![Gadis Mafia [Masa Perbaikan]](https://asset.asean.biz.id/gadis-mafia--masa-perbaikan-.webp)
Mulut gadis bermata sipit itu terangkat sebelah. "Aku sudah merobeknya, kenapa?" tanyanya balik kepada gadis dingin itu.
"Hei, kenapa kamu lakukan seperti itu, hah?" gadis dingin itu langsung menghampiri Zelda yang sedang menatapanya, ia pun langsung menarik kerah baju gadis bermata sipit itu.
"Aku enggak mau kamu jadi ketua kelas! Yang aku mau menjadi ketua kelas adalah Aiden, bukannya kamu!" jawab Zelda menunjuk-nunjuk gadis dingin itu.
"Kamu jadi cewek kejam banget, yah?!" bentak Elda menahan emosinya sambil mengepalkan tangannya dan melonggarkan tarikannya.
"Aku akan melakukan apa pun demi pacarku! Aku enggak akan biarin kamu menjadi ketua kelas!!" sesudah mengucapkan kata-kat itu, ia pun pergi meninggalkan Elda dan Amora.
"Dasar cewek sialan!!!" teriakan itu dibuat oleh gadis dingin itu, dia ingin mengejar Zelda, tetapi Amora menahan tangan gadis dingin itu dengan emosinya sudah tidak terkontrol lagi.
"Udah, udah Elda. Nanti kamu dapat masalah, karena kepala sekolah akan mengeluarkan siapa pun yang berkelahi atau melakukan kekerasan kepada siswa-siswi lain," kata Amora menenangkan teman dinginnya itu.
Tiba-tiba gadis dingin itu berjongkok sambil meletakan kepalanya di lututnya. "Amora apa yang harus aku lakukan? Sekarang pikiranku sudah bercampur aduk. Masalah-masalahku belum ada yang kelar satu pun, dan sekarang masalah baru muncul lagi. Aku enggak bisa memikirkan apa yang harus aku tulis untuk pidatoku besok," katanya sambil terisak.
'Begini ekspresi wajah Elda kalau menangis? Aku pertama kalinya melihat dia menangis. Apa dia punya banyak beban dalam hidupnya?' batin Amora prihatin dan menatap sendu gadis dingin itu.
"Elda ... enggak usah nangis lagi, aku akan bantuin kamu untuk membuat pidatonya," ucap Amora tersenyum sambil berjongkok memeluk gadis dingin itu.
"Beneran?" tanya Elda teringsak-insak, lalu ia menghapus air matanya yang sudah mengalir di pipinya itu.
"Iya," jawabnya singkat, Amora pun melepaskan pelukanya.
"Makasih, Amora," ucap gadis dingin itu tersenyum kepada temannya yang sedang menatapnya itu.
"Iya, sama-sama."
Gadis dingin itu mengajak Amora ke rumahnya, Elda pun memberikan alamat rumahnya melalui pesan di ponselnya.
***
Pukul 15.00, Amora telah sampai di rumah gadis dingin itu, ia hanya terpukau melihat bangunan itu. Rumah Amora juga besar, tapi tidak sebesar bangunan ini.
Gadis berambut panjang ini pun mengetuk pintu utama rumah ini dan membunyikan bel rumah.
Tok ... tok ... tok ...
"Iya, tunggu sebentar," kata maid itu menghampiri pintu yang sedang di ketuk oleh seseorang.
"Bi, biar Elda yang buka," gadis dingin itu langsung menuruni anak tangga dengan cepat untuk menemui temannya itu.
__ADS_1
"Oh, iya nona," balas maid itu pergi kembali ke tempatnya dan membiarkan nona rumah ini untuk membuka pintu.
KREAK!
"Amora, ayo masuk," ajak Elda menyuruh gadis berambut panjang itu untuk masuk ke dalam bangunan itu.
"Oke."
"Ayo kita ke kamarku," kata gadis dingin itu menarik tangan Amora untuk menuju ke lantai atas.
Sampailah mereka di kamar gadis dingin itu, dan Amora langsung duduk di tempat yang sudah di sediakan oleh temannya itu.
"Ayo kita mulai," ucap Amora dan gadis dingin itu hanya menganggukan kepalanya. Ia pun menyiapkan kertas untuk menulis naskah pidato itu.
***
"Gimana kalau begini?" tanya Amora menunjukan pidato yang ia buat kepada gadis dingin itu.
"Bagus," balas Elda sambil menepuk tangannya sambil tersenyum dan memejamkan matanya.
Pidato yang di tulis mereka hampir selesai, tiba-tiba aura negatif datang tanpa di sadari oleh kedua gadis itu.
"Amora, apa kabar?" tanya Sena tiba-tiba sambil memegang bahu Amora.
"Hahaha ... ini aku, Sena," jawab hantu cantik tersenyum sambil meyilangkan kedua tangannya di dada.
"Ada apa kesini, Sena?" tanya gadis dingin itu menatap sahabatnya itu yang sedang berdiri tegak menghadap mereka.
"Enggak ada, cuman mau melihat kalian saja," jawab Sena duduk di samping gadis dingin itu dan juga di samping Amora.
"Elleh ... cari kesempatan, yah? Untuk menganggu kita?" tanya Elda menyenggol-nyenggol bahu hantu cantiknya itu menggunakan sikunya.
"Enggak kok."
"Baiklah," ucap gadis dingin itu melanjutkan menulis naskah pidatonya.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka telah selesai menulis naskah pidatonya yang mereka buat bersama.
"Sena, Amora, kita ke taman bermain sebentar," ajak gadis dingin itu merapikan kamar dan barang-barangnya.
"Ngapain?" tanya Amora dan Sena bersamaan sambil menatap gadis dingin itu.
__ADS_1
Lagi-lagi urat dahi gadis dingin itu naik ke permukaan wajahnya. "Tidur!" jawabnya dengan menahan emosinya.
"Emang kita mau tidur berjamaah di taman bermain?" tanya Amora dengan wajah polosnya.
Gadis dingin itu menyilangkan kedua tangannya di dada, memejamkan matanya, dan aura hitam bermunculan di sekitar gadis dingin itu.
'Aku tabok mereka, meninggal enggak, yah?' batin Elda bertanya dalam hatinya sambil duduk dengan posisinya itu.
Elda menarik nafas panjang, kemudian ia menghembuskannya dengan kasar. "Kita bersenang-senang di sana," ucap Elda.
"Baiklah," balas Amora dan Sena serentak.
***
Sesampainya di taman bermain, mereka keliling melihat pemandangan. Sudah lama banget gadis dingin itu tidak pernah jalan-jalan bersama sahabatnya itu.
"Sena, Amora, tunggu aku disini. Aku mau belikan kalian es krim," ujar gadis dingin itu menyuruh kedua orang itu untuk duduk di kursi taman yang sudah di sediakan.
Mereka berdua pun hanya menganggukan kepalanya, gadis dingin itu pun pergi ke gerobak es krim. Beberapa menit kemudian ...
"Nih, es krim buat kalian," kata Elda memberikan es krim itu kepada Amora sedangkan es krim punya sahabatnya yang pegangin.
"Sena, es krim-mu aku pegang dulu, yah? Nanti kalau kita naik wahana bianglala, disana aku akan memberimu es krim ini," kata Elda kepada hantu cantik itu.
"Oke."
"Emang Sena bisa makan es krim?" tanya Amora yang berada di samping kiri gadis dingin itu.
"Ya, bisalah."
Mereka pun memesan tiket untuk naik ke wahana tersebut, setelah mereka bertiga memesan tiket, mereka berjalan ke wahana tersebut.
"Permisi, ini tiketnya," ucap Elda sembari memberikan tiket tersebut kepada orang yang sedang menjaga wahana tersebut.
"Eh? Kok tiga, dek. Padahal kalian cuman berdua," tanyanya.
"Oh, biarin pak. Mungkin tadi aku salah pesan tiket jadinya lebih, deh," kata gadis dingin itu sambil menggaruk pelipisnya.
"Baiklah, silakan naik."
Mereka bertiga pun menaiki wahana tersebut. "Sena, ini es krim-mu," ujar Elda memberikan es krim itu kepada sahabatnya.
__ADS_1
Mereka pun saling bercanda bersama di dalam bianglala tersebut, begitu pun dengan Sena. Walaupun ia berwujud hantu, tapi kedua gadis itu hanya menganggap Sena itu seperti manusia yang masih hidup di dunia ini.