Gadis Mafia [Masa Perbaikan]

Gadis Mafia [Masa Perbaikan]
BAB 17


__ADS_3

Mereka pun menjalankan sekolah mereka masing-masing, kehidupan mereka berdua sama-sama agak tidak nyaman. Karena kedua orang pintar ini dibully oleh siswi sekelas mereka, kenapa bisa?


Elda dan Sena termasuk murid pintar di sekolahnya. Yang pertama Elda. Karena ia dingin, jarang bicara, dan selalu menyendiri. Sedangkan Sena, orangnya pintar, rajin, dan tidak memliki teman sama sekali di sekolahnya, itupun ia selalu dibully oleh 4 iblis yang sekelas dengannya.


Singkat cerita, mereka berdua kini sudah berada di kelas tiga sekolah menengah pertama, dan dua bulan lagi mereka berdua akan lulus dari sekolah mereka masing-masing. Pembullyan di sekolah Sena lebih parah daripada Elda


"Akhh ...!" ringis gadis berambut sepunggung itu.


"Beraninya kau, menampakan dirimu di hadapanku, wajahmu itu membuatku muak saja!" kata leader 4 iblis itu, sambil menjambak rambut panjang gadis yang sedang duduk itu.


"Ma–maafkan aku," cicit Sena meneteskan air matanya. Gadis itu hanya bisa menangis, menutup matanya dan memegang rambutnya yang di jambak oleh leader 4 iblis itu.


Sesampainya di rumahnya. "Aws ...." ringisnya mengobati luka lecet di lututnya itu. Suara getaran pun berbunyi dari atas meja samping kasurnya.


Drtt ... Drtt ... Drtt ...


'Elda?' batinnya. "Halo, Sena. Gimana sekolahmu?" tanya Elda yang berada di seberang sana, mereka berdua sedang berbicara melalui video call.


"Baik," balasnya memasang fake smile kepada sahabatnya itu.


"Kalau kamu?" lanjut Sena sambil menatap layara ponselnya.


"Aku baik," senyuman palsu yang dibuatnya itu, membuat dirinya kaku untuk menjawab pertanyaan Sena.


Kenapa mereka berdua harus menyembunyikan masalah mereka tentang sekolah? Yang pasti mereka tidak mau membuat sahabatnya khawatir, itu saja.


"Kenapa dengan pipimu, beb?" tanya Elda menatap pipi sahabatnya itu agak leceh dan kemerahan.


'Gawat!' batinnya, pasti ini ulah 4 iblis itu. "Oh, tadi aku menabrak tiang di perjalan pulang, hehehe ...," jawab Sena sambil tersenyum kaku, kepada sahabatnya itu.


"Oh, iya. Kalau kita lulus, aku akan pulang untuk beberapa hari, jadi kita bisa ketemu, setelah sekian lamanya," kata Elda.


"Benarkah?" tanya bersemangat kerena sahabatnya itu akan pulang, dan bertemu dengan dirinya.


"Iya, aku akan mengajakmu ke taman bermain yang selalu kita kunjungi waktu kecil," jawab Elda tersenyum bahagia.


"Oke, aku akan menunggumu pulang dari sana," kata Sena, dan sahabatnya itu hanya mengangguk semangat.


Selama mereka berpisah, mereka berdua hanya berkomunikasi melewati telepon dan video call aja, itu pun mereka melakukannya 2 kali sehari.


Seminggu kemudian, Sena tengah duduk di bawah pohon yang berada di halaman sekolah, sambil membaca buku, tiba-tiba ada yang memukul kepala belakangnya menggunakan tongkat kayu, membuat gadis malang itu tergeletak di tanah, lalu pingsan tak sadarkan diri.


Coba tebak siapakah yang melakukannya? Kalau kalian menjawab itu ulah 4 iblis itu ... berarti jawaban anda benar. Mereka menyeret tubuh Sena ke sesuatu tempat, lebih tepatnya hutan yang jauh dari permukiman orang.


Malam harinya, mereka berempat membawa gadis malang itu ke rumah tua di tengah hutan, keadaan Sena masih setengah sadar dan ia membuka perlahan matanya.


"Berikan pisaunya," kata leader 4 iblis itu, slah satu temannya memberikan pisau itu kepada leadernya, kemudian ia bersiap-siap menusuk perut gadis malang itu.


JLEB!


Sena langsung membulatkan matanya, ia merasakan sakit di bagian perutnya, gadis itu mengeluarkan darah dari mulutnya, tubuhnya terasa sangat sakit, karena 4 iblis itu menusuk tubuh Sena beberapa kali.


Gadis malang itu pun, perlahan menutup matanya dan mengucapkan sesuatu tanpa suara yang keluar.


"El–elda maafkan aku, aku tidak bisa bertemu denganmu lagi, selamat tinggal." ucapan terakhir dari gadis malang itu, ia pun tidak bernyawa lagi dan noda darah terus mengalir di lantai gubuk tua itu.


***


Elda sibuk menghubungi sahabatnya itu, sampai beberapa kali ia menelepon sahabatnya itu, suara yang keluar hanyalah 'Nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan ini atau berada di luar jangkauan'.


Biasanya salah satu dari mereka menelepon, tapi sekarang rasa aneh muncul dalam hati Elda, membuat gadis itu merasakan hal aneh dalam pikiranya. "Sena, ayo angkat. Kenapa kamu tidak mengangkatnya?" tanya Elda terus menelepon sahabatnya itu.


***


"Pergilah, dasar anak sialan. Aku muak liat muka sok pintarmu itu!" ucap leader iblis itu sambil memperlihatkan smirknya.


Mereka berempat menyembunyikan jasad Sena, di seatu tempat yang tidak diketahui oleh siapapun, kecuali mereka berempat.


"Selamat tinggal, tuan putri." Ucap leader iblis itu sambil meninggalkan gubuk tua itu.


3 hari kemudian, Elda belum juga dapat kabar dari sahabatnya itu. Gadis dingin itu berpikir kalau Sena sedang sibuk dan tidak mau di ganggu.


"Sena, kamu kemana?" guman Elda meletakan kepalanya di kedua lengannya yang menyilang di atas mejanya itu.


Sementara ibunya Sena, mondar-mandir di sambil memikirkan anak tersayangnya itu, karena Sena belum pulang sama sekali dalam 3 hari ini.


Tok ... Tok ... Tok


Ibunya menoleh ke suara ketukan pintu itu, ia berjalan pelan menuju ke pintu, ibu Sena mendengar suara sirine mobil polisi, ia merasakan firasat buruk tentang ini.


"Apakah ini rumah anak yang bernama Sena?" tanya pak polisi itu.


"Iya, benar. Ada apa yah, pak?" tanya ibu Sena sambil menatap heran kepada pak polisi di hadapannya itu.


"Anak anda, kecelakaan di jembatan dekat kota, dan jasadnya belum di temukan," jawab pak polisi itu.


DEG!


Hatinya terasa sakit mendengar berita tentang kecelakaan itu. "Kami akan memberikan kabar jika ada tanda-tanda putri anda di temukan, saya permisi dulu." Katanya menarik topinya ke bawah dan ia pergi menuju ke mobilnya itu.


Seorang paruh baya itu, hanya menahan tangis di matanya, ia segera mengabari tentang peristiwa ini, kepada keluarga Elda. Kenapa harus keluarga Elda? Keluarganya dan keluarganya Elda sangat dekat dan memiliki hubungan yang erat.


***


Elda berada di jalan menuju ke rumah neneknya, setelah pulang dari sekolah ia biasanya cuman berjalan kaki saja, karena rumah nenek dan sekolah itu, jaraknya tidak terlalu jauh.


Gadis itu sedang mengendong tasnya di belakang, sambil mengamati sekeliling yang begitu ramai dan panas.


Drtt ... Drtt ... Drtt ...


Getaran itu membuat gadis itu, mengambil ponselnya dari dalam sakunya. Ia melihat nama orang yang meneleponnya itu adalah ....

__ADS_1


'Mama?' batinnya dan langsung mengangkat telepon dari ibunya itu. "Halo, mah?" ucap Elda memberhentikan langkahnya untuk mengangkat telepon dari ibunya itu, sambil menundukan kepalanya.


"Elda, cepat pulang!"


Ia mendongak-kan kepalanya dan bertanya ... "Kenapa tiba-tiba, mah? Aku 'kan belum libur. Dan kenapa nafas mama terengah-engah begitu?" tanya Elda yang berada di tengah-tengah orang yang sedang berjalan-jalan disekitar jalan itu.


"Ini tentang Sena, Elda." jawabnya.


"Hah? Ada apa dengan Sena?" tanya gadis itu semakin khawatir kepada sahabatnya yang tidak ada kabar sama sekali selama 3 hari ini.


"Dia, dia kecelakaan Elda, dan jasadnya belum ditemukan sama sekali."


DEG!


Gadis itu langsung membulatkan matanya, hatinya bagaikan di sambar petir di siang hari, tangannya yang sedang memegang ponsel itu bergetar hebat, dan cairan bening mengalir deras di pipi cubby gadis itu. Rasa sakit apa ini?


"Elda? Nak?" panggilan telepon belum berakhir, dan ibunya itu terus memanggil anak perempuannya itu, Elda hanya terdiam kaku di jalan.


Kakinya terasa berat untuk diangkat dan berlari. Setelah beberapa detik ia terdiam kaku, akhirnya ia bisa mengangkat kakinya untuk berlari.


'Tak, tak mungkin. Sena ... Sena ....' Batinnya sambil berlari kencang dan memejamkan matanya, air mata terus saja membasahi pipinya itu.


BRUK!


Akibat ia berlari sambil memejamkan matanya, ia tak sengaja menambrak orang dari depan membuat gadis itu tersungkur jatuh di tanah.


"Maaf." Katanya berusaha berdiri untuk melanjutkan larinya menuju ke rumah neneknya itu.


Ternyata sopir pribadi kediaman orang tuanya sudah menunggu gadis itu untuk mengantarkannya pulang. Sebelum ia pergi, Dia tak lupa meminta izin kepada neneknya untuk pulang ke rumah orang tuanya.


Setelah satu jam perjalanan, Elda pun sampai di rumah orang tuanya itu. Ia langsung berlari menuju ke ruang tengah yang terdapat orang tuanya, kakaknya, adiknya, dan juga ibunya Sena. Mereka semua sedang menunggu gadis itu.


"Mah, pah. Sena mana?" tanyanya terengah-engah, sambil menatap kedua orang tuanya itu. Mereka hanya memalingkan wajahnya dan tidak menatap gadis yang bertanya itu.


" ... "


"Bi, Sena mana?" ia pun berahli menoleh ke arah ibu sahabatnya itu, lagi-lagi ia memalingkan wajahnya dan menundukan kepalanya.


" ... "


"JAWAB AKU, SENA DIMANA?!" teriaknya bergema di ruang tengah tersebut, ia pun meneteskan air matanya. Gadis itu tidak suka di abaikan seperti ini.


Gale menghampiri adik perempuannya itu, yang sedang emosi dan menangis. Dengan wajah memerah akibat menangis. "Elda, kamu harus tenang dulu, tim polisi masih menyelidiki jasadnya," katanya memegang bahu adiknya dari belakang.


Elda segera menepiskan kedua tangan kakaknya dari bahunya dengan kasar, gadis itu berlari menuju ke kamarnya dengan air mata yang terus saja menetes di pipinya itu.


BAM!


Elda membanting pintu kamarnya dengan keras, membuat semua orang yang berada di rumah ini terkejut.


Ia melempar dirinya di atas king-size nya dan mengambil fotonya bersama sahabatnya itu. "Sena, kenapa kamu ninggalin aku secepat itu, apakah kamu tidak menyukaiku lagi?" tanya gadis itu sambil terisak.


Kalau kalian tanya, kenapa orang-orang bilang Sena itu meninggal gara-gara kecelakan? Itu semua cuman palsu! Orang tua dari 4 iblis tersebut berkerja sama dengan anak-anak mereka untuk memalsukan kecelakan yang dialami oleh Sena, padahal itu pembunuhan, orang tua mereka sengaja menyuruh orang untuk memalsukan kecelakaan itu, siapa lagi kalau bukan wartawan, orang yang selalu mencatat peristiwa kecelakaan, orang tua iblis tersebut menyuapkan uang sebesar 10 juta, kalau ia memalsukan cerita tentang hilangnya Sena akibat peristiwa kecelakaan.


Dan mereka juga menyewa saksi mata bahwa kecelakaan mobil tersebut melihat seorang siswa yang ditabrak oleh mobil tersebut hingga jatuh kesugai yang dalam.


Sopir mobil tersebut sebenarnya tidak ada dan lagi-lagi orang tua mereka menyewa orang untuk mengajukan diri sebagai pelaku tabrak lari.


[Telah terjadi kecelakaan, di jembatan dan mengakibatkan satu korban siswi SMP Geumdo, jasad korban belum di temukan dan masih masa pencarian, pelaku sudah di tangkap oleh petugas polisi.] Siaran berita di televisi.


Hari pemakaman sahabatnya itu, Elda terus saja menangis dan menangis, karena ia telah kehilangan sahabat satu-satunya itu. Setelah keluarga Elda pulang, gadis dingin itu langsung menuju ke kamarnya.


Setelah ia menganti bajunya, gadis itu duduk di tepi king-sizenya. "Kenapa? Kenapa, beb? Kenapa kamu begitu cepat meninggalkan ku? Apa kau marah sama aku, hmm ...?" gumannya sambil bertatapan kosong ke arah lantai.


Gadis dingin itu langsung berdiri dan menuju ke meja belajarnya, ia memegang sandaran kursi itu dengan tatapan sulit di artikan.


PRANG!!


Elda langsung melempar kursi itu keluar jendela kaca yang ada di kamarnya, ia sangat frustasi atas kehilangan sahabatnya itu.


Suara pecahan dari kamar gadis dingin itu membuat penghuni rumah kaget, mereka berlari menuju ke lantai atas, lebih tepatnya ke kamarnya Elda.


"Elda! Elda! Buka pintunya!" pinta papanya, sambil mengedor-ngedor pintu kamar anak gadisnya di dalam kamarnya. Papanya berusaha memutar-mutar gangang pintu itu, tapi sia-sia. Karena gadis itu telah mengunci pintunya dari dalam.


BRUK!


BRAK!


Elda memberantaki semua isi kamarnya, mengacak-ngacak semua yang berada di atas meja, dan ia kini mengambil vas bunga kecil, lalu ia melemparkannya ke arah lemari kaca.


PRANG!


Serpihan dari lemari kaca itu mengenai pipi Elda, karena gadis itu berdiri tepat di depan lemari kaca itu, cairan merah terus menetes di pipi cubby gadis dingin itu.


"Elda! Buka pintunya!" pinta Gale mengedor-ngedor pintu kamar adiknya, karena ia mendengar suara kaca pecah. Gale takut adiknya itu melakukan hal-hal aneh di dalam.


" ... "


Elda hanya menatap serpihan kaca yang ada di bawah lantainya, ia berjalan mendekat ke arah lemari kaca yang pecah itu. Dalam pikirannya hanya hal-hal yang berbahaya yang ia pikirkan sekarang. Gadis itu berjongkok dan mengambil serpihan kaca yang tajam dan ingin mengores tangannya menggunakan serpihan tajam itu.


Ia meremas serpihan kaca itu di tangannya membuat tangan kanannya itu tergores di bagian telapak.


SREK!


Cairan merah keluar dari pergelangan tangan kiri gadis itu, apa dia begitu depresi? Sampai-sampai ia melukai dirinya itu. Gadis itu duduk sambil memeluk kedua lututnya di sudut kamarnya. Akhirnya gadis itu menangis, darah yang berada di wajah dan tangannya hanya menetes-netes di atas lantai kamar gadis itu.


" ... "


Papanya yang berada depan kamar gadis itu, hanya mendengus dan ia kembali mengetuk-ngetuk pintu kamar anak gadisnya itu. "Elda, papa mohon keluarlah, kami tau kamu sangat terpukul karena sahabatmu itu telah meninggalkanmu, maafkan papa, Elda ...."


CEKLEK!

__ADS_1


Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan mendapatkan seorang gadis berjalan dengan tatapan kosongnya dan berwajah pucat, ia hanya menunduk-kan kepalanya.


Ibunya langsung melihat kondisi anak gadisnya itu, ia kaget melihat darah menetes-netes di lantai, ibunya itu pun langsung menghampiri Elda yang menunduk itu.


"Ya ampun, nak. Apa kamu melukai dirimu?" tanyanya memegang kedua tangan Elda yang berdarah itu.


" ... " Gadis itu tidak menjawab, seperti orang tidak bisa berbicara atau membisu dadakan.


Keluarganya meliburkan anak gadis itu selama 1 minggu dan akan kembali ke sekolah ketika pikiran gadis itu sudah tenang dan dingin. Kamar Elda juga sudah di perbaiki dan di tata rapi kembali seperti semula.


Seminggu berlalu, gadis itu pun pulang ke rumah neneknya dan ia tinggal menghitung beberapa hari lagi untuk lulus dari sekolahnya, ia pengen banget ketemu dengan sahabatnya setelah ia lulus, tetapi takdir berkata lain.


Singkat cerita, Elda kini kelas 2 SMA. sekolah tersebut mengalami kebakaran akibat percikan api dari laboratorium kimia, siswa-siswi sedang melakukan eksperimen dan ada kesalahan dalam melakukan tersebut. Untung tidak ada korban jiwa dalam kebakaran itu, gadis dingin itu hanya mengalami luka ringan, sekolah itu pun di tutup, satu hari kemudian, neneknya pun menghembuskan nafas terakhirnya.


Di situlah Elda di pindahkan sekolahnya bersama kakak ngeselin itu.


_Flashback Off_


"Jadi ini kebenaranya Sena?" tanya Elda menatap sahabatnya dengan tatapan sendu.


"Iya beb, Info tentang kecelakaan itu palsu yang dibuat oleh orang. Orang tua mereka berkerja sama agar aku hilang dunia ini, makanya aku dibunuh oleh anak-anaknya, orang tuanya iri sama aku. Karena aku selalu dapat juara di kelas dan membohongi semua orang tentang kecelakaan yang menyebabkan orang hilang!" jelas Sena menunduk sambil meremas rok yang ada di pahanya.


"Kamu masih ingat gak, wajah dan nama orang yang membunuh kamu itu?" tanya Gale menatap Sena.


"Sayangnya tidak kak, aku tidak ingat sama sekali namanya dan wajahnya. Aku cuman mengingat senyum licik dari mereka dan tempat aku di bunuh pun, aku lupa. Yang aku ingat cuman tempat yang begitu gelap dan aku cuman melihat tubuh 4 siswi itu, aku tidak sempat mengingat wajah mereka. Setelah aku menjadi hantu, ingatanku sewaku aku masih hidup hilang semua," jawab Sena mendongak-kan kepalanya kemudian mengelengkan kepalanya.


"Untung kamu ingat kami," ucap Elda.


"Iya, beb. Yang aku ingat cuman kalian dan ibuku aja. Aku mendapat ingatan dari koran lama yang berisi tentang siswi SMP Geumdo yang meninggal akibat kecelakan. Dan aku melihat nama yang mereka tulis dalam koran itu adalah namaku. Aku sempat berpikir pasti ini ulah orang tua keempat siswi tersebut dan kenapa orang-orang mengira aku ini meninggal akibat kecelakan, akhirnya aku dapat mengingat sedikit demi sedikit ingatanku tentang kematianku ini."


"Kenapa kamu gak ngasih tau mama, nak?" tanya ibu Sena yang berada di sampingnya.


"Aku gak mau ngerepotin mama, aku takut aku akan dikeluarkan dari sekolah," jawab Sena kembali menundukan kepalanya.


"Kenapa kamu bilang begitu nak, mama selalu mikirin kamu semejak kamu tiada," kata mama Sena.


"Kalau begitu, Sena punya satu permintaan mah," ucap Sena menoleh ke arah seorang paruh baya yang berada di sampinya itu.


"Apa itu, nak?" tanya ibu Sena lembut, kemudian ia tersenyum kecil kepada anaknya itu.


"Tolong jangan sedih terus mah dan obatilah rasa sakit yang ada dihati mama, jaga kesehatan. Dan satu lagi, suatu hari Sena akan pergi ke alamku. Jadi kita tidak akan ketemu lagi mah, jangan terlalu banyak pikiran lagi yah," kata Sena mengenggam tangan ibunya itu.


"Iya nak, aku tidak akan melupakan moment ini," balas ibu Sena.


"Kalau begitu, kami pamit dulu tante. Soalnya nanti orang tua milik tubuh ini dicari nanti tante," kata Gale berdiri dari posisi duduknya tadi.


"Iya, makasih sudah kasih kesempatan berbicara sama anakku," balas ibu Sena tersenyum kepada anak laki-laki itu.


Mereka pun berada di depan pintu rumah Sena kemudian meminta pamit kepada orang paruh baya itu.


"Sena, pergi dulu yah mah," pamit Sena menoleh ke arah ibunya kemudian ia langsung memeluknya dengan erat, sambil mengeluarkan air matanya.


"Iya, sayang. Jaga dirimu kalau kau berada di alam sana yah, mama akan selalu mengingat waktu kita bersama dan kita bertemu, aku sayang padamu nak," ucap Ibunya Sena membalasa pelukan anaknya itu kemudian ikut terisak.


"Aku juga sayang sama mama," jawabnya kemudian melepaskan pelukannya, dan mengusap air matanya.


"Elda, pamit juga tante, makasih waktunya," pamit Elda sambil mencium punggung tangan ibu sahabatnya itu.


"Iya, sama-sama nak," balas ibu Sena tersenyum kepada mereka bertiga.


Mereka pun pergi pulang kerumah, sebelum itu mereka harus kerumah Amora dulu untuk mengantarnya pulang.


"Apa benar ini rumahnya kak?" tanya Elda turun dari mobil kakaknya.


"Iya, menurut GPS di sini tempatnya," jawab Gale, mereka pun menuju ke teras rumah Amora.


"Oke, sekarang aku akan keluar," kata Sena besiap-siap keluar dari tubuh Amora.


Sena pun keluar dari tubuh Amora, kemudian tubuhnya hampir jatuh dengan sigap Elda berhasil menangkapnya.


"Dia cuman pingsan sebentar, nanti sadar kembali kok," kata Sena menatap sahabatnya itu.


"Oh," balasnya singkat kemudian ia duduk di teras rumah itu. Tubuh Amora tidak ringan banget yah, Elda keberatan. Jadi dia menyimpan kepala Amora di pahanya.


"Oke, aku pergi dulu yah, lain kali aku bermain di dalam tubuh kak Gale, yah," ucap Sena langsung menghilang entah kemana.


"Enak aja mau pake tubuhku," ketus Gale sambil memangku kedua tangannya di dada.


"Amora, Amora. Bangun!" panggil Elda menepuk-nepuk pipi Amora yang berada di pahanya itu.


"Mmm ... Aku dimana?" tanya Amora membuka matanya, kemudian duduk di samping Elda.


"Di rumahmu," jawabnya menoleh ke arah temannya itu.


"Kok aku tiba-tiba disini?" tanya Amora sambil memegang kepalanya yang sedikit pusing itu.


"Tadi kamu pingsan waktu kita mau ke kantin," jawab Elda langsung mengambil posisi berdiri berhadapan dengan Amora.


"Oh, makasih udah ngantar aku pulang," katanya Amora sambil berdiri menghadap Elda yang sedang menatapnya.


"Ok, aku pulang dulu, ya. Bye," Elda berpamit pada temannya itu.


Elda dan Gale pun sampai di rumahnya kemudian Elda langsung ke kamarnya dan Elda menelepon bodyguard pribadinya yaitu Arga.


"Halo," panggil Elda di via telepon.


"Ada apa, nona?" tanya Arga dengan suara agak bernada heran.


"Tolong cari orang yang membunuh Sena. Kalau sudah menemukan informasi kasih tau aku," jawab Elda sambil menundukan kepalanya.


"Baiklah," balas Arga dengan paham.

__ADS_1


Telepon pun berakhir dan kemudian Elda merebahkan dirinya di kasur yang berada di belakangnya itu.


'Sena, Sena. Kenapa kamu gak ngasih tau aku tentang masalahmu. Andaikan kamu kasih kabar itu tentang pembullyan tersebut, aku akan langsung pindah kesekolahmu Sena. Dan andai kau tahu Sena aku juga sendirian waktu SMP. Tenang aja Sena, aku akan balaskan dendam-mu,' batin Elda.


__ADS_2