Gadis Mafia [Masa Perbaikan]

Gadis Mafia [Masa Perbaikan]
BAB 32


__ADS_3

Setelah pria leader geng tersebut tewas ditembak yang dilakukan oleh gadis dingin itu secara bertubi-tubi. Gadis itu melepaskan pistolnya dari tangannya dengan darah yang masih mengalir di leher. Dia pun berjalan menghampiri adik perempuannya yang masih gemetaran.


"Kamu tidak apa-apa, Zeta?" tanya gadis dingin itu, mengelus pelan pipi Zeta yang sudah bersinar akibat ingin mengeluarkan air matanya dari kelopak matanya.


"Huu ... aku takut sekali, Kak." Zeta menangis dan langsung memeluk Elda dengan erat yang sedang berlutut dengan tangan berdarah akibat sayatan pisau tadi.


"Tidak usah takut lagi, sekarang kamu sudah aman dan Kakak juga di sini. Jadi tidak ada yang ditakuti lagi ...," balas gadis dingin itu mengusap ujung rambut Zeta dengan lembut.


Prok! Prok! Prok!


Gadis dingin itu dan Zeta menoleh ke arah suara tepuk tangan tersebut, ternyata orang yang bertepuk tangan adalah orang yang menggunakan dress hitam panjang sambil memakai jas yang berada di punggungnya. Orang itu hanya bangga dan senang melihat tengah dari keluarga Aldo itu, "Kerja bagus, anakku."


"Mama!" teriak Zeta melepaskan pelukan kakaknya kemudian berlari menghampiri sang ibundanya yang sedang berjalan ke arah mereka berdua.


"Selamat datang, Nyonya besar," semua bodyguardnya membungkukkan tubuhnya sambil meletakan satu tangannya di dada dan satunya lagi di belakang.


Elda pun berdiri dan langsung berjalan menghampiri sang ibundanya dan adiknnya itu yang sedang dielus-elus pucuk rambutnya oleh wanita paruh baya itu. "Terima kasih, Ma. Kok Mama bisa ad di sini?" tanya Elda memegang lehernya yang masih mengeluarkan cairan merah.


"Aku, mau melihat aksimu, Nak ...." Salsa tersenyum kepada anak gadisnya sudah tumbuh besar itu dan menjadi gadis mafia yang cantik.


"Oh, Ma. Aku besok---Eugh ...!" tiba-tiba jantung gadis dingin itu menjadi kram membuatnya tidak bisa bernapas, ia memegang dadanya itu, gadis dingin itu langsung menutup matanya dan tubuhnya langsung tumbang ke arah samping.

__ADS_1


HAP!


Arga langsung menangkap tubuh yang tumbang itu. Lelaki yang tidak terpaut jauh dari usia gadis dingin itu tau kenapa dia bisa pingsan, Arga telah berjanji supaya merahasiakan obat penenang itu dari siapa pun.


"Elda! Dia kenapa, Arga?" tanya Salsa panik kemudian menghampiri anaknya itu yang tengah pingsan, Arga hanya menatap gadis dingin itu sendu. Ia harus merahasiakan tentang ini.


"Mungkin dia kecapean, Nyonya." Arga mendonggak-kan kepalanya untuk menatap Nyonya besarnya dengan raut wajah khawatir. Salsa pun menghela napas lega karena putrinya tidak apa-apa.


"Baiklah, bawa dia ke rumahnya, pastikan dia istirahat dengan tenang, dan untuk mayat mereka tolong bereskan," kata Salsa kepada seluruh bodyguardnya.


"Baik, Nyonya," sahut semua bodyguardnya segera bergegas membereskan semua mayat tersebut. Arga pun membawa gadis dingin itu pergi ke rumahnya menggunakan mobilnya.


"Tuan Muda, kita harus kemana?" tanya sang sopir kepada Arga.


"Ke rumah gadis ini," jawabnya sambil duduk di kursi belakang, Arga pun mengambil kotak P3K di bekasi mobil kemudian dia mengambil kain perban untuk membalut leher dan tangan gadis dingin itu.


"Apakah, gadis itu sangat berarti bagi, Tuan Muda?" tanyanya lagi melihat tuan mudanya terus memperhatikan wajah gadis dingin itu yang pingsan tak sadarkan diri.


"Iya, dia sangat berarti bagiku," jawab Arga sambil tersenyum kepada sang sopir ia pun kembali mengusap belai pipi cubby gadis dingin itu.


***

__ADS_1


Mereka pun telah sampai di rumah Elda, lelaki itu mengendong gadis dingin itu ala bridal style ke kamar gadis itu, setelah sampai di kamar tersebut, Arga membaringkan tubuhnya ke kasur empuknya itu, ia pun mengusap-ngusap jidat gadis dingin itu kemudian ia mendekatkan bibirnya ke kening Elda.


"Selamat tidur, gadisku." Arga mengecup kening gadis dingin itu kemudian ia menarik selimut untuk menyelimuti tubuh mungil gadis dingin itu.


***


Pukul 05.00 subuh, gadis dingin itu terbangun dari tidurnya, ia pun mengecek ponselnya dan ada pesan masuk dari temannya itu. Pesan itu muncul tadi malam.


Amora :


[Elda, besok pagi jangan sampai telat, yah. Besok kita kumpul bareng pukul 07.00, dan ingat kamu itu ketua kelas jadi tidak boleh telat]


Elda pun hanya tersenyum dengan isi pesan tersebut. Setelah ia sampai di sekolah semua siswa-siswi sudah berkumpul di depan gedung sekolah menggunakan baju training, gadis dingin itu melihat kakaknya itu.


"Kak!" teriak Elda berajalan menghampiri kakaknya itu, yang sedang mengangkat tas besarnya itu.


"Eh? Elda, kamu ikut kemah?"


"Yah, iyalah. Ini baru pertama kalinya aku ikut, dari sekolah dasar sampai sekolah menegah pertama tidak ada acara begini, Kak," jawab Elda.


***

__ADS_1


__ADS_2