Gadis Mafia [Masa Perbaikan]

Gadis Mafia [Masa Perbaikan]
BAB 14


__ADS_3

"HEI, SINI KAMU!!!" teriak Gale dengan emosi meledak, sedangkan gadis dingin itu masih aja lari dari kejaran maut kakaknya itu.


Beberapa kali Elda menghindari kakaknya, akhirnya Elda berhasil lolos dari kejaran kakaknya.


'Hah ... Hah ... Akhirnya aku lolos dari kejaran maut kakak kejamku. Kalau ketangkep bisa dibunuh aku olehnya. Sumpah serem banget dia kalau lagi marah,' batin Elda ngos-ngosan dan mengantur napasnya, sambil memegang lututnya.


"Hai, gadis kecil ... akhirnya kau ketemu juga ...." bisik Gale di telinga gadis itu dengan muncul tiba-tiba di belakang Elda.


'Gawat!!' batinnya berteriak di dalam hatinya dan mengambil posisi berdiri, bulu kuduknya pun mulai naik.


"Eh? kapan sampai?" tanya Elda menoleh ke belakang untuk melihat kakaknya dan menggaruk pelipisnya.


"Elda!!!" bentak Gale dengan penuh emosi, sambil memangku kedua tangannya di dadanya dengan tatapan setajam elang kepada gadis dingin yang berada di hadapannya.


'Mati aku.' Batin Elda dengan wajah ketakutan. Teman perempuannya dan cowok berkacamata itu ... hanya mengamati Elda di marahin oleh saudaranya.


"Sini ikut aku," paksa Gale menarik kerah baju bagian belakang adik dinginnya itu, kemudian laki-laki itu menyeret Elda dan membawanya ke sesuatu tempat.


"Ahh!! Amora, Milan, tolong aku ...!" panggil gadis dingin itu meminta tolong kepada mereka berdua yang sedang melihatnya di seret oleh saudaranya.


"Hahaha ... baru pertama kalinya aku liat raut wajah ketakutannya," kata Amora tertawa sambil menutup mulutnya dengan punggung tangannya.


Gale membawa gadis dingin itu ke belakang gedung sekolah. "Ngapain kamu menyebutku sebagai pembuat masalah? Sekarang minta maaf!" pinta laki-laki tersebut dengan nada agak tinggi.


"Iya ... Iya ... aku minta maaf, aku yang salah," gadis kecil itu menunduk sambil memainkan jari-jarinya.

__ADS_1


'Tapi, gak iklas. Hihihi ....' Batin Elda dengan tawa liciknya itu.


Gale pun menghembuskan napasnya dengan pelan dan menutup wajahnya dengan tangannya. "Udah ke kelas sa ...." laki-laki itu tidak melihat gadis dingin itu di hadapannnya. Entah ia hilang kemana.


"—na. Arghh, puyeng pala aku, ngurusin dia." kata Gale mangacak-ngacak rambutnya frustasi.


"Hah, akhirnya aku bebas," sudut bibir gadis itu terangkat sebelah dan di dalam hatinya ia sangat senang bebas dari amukan kakaknya itu.


Sampailah Elda ke kelas dan meletakan kepalanya di atas mejanya. Kemudian ia merubah posisinya menjadi dagunya di letakan di kedua lengannya yang sedang bersilang itu.


'Dasar kakak sialan. Bikin aku cape jalan ke kelas, padahal lumayan jauh dari belakang sekolah sampai kelas ini.' Batin Elda mengomel sendiri sambil memayunkan mulutnya.


"Hai, Elda. Tadi kamu di diapain sama kakakmu?" tanya gadis itu kepada Elda yang sedang melamun dan berwajah datar.


"Habis di bunuh!!" ketus Elda menatap tajam dan tidak suka pada Amora yang tengah berdiri di hadapannya.


"Terus, kalau kau dibunuh. Jadi kamu siapa?" tanya Amora dengan wajah polosnya.


"Arwahnya! Suruh siapa tadi kamu gak bantuin aku tadi," jawab Elda kesal sambil mengembungkan pipinya.


"Hehehe ... maaf." Kata maaf keluar dari mulut gadis yang tengah berdiri di hadapan Elda dengan tampang datarnya. Ia tidak menghiraukan ucapan maaf dari Amora.


Sepulang sekolah, Elda masih di dalam kelas dan siswa-siswi yang lainnya sudah pada pulang, tinggal Elda sendiri di kelas. Diperjalanannya mau keluar dari gedung sekolah, Elda ketemu dengan 4 makhluk dengan aura buruk.


"Hei, kulkas. masih ingat denganku?" tanya Aiden berjalan mendekati Elda yang sedang membawa buku di depan dadanya.

__ADS_1


'Ngapain sih ini cowok, ngalangin jalanku?' batin Elda," Meneruskan langkahnya. Tapi. Aiden selalu mengikuti setiap cela yang ingin dilewati oleh gadis dingi itu.


"Minggir," pinta Elda kepada Aiden yang tengah memangku kedua tangannya di dadanya sambil berwajah datar menatap gadis kecil yang berada di hadapanya itu


"Kalau aku gak mau?" tanya Aiden mengernyitkan dahinya sambil mengangkat sebelah alisnya.


'Bunuh dia boleh gak sih? Aku sudah muak liat muka dia.' Batin Elda menatap sinis cowok yang berada di depannnya.


Gadis kecil itu pun pergi dari rombongan makhluk astral itu. Dan semua teman cowok itu hanya menertawakan sang leader yang tengah berdiri.


"Hahaha ... dicuekin," tawa Ansel menunjuk ke arah Aiden.


'Beraninya ia mengabaikanku.' Batin Aiden mengepalkan tangannya.


Elda memilih jalan kaki dan diperjalan pulangnya, ia ketemu dengan seekor kucing, "Wah lucunya ...." kata Elda gemes kepada kucing yang tengah menyeruduk-ruduknya dengan kepalanya kepada kali Elda.


"Tunggu disini, yah," pinta Elda kepada kucing itu. Kucing itu pun nurut kepada gadis kecil itu.


Elda pergi membeli makanan untuk kucing tersebut dan mengelus-ngelus kucing tersebut dengan tanganya kecilnya.


"Makan yang banyak, yah." Ucap Elda berjongkok dan mengelus-ngelus kucing itu.


_______


#TBC

__ADS_1


__ADS_2