![Gadis Mafia [Masa Perbaikan]](https://asset.asean.biz.id/gadis-mafia--masa-perbaikan-.webp)
Gadis dingin itu kembali mengambil ponselnya yang ia lempar tadi. Kemudian ia menelepon ibunya untuk membantunya menyelamatkan adiknya.
"Halo, Ma," panggil gadis dingin itu mengenggam ponsel di tangannya dan meletakan ponsel itu di telinganya.
"Ada ada, Nak?" tanya Salsa kepada anak gadisnya itu, dia mendengar suara Elda agak sedikit berbeda dari biasanya.
"Ada orang yang menculik Zeta, Ma!"
"Kenapa bisa?"
"Jadi gini, Ma ...." Elda pun menjelaskan semua peristiwa yang ia alami kemarin melalui via telepon, ibunya yang mendengar itu hanya menganggukan kepalanya.
"Aku akan membantumu."
"Biar aku yang urus, Ma. Supaya mereka tidak curiga kalau aku sedang bersama orang lain," kata gadis dingin itu dengan suara berat.
"Baiklah, Mama akan mengirim semua Bodyguard Mama untuk membantu kamu," ucap Salsa yang berada di seberang telepon yang jauh di sana.
"Oke, Ma. Makasih."
"Sama-sama, Nak."
Tut–
Gadis dingin itu pun menutup teleponnya, ia menghela nafas berat sambil memegang kepalanya yang sudah berdenyut itu, ia pun melanjutkan untuk menelepon Arga.
"Halo, Arga."
__ADS_1
"Ada apa, Nona?"
"Tolong bantu aku menyelamatin Adikku, nanti aku kirim alamat dimana lokasinya melalui pesan. Kita berkumpul dan membuat rencana untuk memusnahkan mereka," jelas gadis dingin itu.
"Baik, Nona."
Tut--
'Kenapa aku tidak membunuh dia dari awal, sih? Lagipun akh besok mau kemah, ahh ... puyeng pala aku!' batin gadis dingin itu megacak-ngacak rambutnya frustasi.
"Elda, tolong aku ...," tiba-tiba suara itu muncul dalam benaknya membuat gadis dingin itu membulatkan matanya.
"Se--sena?"
"Tolong aku, aku sudah lelah di bully sama mereka." Elda pun langsung was-was karena benaknya memunculkan kembali sosok masa lalu sahabatnya itu yang di bunuh oleh empat iblis itu. Ia masih tidak terima kalau sahabatnya itu meminta bantuannya sebelum dia dibunuh.
"Sena, aku-- Akh ... shh ... sakit," gadis dingin itu langsung memegang dadanya kemudian ia memukul-mukul dadanya yang kembali terasa sesak itu. Ia segera membuka laci lemarinya untuk mencari obat penenang.
***
Malam harinya, pukul 19.00, gadis dingin ini pun hampir sampai tujuan bersama bodyguardnya, di tengah perjalanan mereka pun membuat rencana.
Rencananya adalah gadis dingin itu menyuruh semua bodyguardnya untuk bersembunyi dulu dan ia akan masuk sendiri ke markas geng tersebut, apabila dia memberi isyarat 'Sekarang' dan mendengar suara pistol satu kali, mereka semua akan keluar dari tempat persembunyian tersebut.
Gadis dingin itu pun masuk ke markas mereka. "Wah, wah. Orang yang kita cari sudah datang, datang rupannya," kata leader geng itu dengan 30 orang anak buahnya yang memegang senjata senjata tajam.
"Lepaskan Adik, aku!" pinta gadis dingin itu teriak.
__ADS_1
"Kakak," ucap Zeta dengan mulut di tutup menggunakan lapban hitam kedua tangannya juga di ikat ke belakang.
"Serahkan, diri kamu dulu!"
"Kalau aku tidak mau?" tanya gadis dingin itu meletakan kedua tangannya di saku celananya yamg terdapat sesuatu di dalamnya.
"Argh ... serang dia sekarang!" pinta leader geng itu menyuruh menyerang gadis dingin itu secara bersamaan.
Elda pun memberi isyarat pada seluruh pasukannya. "Sekarang!" teriak gadis dingin itu mengangkat satu pistol dari sakunya, kemudian ia menembak ke arah atas sekali saja.
DOR!
Para bodyguardnya pun pada keluar untuk membantu gadis dingin itu dan melepaskan ikatan Zeta. Elda berhasil menembak beberapa orang di wajahnya, dadanya, dan kepalanya yang terdapat percikan darah dari orang yang ia tembak, mereka semua pun sudah tewas dan tinggal leader seoarang.
"Si--siapa kamu sebenarnya?" tanya leader geng itu ketakutan ia terus berjalan mundur agar gadis yang wajahnya sudah di lumuri darah tidak mendekatinya. Pria itu salah langkah ia pun langsung duduk di lantai gdang tau itu.
"Mau tau siapa aku?" tanya Elda langsung menarik baju pria itu dengan satu tangannya dan tangan satunya lagi sedang memegang pistol. Pria itu hanya menelan salivanya dengan kasar.
"Aku adalah seorang mafia yang kejam, cantik, dan juga dingin, yang ditakuti oleh semua orang, tapi identitasku masih tersembunyi dan juga rahasia. Hanya orang tertentu yang tau identitasku yang sebenarnya. Masih ingin bermain-main denganku?" tanya Elda berbisik di telinga pria itu dengan lantang.
"Aku tidak takut sama kamu!" pria tersebut mengeluarkan pisau dari kantong celana, tapi Elda berhasil menahan pisau itu yang ingin menusuknya, ia berhasil menahan pisau yang bagian tajam nya sehingga tangan gadis dingin itu mengeluarkan darah di telapak tangannya, kemudian Elda mengambil paksa pisau itu walaupun tangannya berdarah, pria itu jugavtak ingin kalah ia mengambil kembali pisaunya kemudian ia mengores sedikit leher gadis dingin itu.
"Shh ...." Elda meringis sambil mengedipkan matanya sebelah menahan sakit ke lehernya itu.
"Nona!" teriak Arga. Gadis dingin itu tidak tinggal diam di langsung mengambil pisau itu dengan sekuat tenaga dan melemparnya ke segela arah. Ia pun berdiri sambil menatap seram pria itu.
"Oh, iya? Kalau begitu ...." Elda memberhentikan ucapannya dan mulai menyampingkan tubuhnya, ia menatap pria itu lewat ekor matanya.
__ADS_1
"Selamat tinggal," lanjutnya dengan suara seram, dia pun melepaskan beberapa peluru pistol tersebut ke arah pria itu dan menembaknya beberapa kali hingga tewas.
***