Gadis Mafia [Masa Perbaikan]

Gadis Mafia [Masa Perbaikan]
BAB 35


__ADS_3

Keesokan paginya, semua siswa-siswi sudah pada bangun. Semua kelompok sudah kumpul dan siap mengikuti kegiatan lain seperti bermain dan lain sebagainya, menjelajahi hutan nanti malam agar lebih asik karena ada horor-horornya gitu.


Gadis dingin itu sedang di bawah pohon sambil membaca novel. Kalau dia ada waktu Elda hanya membaca novel sendirian. Itulah kebiasaannya dari SMP, dia selalu sendiri, kemudian Amora menghampiri gadis dingin itu.


"Elda!" panggil Amora, gadis dingin itu pun menoleh ke gadis yang memanggilnya itu, ah ... gadis dingin itu tidak tuli, yah. Dia cuman memakai earphone saja untuk mendengarkan musik.


"Apa?" tanyanya balik, dan kembali menoleh ke buku novelnya yang tengah dia pegang oleh kedua tangannya itu. Oh, iya, gadis dingin ini tidak suka basa-basi.


"Kamu baca novel apa lagi, aku juga mau baca," kata Amora duduk di samping gadis dingin itu yang sedang fokus membaca sambil mendengar alunan musik dari earphone-nya.


"Oh, aku lagi baca novel tentang anak sekolahan," balas Elda memperlihatkan judul novel tersebut kepada gadis yang berada di sampingnya itu.


"Boleh pinjam?"


"Apanya?"


"Novelnya, mau apa lagi coba? Pinjam earphone kamu."


"Etdah, aku juga baru satu halaman, kamu mau pinjam, padahal aku ingin baca sampai selesai," balas Elda, gadis yang berada di sampingnya itu hanya bertampang murung.


"Yah, udah. Aku pinjamin kamu untuk membacanya, aku ngalah saja." Elda menyodorkan buku novelnya kepada gadia tersebut.


"Hah, benaran?" tanya Amora gembira memegang buku novel yang di berikan oleh gadis dingin tersebut.


"Hm ...."


"Yes! Terima kasih, Elda." Amora memeluk gadis dingin itu sambil tersenyum gembira, sementara Elda merasa risih karena tiba-tiba dia dipeluk.


"A--Amora, sudah pe--peluknya. A--ku sesak na--napas!" gadis dingin itu menekan semua kata-katanya, membuat Amora tersadar bahwa Elda kehabisan napas.

__ADS_1


"Huh? Oh, maaf." Amora langsung melepaskan pelukannya, kini earphone yang gunakan oleh gadis dingin itu terlepas dari telinganya.


"Soalnya, cara meluk kamu erat banget, kaya peluk boneka."


"Emang."


"Hah?!"


"Karena kamu empuk banget kaya boneka teddy, mau aku peluk lagi?" tanya Amora mendekat ke gadis dingin itu.


"What? Tidak-tidak, aku tidak ingin dipeluk."


"Ayolah ...."


"Cukup! Aku bukan boneka!" teriak gadis dingin itu, membuat Amora menjauh darinya, jangan melawan kalau gadis dingin itu sedang marah.


"Terus?"


"Kamu, 'kan manusia."


'Ini orang bego atau gimana, sih? bikin kesal saja,' batin gadis dingin itu mendegus dengan kasar dia pun menatap gadis itu dengan tampang tanpa ekspresi.


"Kamu mau baca novel itu atau aku ambil balik, supaya kamu tidak membacanya?"


"Iya-iya, aku juga mau baca sekarang, jangan marah-marah nanti cepat dapat jodoh," kata Amora membuka satu persatu lembaran buku tersebut, ia masih setia duduk di samping gadis dingin itu.


***


Malam harinya semua kelompok sudah berkumpul dan siap mengikuti penjelajahan hutan. Guru dan panitia sudah siap di beberapa pos di dalam hutan untuk mengunggu tim yang akan datang. Kelompok gadis dingin itu sedang bersiap sedia, di ketuai oleh Aiden bukannya dirinya.

__ADS_1


Aiden menjadi ketua kelompok mereka, karena gadis dingin itu tidak ingin menjadi ketua dari kelompok yang merepotkan ini.


Penjelajahan hujan pun dimulai, Aiden sedang membaca peta petunjuk dimana pos pertama dan yang lainnya memegang senter.


"Menurut peta kita ke arah sini," kata Aiden menunjuk jalan yang dia ikuti di peta tersebut, gadis dingin itu hanya terdiam.


Semua anggotanya mengikutinya ke arah yang ditunjuk Aiden dan mereka berhasil menemukan pos pertama yaitu pos dari kakak gadis dingin itu.


"Selamat kalian sudah mendapat pos pertama," ucap lelaki itu memberikan selamat pada kelompok Aiden.


"Hai, Kak," sapa Elda menghampiri sang kakaknya itu yang sedang memakai seragam panitia.


"Hai, Adikku."


'Kakak?' tanya Aiden dalam membantin, ternyata dia telah salah sangka kalau Gale itu caper kepada gadis dingin itu, padahal mereka bersaudara.


"Ini peta ke pos kedua, semoga berhasil. Awas, kayaknya bulan akan ditutupi oleh awan," kata Gale tersenyum dingin kepada mereka semua, Elda hanya terdiam mendengar ucapan kakaknya itu.


"Terima kasih,"


Mereka semua pun berhasil melewati semua pos-pos yang ada tinggal satu pos lagi mereka akan berhasil keluar dari hutan ini. Zelda ketakutan kerena suara-suara mengerikan sudah terdengar.


"Aiden, aku takut ...," kata Zelda memegang tangan lelaki jangkung tersebut dengan erat, suaranya bergetar.


"Lepaskan, tangan aku!" pinta Aiden risih kepada gadis bermata sipit itu, Elda hanya menggulir bola matanya melihat drama ini dimulai lagi.


"Kayaknya tempat ini konon ada hantunya," kata Jefri yang merupakan salah satu anggota kelompok mereka.


"What?" Zelda langsung melototkan matanya mendengar perkataan Jefri itu.

__ADS_1


➖➖➖


__ADS_2