Gadis Mafia [Masa Perbaikan]

Gadis Mafia [Masa Perbaikan]
BAB 23


__ADS_3

Semua siswa-siswi yang melihat atau menyaksikan kejadian tersebut hanya menatap gadis dingin itu pergi sambil perkata 'Keren'.


Sedangkan Amora dan Sena pergi menyusul gadis dingin itu yang berada di halaman sekolah.


Suara langkah kaki gadis itu terus semakin pelan. Setelah ia menjauh dari kawasan tadi ia pun memberhentikan langkahnya.


BRUK!


Elda terduduk sambil memegang pundaknya kirinya yang terasa sakit. "P–pundakku patah ...," suara gadis dingin itu bergetar karena ia sedang menahan sakit yang berada di pundaknya.


Tiba-tiba ada seorang lelaki berdiri di hadapannya membuat cahaya yang menyinarinya tertutup oleh tubuh lelaki itu.


Elda mendongak-kan kepalanya dan menlihat siapakah orang berada di hapannya itu. "Hadeh, Elda, Elda. Sudah aku bilang kamu harus lebih hati-hati, jangan melakukan hal nekat lagi," kata Gale menampar jidatnya.


"Hihihi ... maaf kak," Elda tersenyum dan memejamkan matanya kepada kakaknya itu, beberapa detik kemudian wajah gadis dingin itu berubah menjadi datar.


"Maaf, Maaf. Sakit gak?" tanya lelaki itu menatap adik dinginnya itu dengan wajah tidak peduli dengan keadaan orang yang ada di hadapanya itu.


Urat dahi gadis dingin itu mulai naik. Pertanyaan yang bikin orang kesal. "Kamu liat sendirikan, aku lagi memegang pundak-ku yang patah ini."


"Iya-iya, sini naik," kata Gale berjongkok membelakangi dan menyuruh gadis dingin itu untuk naik ke punggungnya.


Elda hanya menatap punggung kakaknya itu, ia pun berdiri sambil memegang pundaknya dan naik ke punggung lelaki itu.


"Hah ... berat sekali," kata Gale mengendong adik dinginnya itu.


"Aku nggak terlalu berat tau!"


"Terserah kamu aja."


"Kalau aku di gendong kaya gini, aku jafi kangen banget waktu masih kecil selalu di gendong sama kamu," kata Elda.


"Hahaha ... kamu, dulu manja banget. Kalau aku nggak mau menggendongmu, kamu malah nangis, dasar cengeng!" ejek Gale sambil tertawa.


"Itu, 'kan dulu," kata gadis dingin itu memukul kepala Gale dengan tangan yang satunya lagi.


"Aws, sakit tau. Kalau kamu pukul aku lagi ... aku gak segan-segan jatuhin kamu secara terpaksa," ancam Gale kepada adik bekunya itu.

__ADS_1


Elda hanya mengembungkan pipinya. 'Dasar iblis berwajah tampan,' batin Elda.


Amora dan Sena telah sampai di halaman sekolah, mereka pun melihat Elda bersama dengan kakaknya, itupun membuat kedua gadis itu meraa lega.


Sesampainya di ruang kesehatan.


"Lukanya tidak terlalu parah, kamu akan pulih dalam seminggu. Sebaiknya kamu pulang saja ke rumah untuk istirahat, ibu akan meminta izin kepada wali kelasmu," kata wanita yang merupakan perawat sekolah.


"Makasih, bu," kata Gale.


***


Keesokan harinya, Elda ke sekolah dengan menggunakan kain yang terbalut di tangannya. Sesampainya di halaman sekolah, ternyata para siswa-siswi pada berkumpul untuk menunggu gadis dingin itu datang, Elda hanya memberhentikan langkahnya.


"Yang kemarin kamu lakukan itu luar biasa!"


"Aku sampai tersentuh oleh ucapanmu!"


"Hebat! kamu keren sekali loh."


Semua pujian itu membuat gadis dingin itu menutup wajahnya karena pipi gadis dingin itu sekarang sedang memerah, tapi tidak telalu merah banget, sih, ia pun memalingkan wajahnya, lalu tersenyum miring.


"Elda, kamu nggak apa-apa?" tanya Amora khawatir.


"Aku, gak papa. Cuman pundak-ku patah dan akan pulih dalam seminggu."


"Oh, cepat sembuh, yah. Kemarin aku sama Sena khawatir banget kamu kenapa-napa," kata Amora.


"Maaf, aku belum sempat menghampiri kalian berdua."


"Iya, tidak papa," balas Amora tersenyum kepada gadis dingin itu


***


Setelah pulang sekolah, Elda langsung ke kamar dan menganti bajunya, kemudian ia menelepon seseorang.


"Halo, Arga," panggil gadis dingin itu.

__ADS_1


"Ada apa, nona?" tanya Arga.


"Apa kamu sudah menemukan orang yang aku suruh untuk mencarinya?"


"Maaf, nona. Aku dan rekan-rekan yang lain belum menemui petunjuk tentang orang tersebut."


"Baiklah, kalau kamu telah menemukan pentunjuk, silakan hubungi aku."


"Baik, nona."


Tut–


'Hah ... kapan masalah ini berakhir?' batin gadis dingin itu memegang kepalanya dengan satu tangannya yang sedang pusing itu.


***


Seminggu kemudian. Elda telah pulih dari sakitnya, lalu ibunya memanggil anak gadisnya itu ke ruangannya.


"Elda, ikut mama."


"Ada apa, ma?" tanya gadis itu menghampiri sang ibu yang sudah masuk ke dalam ruangannya.


"Mama ingin kamu tinggal di rumah barumu."


"Hah? Mama belikan aku rumah?" tanya Elda bersorak gembira.


"Iya, di sana juga ada pembantu dan mama sudah siapkan motor untuk di sana. Nanti bereskan barang-barang kamu, mama akan menggantarkan-mu ke rumah barumu. Rumah itu tidak terlalu jauh dari sini."


Gadis itu hanya bertanya-tanya dalam hatinya. "Kok, tiba-tiba mama ngasih aku rumah?" tanya Elda kepada ibunya itu yang sedang berjalan menuju lemari bajunya.


Salsa hanya tersenyum dengan pertanyaan anak gadisnya ini. "Karena kamu sudah menjadi mafia yang mama inginkan."


"Darimana mama tau?"


"Bodyguard mama yang ngasih tau," jawab Salsa menengok ke arah Elda.


'Oh, iya. Aku lupa kalau bodyguard yang bersamaku adalah bodyguard punya mama,' batin gadis dingin itu.

__ADS_1


"Kalau begitu ... aku pergi kemas barang-barang aku dulu, yah ma," gadis dingin itu pergi menuju ke kamarnya sedangkan Salsa hanya menatap anaknya itu sambil tersenyum.


'Yes, yes. Aku punya rumah pribadi,' batin gadis dingin itu gembira sambil melompat-lompat.


__ADS_2