![Gadis Mafia [Masa Perbaikan]](https://asset.asean.biz.id/gadis-mafia--masa-perbaikan-.webp)
Gale melihat adik perempuannya sedang duduk berhadapan dengan Amora yang satu kelas dengan adik dinginnya itu.
"Hai," sapa Gale menghampiri mereka sambil membawa baki makanannya yang berada di tangannya, kemudian ia duduk di samping Elda.
Gadis dingin itu hanya menggulir bola matanya. Gale pun menyapa kembali kepada gadis yang berada di depannya itu. "Hai, Amora," sapa Gale tersenyum.
"Aku Sena, kak," balas Sena sambil menatap saudara laki-laki sahabatnya itu, dan masih menguyah makanannya di dalam mulut.
"Ohh, Sena." Ucap Gale meminum-minumannya menggunakan sedotan sambil menatap minumannya itu.
Laki-laki itu belum sadar juga, yah? Apa dia tidak mengerti maksud dari perkataan dari Sena itu?
Gale pun membulatkan matanya dan langsung berdiri sambil memukul meja dengan keras. "Hah, Sena?!" teriakannya itu membuat penghuni kantin melihat ke arah meja mereka bertiga dan mendadak sunyi.
"Ssttt ... kau bisa diam gak?" tanya Elda bersuara pelan sambil berucap tanpa mengerakan giginya.
"Maaf," ucap Gale mengaruk pelipisnya dengan telunjuknya, kemudian ia kembali duduk di samping adiknya.
"Sena, kenapa kamu ada disini. Bukannya kau sudah—" belum sempat melanjutkan ucapanya ada orang yang memotong ucapannya itu.
"Tiada. Aku tau kak, aku sengaja masuk ke tubuh ini karena ingin ngasih tau kepada kalian dan ibu tentang kebenaran," potong Sena menatap mata cokelat gadis dingin itu dan laki-laki yang berada di samping sahabatnya itu.
Elda mengernyitkan dahinya. "Kebenaran apa, beb?" tanya Elda sambil menatap kembali sahabatnya itu yang berada di hadapannya itu.
"Kebenaran, tentang aku meninggal karena bukan kecelakaan melainkan di bunuh oleh seseorang," jawab Sena mengaduk-ngaduk minumannya dengan sedotan yang ia pegang.
"Hah? Dibunuh?" tanya sahabatnya itu bersama kakaknya kaget mendengar ucapan Sena.
"Iya." Jawabnya singkat sambil meminum-minumannya dengan sekali minum.
"Terus, kenapa kamu tidak ngasih tau aku dari dulu, waktu kita berdua bertemu lagi setelah kau meninggal," ucap Elda.
"Aku baru mendapat ingatanku sedikit tentang kematianku. Jadi aku minta bantuan kepada Elda untuk menemukan tubuh yang mau menerima roh-ku ini. Dan ternyata aku di terima sama tubuh ini," balas Sena tersenyum kecil.
"Kumohon, bantu aku pertemukanku dengan ibuku," lanjutnya menyatukan kedua tanganya di depan dadanya sambil menatap kedua orang yang berada di hadapannya itu.
"Dengan tubuh ini?" tanya Elda menatap mata cokelat gadis itu. Dan Sena hanya mengganguk pelan.
"Kumohon, hanya kali ini saja aku ingin banget ketemu dengan ibuku," ucapnya sambil meneteskan air matanya sedikit.
Elda tidak tega melihat sahabatnya itu memohon, ia pun menggigit bibir bawahnya. "Bagaimana nih, kak?" tanya Elda menoleh ke arah Gale yang berada di sampingnya itu.
"Mmm ...." Ia hanya mendehem lama seperti memikirkan sesuatu. "Aku punya ide." Lanjutnya, kemudian memajukan tubuhnya dan berbisikan rencananya.
"Yakin, rencana ini akan berhasil?" tanya Elda memangku kedua tangannya di dada sambil melihat kakaknya dengan ekor matanya.
"Serahkan pada kakakmu yang pintar ini," jawabnya sambil menaik turunkan alisnya kepada adiknya yang sedang menatapnya tanpa ekspresi.
"Sok pintar banget," balas Elda menggulir bola matanya malas.
"Nanti sore kita jalankan rencananya." Ucap Gale sambil bersemangat membara.
Sore harinya mereka pun melaksanakan rencana yang sudah dibuat. Mereka sekarang sedang berdiri di depan pintu rumah Sena. "Oke, sudah siap?" tanya Gale.
"Siap." Jawab mereka berdua serempak.
__ADS_1
Sena menarik napasnya kemudian ia mengetuk-ngetuk pintu rumahnya sambil mebunyikan bel rumah.
KREAK!
Sosok paruh baya membuka pintu rumah itu. "Ya, ada apa?" tanya ibu Sena berada di ambang pintu rumanhnya.
"Maaf tante, boleh bicara sebentar?" tanya Elda kemudian bertanya kepada orang paruh baya itu dengan sopan.
"Oh, boleh. Silakan masuk," jawab ibu Sena tersenyum, kemudian mengajak mereka bertiga masuk ke dalam rumah, Lalu duduk di ruang tamu.
"Mmm ... tante temanku mau bicara dengan tante sebentar," kata Elda menatap Sena, kemudian berahli menatap ibu sahabatnya itu.
"Mau bicarakan apa?" tanya ibu Sena sopan.
"Ng ... tante sebenarnya dia adalah Sena," jawab Gale ragu-ragu sambil mengaruk kepala bagian belakangnya.
"Hah, Sena? Anakku 'kan sudah meninggal," balas ibu Sena tidak percaya dan kaget.
"Anu tante ... roh Sena masuk ke dalam tubuh orang ini, tan. Dan ingin bicara sama tante." Kata Elda duduk sambil menyakini ibu Sena.
"Apakah itu benar, dia anakku?" tanya ibu Sena menatap Sena yang berada di sofa sendirian. Ibunya hanya melihat tubuh orang yang ia tak kenal. Tapi ia melihat mata tubuh itu dengan dalam dan melihat sesosok Sena yang mirip dengan mata anaknya itu.
"Iya, mama," ucap Sena meneteskan air matanya sambil melihat ibunya itu, sudah sekian lama ia tidak melihat ibunya itu.
"Sena," panggil ibu Sena berdiri dan langsung memeluk anaknya yang sedang meneteskan air matanya itu.
"Mama kangen banget sama kamu nak," kata ibu Sena terisak sambil memeluk erat tubuh itu.
Sena hanya membulatkan matanya, karena tidak percaya kalau ibunya itu mengenalnya, ia pun mulai mengeluarkan air matanya kembali. "Sena juga kangen sama mama," Sena pun ikut terisak melihat ibunya langsung memeluknya dengan erat.
"Huwaaa ... aku juga ikut sedih ...." Kata Gale ingin memeluk adiknya itu yang berada di sampingnya.
"Eitsss ... jangan memeluk-ku," kata Elda menahan wajah kakaknya yang ingin memeluknya.
"Aku minta maaf, mah. Sena pergi terlalu cepat," ucap Sena memeluk ibunya dengan erat.
"Itu bukan salahmu nak," balas ibu Sena melepaskan pelukannya, kemudian ia mengelus pucuk rambut anaknya itu dengan lembut.
"Aku mau cerita yang sebenarnya, kepada kalian semua." Kata Sena mulai menceritakan peristiwa yang menimpanya itu.
_Flashback On_
Kita mulai dari kehidupan kedua sahabat ini. Ceritanya, mereka berdua masih kelas 6 sekolah dasar dan mau lulus dari sekolah itu.
"Elda, kamu nanti mau sekolah dimana?" tanya gadis yang duduk berada di samping Elda, sambil mengoyang-goyangkan kakinya.
"Mmm ... sepertinya aku mau sekolah satu sekolah sama kamu," jawab Elda sambil tersenyum manis kepada gadis yang berada di sampingnya itu.
"Ah, benarkah?"
"Iya, aku akan membujuk kedua orang tuaku, supaya mereka bisa mengizinkan-ku untuk besekolah bersama kamu," ucap Elda.
"Kalau begitu, ayo berpelukan," kata Sena mengasih kode kepada sahabatnya itu untuk memeluknya.
Elda pun membalas pelukan sahabatnya itu. Beberapa hari kemudian, mereka berdua pun keluar dari sekolah itu, dan menunggu persetujuan orang tua Elda untuk mengizinkan dirinya untuk satu sekolah dengan Sena.
__ADS_1
Tapi ... nyatanya mereka berdua tidak bisa satu sekolah, karena papanya menyuruh Elda untuk bersekolah di tempat pilihan neneknya, kenapa dengan neneknya? Nenek Elda hidupnya tinggal 4 tahun lagi, jadi ia ingin melihat Elda bersekolah di sekolah di pilihan neneknya itu.
Terus kenapa cuman Elda? Kalau Gale dan Zeta? Neneknya cuman mau Elda saja yang besekolah di tempat pilihannya, karena ia tau sifat gadis itu baik dan dapat menghiburnya saja, kalau kedua saudaranya itu cuman mengurusi kehidupan mereka masing-masing. Berbeda dengan Elda, ia suka menghibur neneknya itu dari kecil malahan.
"Tapi pah, aku maunya satu sekolah dengan Sena," kata Elda.
"Papa tau, Elda. Terus bagaimana dengan nenek kamu, pasti ia akan kecewa karena kamu gak datang ke rumahnya,"
Sebenarnya gadis itu tidak ingin mengecewakan neneknya. Tapi bagaimana dengan Sena? Apa yang harus dia katakan kepadanya?
"Baik pah, aku akan pergi ke rumah nenek, dan membujuk Sena," kata gadis itu pasrah sambil menundukan kepalanya.
"Papa, minta maaf yah. Karena kamu gak bisa satu sekolah dengan sahabatmu itu," katanya memeluk gadis itu dengan erat.
Berat rasanya ia mengatakan hal ini kepada sahabatnya, mungkin saja Sena akan memutuskan hubungan persahabatan mereka, karena hal seperti ini.
Kini gadis berambut sebahu itu, duduk di tepi kasur sambil menatap kosong lantai kamarnya itu.
"Apa yang harus aku katakan pada Sena? Pasti ia tidak akan bicara denganku," suara serak yang membuat gadis itu meneteskan air matanya, ia berusaha menghapus air matanya. Tapi cairan bening itu terus saja menetes di pipinya.
Drtt ... Drtt ... Drtt ...
Suara getaran itu membuat gadis itu menoleh ke arah ponselnya yang sedang bergetar itu, ia pun segera mengambil ponselnya dan siapa yang mau vidoe call bersamanya.
"Sena?" guman Elda, ia segera menghapus air matanya, ia pun mengangkat panggilan sahabatnya itu melalui video call.
"Halo, Elda," sapa Sena yang berada di seberang sana, melihat wajah bahagia sahabatnya itu melalui video call membuat Elda menjadi gugup. Pasti ia akan menanyakan tentang rencana satu sekolah mereka.
"H–hai juga, Sena,"
"Kamu habis nangis?" tanyanya.
"Sena, aku mau ngomong sama kamu ...," kata Elda memalingkan wajahnya terhadap layar ponsel yang berada di depannya itu.
Sena hanya mengernyitkan dahinya. "Apa? Oh, iya. Apakah orang tuamu setuju kita satu se—" ucapannya terpotong.
"Aku gak bisa satu sekolah denganmu, Sena." Potong Elda menatap kembali layar ponselnya yang masih tersambung dari sahabatnya itu.
Sena membulatkan matanya. "Aku gak bisa." Lanjutnya memalingkan wajahnya, ia tidak mau melihat wajah kaget dari sahabatnya itu.
"Tapi, ke–kenapa?" tanya Sena kaget mendengar ucapan sahabatnya itu, ia berusaha meneteskan air matanya. Tetapi, ia harus mendengar penjelasan sahabatnya itu.
"Aku harus bersekolah di sekolah pilihan nenek aku, karena hidupnya tinggal 4 tahun lagi. Dan mungkin aku gak akan pernah kembali ke sini lagi selama 4 tahun ini, aku juga akan sekolah menengah atas juga disana, jadi aku gak akan pulang dari sana sebelum aku tamat sekolah, kemungkinan aku akan pulang saat libur aja, itu pun kalau ada. Maafin aku Sena, maafin aku tidak bisa satu sekolah denganmu, maafkan aku," jelas gadis itu meneteskan air matanya sambil terisak.
"Aku ngerti kok," Sena ikut menangis melihat sahabatnya itu menangis, sebenarnya hatinya terasa sesak mendengar ucapan Elda yang tadi. Tapi apa daya, ini sudah takdir untuk berpisah dengan sahabatnya itu.
"Kamu pasti marah dan mau memutuskan hubungan persahabatan kita," kata Elda yang masih terisak.
Apa yang ia bicarakan? "Aku gak marah kok, lagipun ... siapa yang bilang aku mau memutuskan hubungan kita, aku beruntung punya sahabat seperti kamu, selalu melindungiku setiap saat," balasnya sambil tersenyum manis, walaupun air matanya tak henti-henti membasahi pipinya.
"Jadi kita masih status bersahabat?" tanya Elda, sambil menghapus air matanya. Sena hanya menganggukan kepalanya pelan.
"Aku sayang kamu, Sena," kata Elda
"Aku juga sayang kamu, Elda," balasnya sambil tersenyum tipis.
__ADS_1