![Gadis Mafia [Masa Perbaikan]](https://asset.asean.biz.id/gadis-mafia--masa-perbaikan-.webp)
Gadis dingin itu berlari menghampiri sekumpulan orang tersebut. "Hei, kalian hentikan!!" teriakan Elda membuat mereka semua menoleh ke arah suara tersebut.
"Siapa, sih?" tanya leader geng jalanan tersebut. Pandangannya terkunci karena ia melihat seorang gadis sedang berjalan ke arahnya.
"Apa yang kalian lakukan pada perempuan itu, lepaskan dia!" pinta gadis dingin itu menunjuk panjang para gerombolan orang tersebut.
"Ini bukan urusan kamu anak kecil," kata leader geng itu menatap gadis dingin itu dengan gaya sombongnya.
"Anak kecil ...?" tanya gadis dingin itu menundukan kepalanya sambil tersenyum miring.
"Kalian, serang dia!" pinta leader geng tersebut, menyuruh anak buahnya menyerang gadis dingin yang tengah menunduk itu.
Mereka pun maju dengan memegang benda yang merupakan balok kayu. 'Satu lawan sepuluh? Oke,' batin Elda mendongak-kan kepalanya.
Mereka semua menyerang gadis dingin itu bersamaan, tapi dengan gesitnya, Elda berhasil menghindari serangan mereka, satu persatu gadis dingin itu mengalahkan anggota geng tersebut dengan tongkat kayu yang ia ambil dari salah satu anggota geng itu. Mereka semua pun kalah, tinggal sang leader geng tersebut yang tinggal.
"Sekarang giliran, kamu!" kata Elda mengarahkan tongkat kayu yang ia pegang kepada leader geng tersebut.
"A--aku menyerah," katanya berlutut di depan gadis dingin itu, Elda hanya menatapnya dengan tajam dan ia pun hanya mendecih, "Cih."
Gadis dingin itu pun melempar tongkat kayu tersebut tepat di depan leader geng itu, kemudian ia menghampiri perempuan tersebut.
"Kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanya Elda berjongkok untuk melihat gadis tersebut yang sedang terduduk di tanah karena takut.
"A--aku, tidak papa," jawabnya bersuara rendah.
"Biar aku antar kamu pulang," ajak gadis dingin itu yang membantunya untuk berdiri, ia pun membawanya ke motor.
Di perjalanan ke rumah gadis tersebut, hanya ada keheningan dan suara mesin motor saja yang terdengar, Elda pun membuka percakapan. "Nama kamu siapa?" tanya gadis dingin itu sambik memakai helm.
"Namaku, Kaila Lavinia," jawab gadis itu, dengan suara rendah dan pelan.
"Oh, kamu anak SMA Geumdo, yah?" tanya gadis dingin itu menoleh ke arah Kaila yang berada di belakangnya.
"Iya, nama kamu siapa?"
"Aku, Elda Celeste. Anak kelas sebelas IPA. B," gadis dingin itu hanya fokus ke jalan. Kaila hanya tersenyum.
__ADS_1
"Oh, kalau aku sebelas IPA. C."
Beberapa menit kemudian, mereka pun telah sampai di rumah gadis tersebut. "Aku pergi dulu," pamit gadis dingin itu pergi meninggalkan Kaila.
'Orang yang baik,' batinya tersenyum. 'Astaga, aku lupa berterima kasih kepadanya,' lanjutnya memegang kepalanya.
***
Elda telah memakirkan motornya di pakiran rumahnya, dia pun bergegas masuk ke dalam bangunan yang besar itu.
"Aku pulang," kata gadis dingin itu.
"Selamat datang, Nona," maid itu menyambut nona rumah itu yang baru saja pulang dari sekolah.
"Bibi, masak apa sekarang?" tanya Elda menghampiri maid tersebut yang tengah membungkukan tubuhnya.
"Masak makanan favoritnya, Nona, " jawab maid itu mendongak-kan kepalanya untuk menatap gadis dingin itu.
Gadis dingin itu pun menuju ke dapur untuk makan siang, karena tadi ia tidak sempat makan pas waktu istirahat. Elda makan makanan yang telah di sediakan maid itu.
"Terima kasih, Nona."
***
Keesokan paginya, gadis dingin itu pergi ke sekolah seperti biasa, di tengah perjalanan ke sekolah, ia berhenti di minimarket. Gadis dingin itu sudah mendorong pintu minimarket itu, kemudian pandangannya terkunci kepada seorang gadis dan laki-laki yang sedang menatapnya juga.
"Hai, kakak!" panggil gadis itu melambaikan tangannya kepada gadis dingin itu.
"Eh, Zeta? Ngapain kau di sini? Dan siapa dia?" tanya Elda menunjuk laki-laki yang berada di samping adiknya itu.
"Saya calon pacarnya, kak. Nama saya Reyhan," kata laki-laki itu tersenyum kepada gadis dingin itu.
'Huh? Calon pacar? Mau cari mati, nih, bocah.' Elda hanya menyipitkan matanya sambil mengangkat sebelah bibirnya.
Ia pun mendekati laki-laki tersebut dan mencondongkan tubuhnya. "Kalau kamu ingin menjadi pacar Adik aku, kamu harus bisa melindunginya. Jika tidak aku akan membunuhmu," bisik Elda membuat laki-laki itu menelan salivanya dengan kasar.
"Ba–baiklah, aku akan me–melindunginya." Elda pun menarik tubuhnya kembali sambil tersenyum miring melihat wajah takut laki-laki itu.
__ADS_1
"Kenapa, Kak?" tanya Zeta kepada kakak dinginnya itu yang sedang menatap Reyhan sedang sadis.
"Tidak ada. Kakak pergi dulu," katanya melambaikan tangan kepada mereka berdua.
"Dah, Kak!"
Gadis dingin itu pun pergi meninggalkan Zeta dan Reyhan. Beberapa menit yang lalu, ada orang yang sedang mengawasi mereka bertiga dari jauh, siapa lagi kalau bukan anggota geng jalanan kemarin, orang tersebut menghubungi leadernya.
"Halo, boss. Kita punya mangsa untuk memancing Perempuan yang memukul kita kemarin boss," katanya.
"Bagus, terus awasi dia. Kalau sudah pulang sekolah langsung culik gadis itu," balas leader geng tersebut.
"Baik, boss."
***
Sore harinya semua orang sudah pada pulang dari sekolah, gadis dingin itu sudah di rumahnya dan menganti bajunya, tiba-tiba ada pesan masuk lewat ponselnya.
"Dari, Zeta?" guman Elda menatap layar ponselnya yang terdapat pesan dari adiknya itu. Tumben jam segini dia belum pulang.
Zeta :
[Serahkan dirimu atau Adikmu akan menerima akibatnya!]
Gadis dingin itu membulatkan matanya, apa saja dia liat dari pesan chat tersebut, apakah adiknya dalam bahaya? Ia pun membalas pesan tersebut.
Elda :
[Kalian siapa, hah? Mana Adikku, sialan!]
Zeta :
[Aku adalah leader geng yang kamu pukul kemarin, segeralah datang. Ini lokasinya, jika kamu tidak ingin Adikmu mati di tanganku.]
Elda melempar ponselnya ke king-sizenya, ia hanya mengacak-ngacak rambutnya frustasi. 'Sial,' umpatnya mengigit bibir bawahnya.
***
__ADS_1