Gairah Mas Ocong

Gairah Mas Ocong
Dokter Angga


__ADS_3

Keesokan paginya, Kinan langsung bergegas, dia tak sabar untuk segera bertemu dengan sambatan hatinya itu.


"Harus dandan yang cantik pokoknya"


Kinan mulai merias wajahnya dengan make up dan mengenakan gaun biru muda pemberian Mas ocong waktu itu padanya.


Sementara itu di rumah sakit, dokter yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba dan sampai di rumah sakit.


"Kau akhirnya sampai juga Angga"


Dokter Rian datang menyambut dokter Angga yang baru saja tiba dari perjalanan luar negeri nya.


"Iya Yan, capek banget sebenarnya tapi ini kan tuntutan pekerjaan"


Dokter Angga membalas sambil menuruni barang-barangnya dari mobil.


"Biar aku saja, kau ini sudah naik jabatan, masih saja tidak mau minta tolong orang lain membantu mu"


Dokter Rian langsung menarik tas bawaan dokter Angga dan menyuruh staf rumah sakit untuk mengantarnya ke ruangan dokter Angga.


"Kau kek gak kenal aku aja Yan, kalau bisa ku kerjakan sendiri, kenapa harus minta tolong orang lain"


"Itulah masalah mu Ngga, dulu ia kau bisa berpikir seperti itu saat kau berada di posisi ku, tapi saat ini kau bahkan telah jauh di atas ku"


Dokter Rian sedikit minder dengan teman lamanya ini, sebab walaupun mereka dulu satu sekolah untuk menggeluti karir sebagai dokter, tapi dokter Angga yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di atas dokter Rian dengan cepat lulus dan bisa mendapatkan beasiswa melanjutkan ke ahli bagian dalam, selain itu dengan prestasinya di rumah sakit Amerika membuatnya di angkat menjadi profesor karena penemuannya akan penyakit langkah.


Saat mereka mengobrol di lobi, Tiba-tiba dokter Rian menerima sebuah panggilan dari keluarganya yang membuatnya melipir sebentar dari dokter Angga.


"Ngga aku,... "


"Iya, pergilah, aku tunggu di sini"


Sambil menunggu, mata para perawat muda dan masyarakat awam yang ada di sana mulai memperhatikan dokter Angga.


Wajahnya yang tampan itu membuat setiap mata yang memandang pasti akan langsung jatuh hati.


Kinan yang telah sampai di rumah sakit, langsung bergegas menuju ruang Jonathan.

__ADS_1


"Sudah cantik dan aku juga telah membawakan nya buah dan makanan yang lezat, aku harap Jonathan akan menyukainya"


Kinan mulai berjalan menuju lobi, saat di tengah lobi tiba-tiba pasien darurat datang dan tanpa sengaja para dokter bagian operasi itu menabrak tubuh Kinan dan membuatnya hampir terjatuh.


"Eh,... Aarghh,... "


BRAK


Nasib baik dokter Angga berada di sana dan berhasil menangkap Kinan.


Mata mereka bertemu, dan entah mengapa untuk pertama kalinya, dokter Angga merasakan getaran di hatinya saat menatap mata Kinan.


"Maafkan aku"


Kinan mencoba melepaskan diri dari delapan dokter Angga.


"Tak masalah. Apakah kau baik-baik saja"


Dokter Angga berusaha bersikap tenang dan mulai membantu Kinan membereskan barangnya yang terjatuh.


Kinan mulai memasang wajah sedihnya. Bagaimana tidak, dia telah rela bangun pagi hanya untuk memasak kan makanan itu untuk Jonathan, tapi sampai di rumah sakit, makanan itu malah jatuh semua, dan buah yang dia bawa juga telah kotor dan sebagian di pijak oleh para dokter yang membawa pasien darurat tadi.


"Biar aku belikan yang baru"


Dokter Angga mencoba menghibur hati Kinan yang sedih melihat semua yang dia bawa hancur.


"Ti,... tidak usah, mungkin aku memang tak di izinkan membawa makanan untuk Jonathan"


Kinan mencoba tetap tersenyum walaupun dalam hatinya merasa kesal dan marah, tapi para dokter itu kan sedang dalam keadaan darurat jadi ya sudahlah.


Kinan pun pergi meninggalkan dokter Angga di sana. Dokter Rian yang telah selesai menelepon datang kembali menghampiri dokter Angga.


"Angga ayo kita ke ruangan mu sambil aku memberikan berkas pasien VVIP itu"


Dokter Rian menyadarkan dokter Angga yang saat ini masih terus melihat punggung Kinan yang semakin tak terlihat itu.


"Ah,. iya ayolah"

__ADS_1


Dokter Angga sadar dan langsung fokus ke tujuan dia di panggil ke sini.


Sementara itu di ruangan Jonathan yang merasa jenuh, karena tak bisa-bisa untuk melakukan apa yang dia inginkan mulai mengeluh.


"Hadeh, kapan dokter itu datang"


"Aish, sabarlah dulu, kata dokter Rian hari ini dia tiba, benarkan Lukas?"


Mbak Kunti mencoba membuat Jonathan untuk tenang dan sabar.


"Benar, dia sudah sampai seharusnya saat ini, tapi mungkin ada hal yang harus dia lakukan di ruangannya"


Jelas Lukas dan membuat Jonathan hanya bisa diam dan bersabar.


"Bah kau baru juga 2 hari ini, gak usah mengeluh lah, sekarang pikirkan kalau Kinan nanti datang mau kek mana kau"


Mas ocong masih saja memikirkan Kinan nya.


"Iya juga, tapi ya sudah lah hadapi saja, nanti aku gak akan dekat-dekat dah sama bidadari mu itu"


Jonathan berbicara dengan Mas ocong dan membuat Lukas kebingungan.


"Tuan, kau bicara dengan siapa?"


Tanya Lukas yang penasaran, sebab hanya ada mereka bertiga di sana saat ini.


"Oh, itu,... sama diri ku sendiri lah, aku gak mau dekat-dekat dengan Kinan dulu sampai penyakit ku ini sembuh, takut dia ketularan, ha iya itu"


Dengan gugup Jonathan menjawab hal itu sambil berharap Lukas tak akan curiga.


"Oh jadi kamu gak mau dekat sama aku begitu?"


Kinan tiba-tiba muncul dan mengagetkan.


"Alamak, bakalan riweh ini,... "


Jonathan hanya bisa menelan cairan saliva nya melihat ekspresi wajah Kinan yang cemberut....

__ADS_1


__ADS_2