Gadis Mafia [Masa Perbaikan]

Gadis Mafia [Masa Perbaikan]
BAB 15


__ADS_3

"Kasihan kamu yah. Aku mau bawa pulang kamu, tapi ... nanti di marahin sama papa dan mama," ucap Elda mengelus kucing tersebut dengan lembut.


Pip ... Pip ... Pip ...


"Elda, ngapain kamu disana?" tanya papa Elda membuka jendela mobilnya, sambil sedang melihat anak perempuannya yang tengah jongkok mengelus kucing.


Elda pun menoleh ke sumber suara itu. "Eh, papa. Aku lagi ngasih makan kucing, pah. Kasihan tidak ada yang memelihara dia," jawab Elda menatap prihatin kepada kucing yang sedang ia elus kepalanya.


"Udah bawa pulang aja." ucapan langsung dari papanya membuat gadis kecil itu bersemangat dengan mata berbinar-binar.


"Serius pah? Tapi ... Bagaimana nanti kalau mama marah," gadis itu menundukan kepalanya menatap kucingnya yang sedang menatapnya juga.


"Yang penting kamu mandiin dia sampai bersih," gadis kecil itu pun mendongak-kan kepalanya. Dia kira papanya tidak akan mengizinkannya, tapi sulit dipercaya.


"Horee!! Ayo pus." ucap Elda mengendong kucing tersebut di pangkuannya.


Meong~


Sesampainya dirumah, Elda langsung memandikan kucing itu hingga bulunya berwarna putih. Karena terkena debu atau kotoran, bulu putihnya tertutup oleh debu itu.


"Hah ... lelahnya," ucap Elda melempar dirinya di kasur yang empuknya.


"Ternyata bulunya warna putih, kenapa bisa jadi abu-abu, yah?" tanyanya sambil berguman memandangi langit-langit kamarnya.


'Aura ini ....' Batin Elda kembali merasakan aura aneh yang berada di dekatnya.


"Hei, Elda!" sapa sosok hantu yang kenal oleh gadis dingin itu. Ia duduk di tepi kasur sambil melihat gadis dingin itu sedang dalam posisi terlentang.


'Sudah kuduga.' Batin Elda menyipitkan matanya. Kemudian ia sit up dari posisi terlentangnya. "Ada apa, Sena?" tanya Elda duduk di samping sahabatnya itu.


"Aku punya permintaan," Jawab Sena menoleh kepada gadis yang berada di sampingnya itu yang sedang menatapnya datar.


"Apa itu?" pertanyaan itu langsung dibalas oleh gadis dingin yang berada di sampingnya dengan sigap dan cepat.

__ADS_1


"Aku ingin banget merasakan masa sekolah bersama kamu," jawabnya kepada Elda yang sedang menatapnya serius.


Elda membulatkan matanya. Ia baru ingat dulu dia tidak satu sekolah dengannya karena orang tuanya, tapi ... bagaimana caranya? Padahal ia sudah tiada.


Ia mengernyitkan dahinya. "Caranya?" tanya gadis itu kepada Sena yang sedang memikirkan sesuatu.


"Aku punya rencana, sini ...." hantu cantik itu pun membisikan rencananya kepada sahabatnya itu.


"Emang, bisa begitu?"


"Plisss ... bantu aku kali ini, saja," bujuk Sena kepada Elda dengan mengeluarkan puppy eyesnya dan menyatukan kedua tangannya di depan dada.


"Iya-iya, gak usah liatin mata kamu kaya gitu juga kali. Pengen aku congkel matamu itu," kata gadis dingin itu dengan memangku kedua tangannya di dada.


"aku 'kan sudah meninggal," balas Sena menunjuk dirinya dengan jari jempolnya sambil berbicara menghadap sahabatnya itu.


"Biarin." ketus Elda tanpa menoleh ke arah sahabatnya itu.


"Iya," jawab gadis dingin itu dengan berdiri, sambil melangkahkan kaki mereka meninggalkan kelasnya. Mereka sedang berbincang-bincang di lorong sekolah untuk menuju ke kantin dan tiba-tiba ...


Amora pingsan. Elda melihat temannya itu hampir tumbang 'Hap' dan berhasil menangkap tubuh temannya itu yang hampir jatuh ke lantai. "Eh? Amora bangun," Elda khawatir kalau nanti temannya itu tak kunjung bangun sambil menepuk pipinya Amora.


"Woi, jangan tepuk-tepuk pipi aku, sakit tau," kata gadis itu langsung berdiri dari posisi pingsannya dia merapikan dirinya.


"Amora, kenapa kamu tiba-tiba pingsan?" tanya Elda kepada temannya yang sedang berdiri menghadapnya.


"Aku Sena, bukan Amora." Jawab Sena ternyata sudah masuk ke tubuh gadis yang bernama Amora itu.


"Hah? Sena. Kok kamu bisa masuk kedalam tubuhnya Amora?" tanya Elda mengernyitkan dahinya.


"Jadi gini Elda ... aku bisa masuk ke tubuh orang atau bisa disebut dengan kerasukan, jadi jiwa orang yang aku masuki, akan tertidur, gitu ...." jelas Sena panjang lebar kepada sahabatnya itu.


"Oh, tapi ... gak berbahaya 'kan?" tanya Elda melihat Sena dengan ekor matanya.

__ADS_1


"Tergantung sifat hantunya. Kalau aku sih, gak akan melakukan hal berbahaya, kok," jawab Sena memangku tangannya di dada.


"Yah, udah. Kita ke kantin yuk, beb. Soalnya aku lagi lapar banget nih ...," ajak Sena berjalan duluan meninggalkan sahabatnya di belakang.


"Hm ...." Elda hanya mendehem saja, kemudian ia menyusul sahabatnya yang sudah meninggalkannya duluan.


Sesampainya di kantin gadis dingin dan Sena langsung duduk di meja kosong. "Kamu mau pesan apa?" tanya Elda kepada sahabatnya dengan wajah datar.


"Nasi goreng sama jus alpukat," jawab Sena dengan cepat kemudian ia menoleh ke arah gadis dingin itu yang tengah berdiri di hadapannya.


"Tunggu disini, jangan kemana-mana. Aku pesanin dulu pesanan kita," pinta Elda pergi untuk memesan makanan mereka.


Beberapa menit kemudian, Elda membawa baki berisi makanan dan minuman, "Nih, punya kamu," kata Elda memberikan makanan yang di pesan sabahatnya itu.


"Makasih," balas Sena segera memakan makananya dengan lahap.


"Mmm ... enaknya, sudah lama banget aku belum makanan favorit aku," lanjutnya dengan mulut penuh dengan makanan.


"Hati-hati nanti kamu kese—!" belum juga melanjutkan ucapannya, Sena sudah lebih dulu mengalaminya.


"Uhuk ... Uhuk ..., " Sena pun tersedak akibat terlalu terburu-buru memakan makanannya, lagipun ia juga banyak omong.


"–dak. Aduh Sena, sudah aku bilang hati-hati. Nih," lanjutnya memberikan minuman kepada sahabatnya yang tersedak itu.


"Iya, maaf." Cicit Sena mengaruk leher bagian belakanganya dan menatap sahabatnya itu dengan ragu-ragu.


"Sudah lanjutin aja makanannya," pinta Elda kembali memakan makanannya juga.


"Oke," balas Sena tersenyum kepada sahabatnya itu.


________


#TBC

__ADS_1


__ADS_2