Gadis Mafia [Masa Perbaikan]

Gadis Mafia [Masa Perbaikan]
BAB 34


__ADS_3

Aiden hanya pasrah tubuhnya di peluk oleh gadis bermata sipit itu. Ansel, Deven, dan Jack gembira karena mereka satu kelompok kecuali lelaki jangkung itu, Amora dan gadid dingin itu hanya saling menyapa karena mereka tidak satu kelompok.


"Hahaha! Bubye, my leader ... selamat bersenang-senang, awas nanti diterkam oleh beruang kutub itu, hahaha ...!" tawa Ansel membuat lelaki jangkung itu marah. Oh, jangan lupa dengan menatap tajam ketiga sahabatnya itu.


"Awas aja nanti, kalian!" Aiden memberikan kepalan tangannya pada ketiga temannya, mereja kabur dengan secepat kilat.


***


"Yah ... kenapa kita tidak satu kelompok, sih?" tanya Amora mendengua kasar dan bertampang murung karena tidak satu kelompok dengan gadis dingin itu.


'Lah, kenapa aku tidak sekelompok dengan, Elda? Padahal ini adalah kesempatan yang bagus,' batin Adrian menangis dalam batin sambil memegang dadanya.


Adrian hanya melihat gadis dingin itu dan Amora yang sedang bercakap-cakap dari kejauhan dan dia merasa sedih karena tidak satu kelompok dengan gadis dingin itu.


Mereka pun memasang tenda mereka masing-masing. Tenda Amora dan gadis dingin itu bersebelahan, sesudah memasang tenda, Elda menghampiri kakaknya yang sedang memakai baju panitia. Yah ... Gale menjadi panitia karena dia sudah kelas 3 SMA.


"Kak," panggil gadis dingin itu.


"Apa?" jawab kakaknya iti dengan ketus membuat urat-urat gadis dingin itu pada naik ke permukaan wajahnya.


"Kakak, kamu salah satu dari panitia, 'kan?" tanya gadis dingin itu sambil menunjukan kepalanya, Gale hanya sibuk dengan rambutnya yang ingin di tata rapi.


"Mana ku te-he."

__ADS_1


'Wow, sungguh jawaban yang sangat bagus. Apakah aku harus memberinya pelajaran?' Elda mendongak-kan kepalanya kemudian dia berjalan mendekat ke kakaknya itu.


"Akh! Elda ... lepaskan!" Gale meringis karena kepalanya di cekik oleh gadis dingin itu menggunakan lengannya, tenaga gadis dingin itu lebih besar dari pada Gale.


"Makanya, jangan bercanda kalau ditanya sama orang, jawabanmu itu bikin kita kesal, tau!"


"I--iya, a--aku minta ma--maaf, aku a--adalah panitianya, puas kamu!" Elda pun melepaskan lengannya dari leher kakaknya itu membuat lelaki itu bernapas dengan lega. Gadis dingin itu pergi meninggalkan lelaki tersebut tanpa pamit kepadanya.


"Uhuk, uhuk. Dasar sadis." Gale mendengus dengan kasar tanpa di sadari oleh mereka berdua ada seseorang gadis yang sedang memgamati mereka.


"Cih, siapa yang berani-beraninya, mendekat bersama kekasihku!"


***


Masing-masing kelas berbeda lokasi, tapi mereka tidak terlalu jauh dari kelas lainnya, di lokasi kelas gadis dingin itu, semua siswa-siswi kelas XI.B. Pada keluar dari tendanya untuk mendengarkan cerita seram yang dibawakan dari salah satu teman sekelas gadis dingin itu. Mereka duduk mengelilingi api unggun.


"Amora, kamu takut? Aku liat kamu dari tadi menggigil ketakutan, tuh?" tanya gadis dingin itu duduk di barisan belakang bersama Amora.


"Tidak, kok. Hantu, 'kan tidak ada ...," jawabnya sambil menoleh untuk menatap gadis dingin itu yang sedang menatapnya juga.


"Siapa bilang hantu itu tidak ada?" suara halus itu tiba-tiba berbisik di telinga Amora sontak membuat gadis itu menoleh kearah hantu cantik itu karena wajahnya sekarang benar-benar menyeramkan.


"Argh ...!" jerit Amora membuat semua teman sekelas menoleh kearah mereka berdua, sontak membuat Elda menutup mulutnya menggunakan tangannya.

__ADS_1


"Ssttt ... diam!" bisik gadis dingin itu sambil meletakan telunjuknya di bibirnya. "Hehehe ... maaf, yah," lanjutnya berminta maaf pada mereka semua, mereka pun menoleh kembali menyaksikan cerita seram itu, gadis dingin itu pun melepaskan tangannya dari mulut Amora.


Pembicaraan mereka bertiga harus bisik-bisik. "Apalah kamu, Sena. Jangan ngagetin orang seperti begitu, kalau dia jantungan gimana?" tanya Elda.


"Lakukan-lah, CPR. Hahaha bercanda, aku minta maaf," balas Sena meminta maaf dengan suara pelan.


"Lah, Sena. Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Amora kepada hantu cantik itu yang duduk di tengah-tengah mereka berdua.


"Aku melacak kalian berdua."


"Emang kamu radar pelacak orang gitu? Seperti maps jarak jauh?" tanya gadis dingin itu sambil menatap sahabatnya itu.


"Yah, tidaklah!"


"Terus?" tanya gadis dingin itu dan Amora bersamaan.


"Aku sudah terbiasa dengan bau kalian, jadi aku bisa melacak kalian dari ratusan meter jauhnya kalian berada," jawab Sena.


"Dogi, yah?" tanya Amora.


"Tidaklah! Aku ini hantu lah, karena aku hantu yang spesial," kata Sena dengan percaya dirinya membuat Amora dan gadia dingin itu memyipitkan matanya.


"Elleh ...." Elda dan Amora memutar bola matanya secara bersamaan.

__ADS_1


Setelah beberapa jam bercerita serem ... mereka semua pun masuk ke dalam tenda masing-masing untuk tidur.


➖➖➖


__ADS_2