![Gadis Mafia [Masa Perbaikan]](https://asset.asean.biz.id/gadis-mafia--masa-perbaikan-.webp)
Ibu Rina pun menghitung jumlah suara tersebut, dia tampak serius dengan kertas lembaran yang ia pegang itu, ia hanya menatap sekilas semua anak muridnya, kemudian kembali menatap lembaran kertas tersebut.
'Heh, kamu pasti kalah, gadis beruang kutub selatan,' batin gadis bermata sipit itu sambil senyum miring.
"Poin suara untuk Elda Celeste, adalah delapan poin," ucap ibu Rina menatap gadis dingin itu yang terlihat santai menunggu siapakah yang akan menjadi ketua kelas.
'Poin aku akan lebih besar dari gadis dingin itu,' batin lelaki jangkung itu sambil menoleh sekilas untuk menatap Elda yang sedang fokus ke depan.
Elda yang mendengar isi pikiran lelaki jangkung itu hanya tersenyum kecil. "Dan poin suara untuk Aiden Lawrence, adalah tujuh poin," lanjut ibu Rina sambil menatap lelaki jangkung itu.
'Tepat yang aku harapkan,' batin Elda sambil tersenyum miring. Sedangkan Aiden hanya langsung membulatkan matanya, bagaimana bisa gadis dingin itu kalah darinya? Ielaki jangkung itu pun berdiri.
"Maaf, bu. Bisa di jelaskan?" tanya Aiden yang merasa bingung dengan hasil penghitungan suara tersebut.
"Dalam kelas ini, ada dua puluh dua orang. Kamu dan Elda tidak ikut dalam pemilihan, karena kalian mendaftar jadi ketua kelas. Jadi jumlah orang yang memilih cuman dua puluh orang, ada poin yang tidak di hitung yaitu lima. Karena ada coretan, sobekan, dan kotor, jadi itu tidak di hitung," jelas Ibu Rina.
'Makanya ... jadi orang itu jangan belagu,' batin gadis dingin itu.
"Jadi yang menjadi ketua kelas adalah Elda Celeste dan wakil ketua kelas, Aiden Lawrence," ucap ibu Rina meninggalkan kelas tersebut.
Kelas telah bubar, sedangkan Amora dan gadis dingin itu masih di dalam kelas, sambil mengobrol. "Terima kasih, Amora. Sudah bantuin aku," ucap gadis beku itu sambil menepuk bahu Amora.
"Sama-sama," Amora hanya tersenyum.
"Elda, selamat," kata Milan tiba-tiba datang menghampiri kedua gadis itu yang sedang mengobrol senang.
"Terima kasih, Milan. Oh, kenapa kamu mengundurkan diri menjadi ketua kelas?" tanya gadis dingin itu sambil menatap mantan ketia kelas tersebut.
"Karena aku sudah lelah, di cuekin terus kalau ada yang membuat pelanggaran kelas, malahan mereka tidak mendengar aku sama sekali, begitu pun dengan Randi," jawab Milan sambil tersenyum.
"Oh ... gitu," kata gadis dingin itu dan Amora bersamaan, mereka membulatkan mulutnya menjadi bentuk 'O'
__ADS_1
"Sekarang aku jadi murid biasa, wuhuu ...!" tawa Milan dengan penuh kemenangan, ia pun pergi meninggalkan kelas.
Gadis dingin itu sama Amora hanya menyipitkan matanya melihat kepergian mantan ketua kelas itu. "Dia sudah berapa lama menjadi ketua kelas?" tanya Elda.
"Dari kelas satu," jawab Amora kembali menatap gadis dingin itu yang sedang menatapnya juga.
"Ayo kita kekantin," ajak gadis dingin itu berdiri dari tempat duduknya sambil merangkul bahu Amora.
***
Ada soleorang yang pusing memegang kepalanya."Arrgghh ... sebenarnya, kalian ini pilih siapa, sih? Kok gadis dingin itu bisa menang?!" lelaki jangkung itu stres sambil menatap sahabatnya itu.
Mereka bertiga saling menoleh dan bertukar pandangan. "Kami pilih, gadis dingin itu," jawab mereka santai sambil memiringkan kepalanya.
"Hah?!" lelaki jangkung itu hanya shock mendengar jawab tersebut, apalagi mereka adalah teman akrabnya, kenapa mereka berhianat?
"Dasar penghiatan!!" teriak Aiden mengepalkan tangannya sambil menatap ingin membunuh mereka bertiga. Ketiga temannya itu hanya menelan salivanya.
'Gawat, sang leader marah!!' teriak mereka sambil berteriak dalam batinnya, mereka pernah melihat Aiden mengamuk seperti singa, sampai-sampai dulu dia pernah membuat masalah di kantin, dan mereka tidak ingin itu terulang lagi.
"Eh? Kirain mau marah," kata mereka bertiga sambil menatap leadernya yang sedang berjongkok sambil menenggelamkan kepalanya.
"Aku sudah marah!!"
"Kami, minta maaf. Kami tidak akam mengulanginya lagi."
"Iya, aku maafin kalian. Tapi kalau kalian berhiatan lagi, aku tidak segan-segan membunuh kalian secara berantai," kata lelaki jangkung itu berdiri, lalu mendekat ke arah ketiga temannya itu.
"B–baik, kami tidak akan melakukannya lagi," balas mereka bergetar.
***
__ADS_1
Amora dan gadis ingin itu masih berjalan di koridor, sambil berbincang-bincanglah masalah pribadi mereka. Seorang langsung menhampiri mereka berdua dari lawan arah.
"Hai, nama aku Adrian," katanya mengulurkan tangan panjangnya kepada mereka berdua, Amora melihat itu langsung menatapnya.
"Oh, aku Amora. Salam kenal," Amora membalas uluran tangan tersebut dengan ramah dan tersenyum.
"Dan, dia si–"
"Aku Elda," potong Elda dingin, tanpa membalas uluran tangan lelaki itu, Adrian menarik kembali tangannya karena gadis dingin itu tidak membalasnya.
'Elda? Kayanya enggak asing lagi dengan nama itu. Oh ... sekarang aku ingat,' batin Adrian sambil menumbuk tangannya.
"Kamu Elda, 'kan? Yang dulu satu SMP denganku, kamu juga selalu mendapat rangking pertama," katanya sambil mendekatkan tubuhnya kepada gadis dingin itu.
"Hmm ...," balas Elda singkat, tanpa menoleh ke arah lelaki itu.
"Hah? Kalian dulu satu sekolah?" tanya Amora.
"Iya."
'Sebenarnya aku suka sama dia sejak kelas satu SMP sampai sekarang perasaan ku belum berubah juga. Dia dulu selalu sendirian, aku ingin mendekatinya, tapi malu-malu. Mungkin ini takdir, aku ketemu lagi sama dia. Aku harus membuatnya jatuh hati sama aku,' batin Adrian tersenyum.
Gadis dingin itu sebenarnya mendengar isi hati lelaki yang berada di hadapannya itu. Dia cuman tidak ingin membuat masalash sekarang. "Hei, cewek dingin, kenapa aku bisa menang?" tanya gadis betmata sipit itu sambil melipat kedua tangan di dadanya.
"Heh, rencana busuk kamu enggak bakalan berhasil menjatuhkan aku, dasar mak lampir," jawab Elda dengan senyum miring.
"Berani kamu, yah!" Zelda ingin menampar gadis dingin itu, tapi Adrian berhasil menahan tangan gadis bermata sipit itu.
"Hei, sudahlah, kita bisa membicarakan itu dengan kepala dingin," kata Adrian menepiskan tangan Zelda dengan pelan sambil tersenyum.
"Jangan ikut campur urusanku, dasar murid baru!" kata Zelda memajukan dirinya untuk melawan lelaki tersebut.
__ADS_1
Gadis dingin itu segera menarik paksa tangan Adrian dan Amora, supaya menjauh dari gadis bermata sipit itu. Elda sengaja membawa mereka berdua agar mereka tidak membuat masalah yang dapat melibatkan guru.
***