Gairah Mas Ocong

Gairah Mas Ocong
Pencerahan


__ADS_3

Di rumah sakit


"Cong, ada apa?"


"Gak ada apa-apa Kun. Aku hanya sedang memikirkan tentang dokter Angga saja"


"Kau ingin dia jadi penggantimu kah?"


"Iya, aku pikir dia cocok"


"Entahlah, aku masih tidak bisa mempercayai pria itu"


"Kenapa?"


"Entahlah, dia seperti menutupi sesuatu"


"Sesuatu?"


"Sudahlah, nanti saja pikirkan hal itu, sekarang kita harus pergi ke hutan bertemu dengan mbah Jati"


"Eh, kenapa?"


"Sudah kita pergi dulu"


"Baiklah"


Saat mereka berdua hendak pergi, Jonathan menghentikan mereka.


"Biarkan aku ikut dengan kalian"


"Eh, kau ngapain ngikut"


"Aku bosan di sini"


"Aish, sangat tidak masuk akal, ternyata setan bisa bosan juga"


"Aish, ayolah kau juga setan dan aku yakin kau juga selalu merasakan hal yang sama"


"Aish, ini bocah lama-lama ngelunjak y"


"Sudahlah, kalian berdua jangan bertengkar begitu"


"Dia yang mulai Cong"


"Bukanlah, Lo duluan yang mulai Kunti"


"Hey, jaga bicaramu"


"Halah bac*t"

__ADS_1


"Anj*r"


"Woy, kalian kalau gak bisa diam juga gua tinggal ini"


"Weh Cong santai"


"Eh Cong jangan lah"


"Yaudah diam"


"Iya, ia"


Mereka bertiga pun pergi menuju hutan terlarang tempat Mbah Jati berada.


SWOSH


Tak butuh waktu lama, mereka bertiga berhasil menghilang dan sampai di tujuan dengan cepat.


"Wih keren"


"Cih lo kan setan, kenapa kaget begitu?"


"Sekarang kan gua udah jadi manusia, kalian berdua itu yang setan sekarang kan, wkwkwk"


"Nj*r ngelunjak ni bocah"


"Wkwkwk, canda oy"


"Sampean ndak bakal dapat jawaban opo-opo neng mari"


"Mbah salam"


"Weh mbah Jati ini sakti y, belum juga kita bicara apapun dia udah tau aja maksud kita ke sini"


TOK


Mbak Kunti menotok kepala Jonathan yang asal bicara itu.


"Tidak sopan, mbah Jati ini sesepuh jadi akan tau segala hal"


"Dukun kali"


"Aish anak ini"


"Sudah, kalian berdua jangan mulai lagi"


Mas ocong mencoba melerai keduanya.


"Hahaha" mbah Jati tertawa melihat tingkah keduanya.

__ADS_1


"Weh mbah, bisa ketawa juga ternyata"


"Jonathan!"


"Aish gua cuma ngomong jujur aja pun salah Kun"


"Saya tidak menertawakan kalian berdua, tapi menertawakan nasib kalian"


"What?"


"Yang satu mati karena di bunuh pacarnya sendiri. Yang satu mati karena kebodohannya"


"Weh mbah gak lucu sumpah gak lucu"


Jonathan tampak tak senang dengan ucapan mbah Jati yang menyayat hati.


"Sampean seharusnya belajar dari masa lalu dan ora berdiam diri neng masa lalu wae"


"Kita gak begitu kok mbah" sahut Jonathan


"Kalau tidak, lantas mengapa sampean masih saja mengingat mantan dan nasib buruk dari keluarga sampean"


"Itu kenangan lah mbah"


"Kenangan pedih itu seharusnya di buang dan di lupakan, bukan di ingat terus dan jadi bumerang buat sampean hingga tidak bisa pergi ke alam barzah"


Mbak Kunti pun teringat dengan apa yang selama ini telah dia lakukan, memang benar, dia masih menyimpan dendam dengan pacar yang membunuhnya itu hingga sekarang.


"Mbah, maafkan saya, tapi kedatangan kami ke sini bukan untuk mendapatkan ceramah dari mbah"


"Saya tidak menceramahi sampean semua, saya saat ini tengah memberikan solusi atas masalah sampean- sampean"


"Hah? maksudnya mbah?"


Mbah Jati tidak menjawab pertanyaan terakhir mas ocong, dia kembali membatu dalam tapaannya.


"Mbah, mbah,... "


"Aish, ni aki-aki gak nyambung y, belum juga dapat jawaban sudah membatu kembali dia"


"Sudahlah, kau diam saja Jo"


"Cih"


Mas ocong mengingat semua perkataan mbah Jati yang seolah sugesti dan petunjuk. Begitu juga mbak Kunti yang berpikiran sama dengan mas ocong.


Berbeda dengan Jonathan yang seolah tak peduli dan biasa saja.


"Aku pikir memang sudah saatnya untuk melepaskan semuanya" batin mas ocong dan mbak Kunti bersamaan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2