cantik."


"Hmm ... tante. Boleh tidak aku bawa anak tante ini, jalan-jalan?" tanya Salsa menatap ibu dari pacar pura-puranya itu.


"Oh, boleh." Jawabnya tersenyum manis kepada gadis itu.


"Kalau begitu kita pergi dulu, tan." Balas Salsa tersenyum manis kepada ibunda Kelvin.


'Ternyata gadis ini bisa senyum juga, yah?' batin Aldo menyipitkan matanya sambil menatap gadis dingin itu.


"Baiklah, hati-hati di jalan." Ucapnya mengantar kedua orang itu ke pintu utama rumah.

__ADS_1


Sesampainya di rumah gadis dingin itu, ia menyuruh Aldo agar melakukan rencana yang


Salsa buat tadi.


"Baiklah ayo kita masuk, jangan buat kekacauan. Kalau tidak ... aku akan membunuhmu nanti." Kata gadis itu mengancam lelaki tersebut.


Pria itu hanya menelan salivanya dengan susah payah. "I-iya."


"Mah, pah. Aku pulang!" teriak Salsa sambil memeluk lengan pria itu dengan lembut membuat lelaki itu sedikit risih.


"Siapa dia?" tanya ibunda-nya sambil menunjuk Aldo yang berdiri seperti patung.


"Dia pacarku mah. Iya, 'kan sayang?"


tanya Salsa memeluk tangan Aldo semakin erat dan menyederkan kepalanya di bahu lelaki itu.


"Cih, sok manja pula." guman lelaki itu mendecih, tapi masih terdengar oleh gadis dingin itu.


KREK!


Salsa memperkuat pelukannya terhadap lengan lelaki itu membuatnya sedikit meringis kesakitan. "Kalau kamu tidak ingin nyawamu melayang, maka ikuti saja arahanku." bisik Salsa tanpa mengerakan giginya dan tidak memudarkan senyumannya itu kepada kedua orang tuanya.


"I–iya, sayang."


"Oh, baiklah. Kalian akan menikah besok!" ucap lelaki paruh baya dengan lantang dan jelas membuat kedua orang itu membulatkan matanya.


"APA?!" teriak mereka berdua serentak membuat kedua paruh baya itu terheran dengan tingkah kedua orang di depannya itu.


"Heh? kenapa kalian sampai kaget begitu? Bukannya kalian bahagia bisa menikah dengan orang yang kalian cintai?" tanya ibunya tersenyum manis.


"Heh? Oh, kami cuman kaget, mah. Karena kami gak nyangka kita memang berjodoh, hehehe ...." Ucap gadis dingin itu terkekeh geli.


"Oke, dan kamu ...?" tanya pria paruh baya itu menatap Aldo, sebenarnya papanya itu belum tau namanya.


"Huh? Oh, Aldo, paman."


"Baiklah Aldo, kamu wajib undang keluargamu." Balasnya tersenyum dingin.


"B–baik paman."

__ADS_1


perjalanan pulang ke rumah lelaki tersebut, Aldo dan Salsa terus saja mengeluarkan semua omelan mereka di dalam mobil.


"Bagaimana nih, Salsa?" tanya Aldo dengan nada ingin menangis karena ia tak ingin menikah sekarang.


"Aku juga gak tau."


Sesampainya di tujuan, gadis dingin itu dan lelaki itu duduk di sofa yang berada di ruang tamu dan membicarakan tentang pernikahan mereka kepada ibunya itu.


"Ibu, besok aku akan menikah dengan dia." Kata lelaki itu sedikit canggung kepada ibunya.


"Hah? Benarkah?"


"Iya, tante."


"Wah, baguslah kalau begitu. Mama setuju."


'Aduh, mah ... kenapa malah bilang setuju?' batin Aldo memegang kepalanya yang terasa berdenyut-denyut itu.


KREAK!


Seseorang baru saja pulang dari kantornya dengan memegang jas yang berada di tanganya.


"Papa pulang!"


"Selamat datang, pah." Balas ibunda Aldo.


"Siapa gadis ini?" tanyanya menatap gadis yang berada di samping putranya itu.


"Dia calon menantu kita, pah." Jawab wanita paruh baya tersebut.


"Hmm ...." Papa Aldo mendehem lama sambil menatap gadis itu dari ujung rambut sampai unjung kaki.


'Yes, pasti papa akan membatalkan pernikahan ini.' Batin lelaki itu bersorak gembira di dalam hatinya itu.


"Baiklah, papa setuju menjadi menantu kita." Lanjutnya tersenyum manis sambil menepuk-nepuk kepala gadis itu dengan lembut.


"Ahk?" Aldo hanya menganga, 'kan mulutnya lebar-lebar dengan ucapan papa tersayangnya itu. Dan kini kepala lelaki itu berrambah sakit.


"Kapan kalian menikah?"

__ADS_1


"Besok, pah." Jawab sang istri atau ibunda Aldo.


"Oke, besok kami pergi ke pernikahan kalian."


__ADS_2