Gadis Mafia [Masa Perbaikan]

Gadis Mafia [Masa Perbaikan]
BAB 9


__ADS_3

Mereka pun sampai di kelasnya dan langsung duduk di tempat masing-masing.


Jam pulang pun tiba. Semua siswa-siswi pada berhamburan untuk pulang ke rumah masing-masing. Di halaman sekolah Elda dan Amora berjalan ke pakiran untuk mengambil kendaraannya.


"Elda, aku duluan yah," ucap Amora menaiki kendaraannya sambil pamit kepada temannya tersebut yang sedang berdiri sambil mengandeng tas di punggungnya.


"Iya, hati-hati di jalan," balas Elda tersenyum kecil sambil memiringkan kepalanya untuk melihat Amora pergi.


"Dah, Elda!" pamit Amora melajukan motornya dan gadis dingin itu melambaikan tangannya kepada Amora yang semakin menjauh dari penglihatannya.


"Wah, siapa tuh?" tanya Gale tiba-tiba muncul dari belakang Elda, sontak membuat gadis dingin itu keget dan melayangkan tangannya kepada orang yang berada dibelakangnya.


Gale pun berhasil menangkap kepalan tangan Elda yang ingin melayang ke wajah tampannya. "Hei, santai. Gak usah emosian begitu juga kali," ucap Gale masih memegang tangan adiknya yang sedang mode kesal.


Elda pun mendengus kasar. "Siapa suruh ngagetin orang tiba-tiba," ucap Elda menurunkan tangannya, lalu ia menatap kakaknya dengan tajam.


"Hehehe ... Maaf," balas Gale menggaruk tenguknya yang tidak gatal. Ia mengalikan pandangannya dari adik manisnya tersebut.


"Maaf, maaf. Untung saudara aku kalau tidak ...." ucapan Elda terhenti di tengah jalan. "Aku akan keluarin jurus pukulan pegasus dan jurus mematikan ala Saitama, hahaha ...!" lanjut Elda menyilangkan kedua tangannya di dada, sambil tertawa psikopat.


"Psikopat." Guman Gale. "Omong-omong ... tadi itu siapa?" tanya Gale kepada Elda yang sedang menunduk menendang kerikil kecil yang berada di tanah.


"Hantu," jawab Elda kesal terhadap kakaknya yang selalu membuatnya dirinya ingin melempar kakaknya itu ke jurang yang paling dalam.


"Hantu mana bisa naik motor, Elda ...." Ucap Gale menampar jidatnya dan bernada kesal terhadap adiknya tersebut.


"Udah tau manusia ... kenapa tanya lagi, idiot!" bentak Elda kesal sambil menatap Gale dengan tatapan ingin mencincang-cincang korbannya saja.


"Iya-iya. Jawab tadi itu siapa?" tanya Gale samakin penasaran. Dasar kepo.


"Itu tadi Amora."

__ADS_1


"Oh, sekarang dia teman kamu?" tanya Gale melempar semua rasa penasarannya kepada Elda. Membuat gadis itu kesal dan marah.


'Ya, tuhan. Apakah aku bisa membunuh dia?' batin Elda. Pandangannya mengarah ke atas langit sambil terganga mengucapkan sesuatu dalam hati.


Elda pun menarik nafasnya sambil menutup matanya terpaksa. "Elda, kamu harus bersabar. Orang sabar disayang tuhan, 'kan?" guman gadis itu sampai tidak terdengar oleh makhluk halus pun.


"Idih, kepo banget sih, jadi orang!" ketus Elda menoleh ke arah kakaknya yang banyak tanya itu.


"Terus kalau gak kepo ... jadi apa?" tanya Gale polos, sambil mengetuk-ngetuk dagunya menggunakan telunjukanya dan ia melihat ke atas.


Batas kesabaran Elda sudah tidak terkontrol lagi. "Aaarrghhh ... jadi batu aja sekalian!!!" teriak Elda kepada Gale membuatnya pergi meninggalkan kakaknya. Ia memutuskan untuk pulang dengan hanya berjalan kaki saja.


"Eh-eh? Elda, jangan ngambek begitu, dong~" ucap Gale mengejar adiknya yang sedang merajuk itu.


Elda pun memberhentikan langkahnya. Ia menarik nafas, kemudian menghembuskannya dengan kasar


"Yah, udah. Kita pulang sekarang aku mau istirahat," ketus Elda masuk ke mobil kakaknya tanpa seizin pemiliknya itu.


"Awas aja kamu, kalau kau buat aku emosi lagi ... siap-siap nyawa kamu akan melayang hari ini juga," ucap Elda menatap sinis kakaknya dengan urat-urat yang berada di wajahnya sudah naik.


Gale hanya menelan salivanya dengan susah payah. Papa Elda pun memanggil gadis tersebut. "Elda, kesini sebentar," panggil papanya sambil duduk santai di sofa.


"Eh? Papa. Papa libur, yah?" tanya Elda menghampiri sang papa yang tengah duduk santai di sofa.


"Iya, Papa sekarang ambil cuti dulu."


"Oh. Ada apa pah, panggil Elda?" tanya Elda duduk di sofa sambil melirik papanya itu.


"Tadi, papa liat. Elda sedang menatap sesuatu tuh ... sebenarnya ada apa sih? papa kepo nih...," tanya papa Elda penasaran.


'Ternyata papa sama anaknya, sama-sama kepo, tentang masalah hidup orang,' batin Elda sambil menyipitkan matanya.

__ADS_1


"Jadi gini pah—" gadis dingin itu ingin melanjutkan ucapannya, namun tiba-tiba Gale muncul dari belakang sofa dan mengagetkan mereka berdua.


"Apa ...?"


"Arghh ...!" Jerit Elda kaget dan langsung mengambil teko yang berada di atas meja, kemudian memukul kepala kakaknya itu menggunakan teko tersebut.


DUAK!!


"Aduh, sakit Elda!!" lelaki itu meraba-raba kepalanya. "Apa ini ...?" tanya Gale merasakan sesuatu yang berbentuk bulat menonjol di kepalanya.


Ia pun berlari ke arah cermin dan melihat kepalanya terdapat benjol besar memerah. "A–apa yang ada di kepalaku ini?" tanya Gale, ia pun memencet bejolannya.


"Awss, sakit. Huwaa ... kamu harus tanggung jawab bikin kepalaku jadi begini," ringis Gale kesakitan membuat air mata lelaki tersebut menetes di pipinya.


"Syukurin ... suruh siapa kagetin orang terus!" ucap Elda melihat kakaknya yang sedang menangis menatap dirinya sendiri yang sedang kemalangan.


"Hiks ... Hiks ...," tangis Gale pergi menuju ke arah sofa dan langsung duduk di samping papanya berada.


Papanya melihat kedua tingkah anaknya tersebut, ia hanya ketawa kecil. Mereka berdua pun saling bertukar pandangan sehingga terdapat aliran listrik yang mengalir di mata mereka berdua.


"Yah udah, aku lanjutin. Jadi, gini pah ...." ucap Elda menjelaskan panjang lebar.


"Oh, jadi, ini kebenaran nya toh," ucap Gale menganggukan kepalanya keatas kebawah, sambil menutup matanya.


"Wah, anak papa punya teman baru. Lain kali ajak main temanmu kesini sekali-kali," ucap papa Elda.


"Iya pah."


________________


#TBC

__ADS_1


__ADS_2