
Dengan sedih Kinan masuk ke dalam mobilnya.
"Huhuhu,.... "
Air matanya pecah dan semakin mengalir deras, Mas ocong yang saat ini juga ada di sampingnya ikut merasakan kesedihan yang menimpa Kinan nya itu.
"Kin, jangan sedih begitu, kita belum juga pisah kau sudah menangis seperti ini. Bagaimana kelak saat aku harus benar-benar pergi meninggalkan mu"
Mas ocong merasa terbebani dengan semua ini, dia yang ingin melindungi Kinan nya, malah menjadi serba salah.
Sementara itu di depan ruangan VVIP Jonathan, dokter Rian dan Angga yang akhirnya sampai mulai membuka pintu dan masuk ke dalam.
Tapi saat di dalam, betapa terkejutnya dokter Angga saat melihat pasien VVIP yang dokter Rian katakan adalah Jonathan teman masa kecilnya dulu di panti asuhan.
"Angga!"
Jonathan kaget melihat temannya yang telah hampir 10 tahun tak bertemu.
"Ini benar-benar kau kan?"
Jonathan masih tak menyangka, begitu juga dokter Angga yang melihat Jonathan sahabat kumuhnya itu, ternyata anak konglomerat di negara ini.
Tak menunggu lama, dokter Angga langsung memeluk Jonathan karena telah lama mereka tak bertemu.
Setelah pelukan hangat antara dua sahabat, mereka mulai berbincang ini dan itu.
Mbak Kunti, Lukas dan dokter Rian hanya bisa melongo melihat interaksi mereka yang sangat langkah dan diam membiarkan kedua sahabat itu saling berinteraksi satu sama lain.
"Aku gak nyangka kau ternyata anak konglomerat, padahal dulu kau itu beli roti pun gak sanggup"
__ADS_1
Dokter Angga mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Jonathan waktu itu.
"Benar, dulu paman ku mengambil seluruh harta kekayaan orang tua ku, dan melemparkan ku ke panti asuhan terpencil itu"
"Benar, kalau kau tidak masuk ke dalam panti asuhan, kita tidak akan pernah bertemu kan"
Keduanya mulai bernostalgia dengan masa lalu mereka yang sangat suram dan menyedihkan.
"Tapi sekarang kau hebat, bisa jadi dokter alih bedah dalam termahal" Jonathan memuji keberhasilan sahabat kecilnya itu.
"Y alhamdulillah, tapi walau begitu, aku tidak sebanding dengan mu Jo, yang anak konglomerat"
Spontan Jonathan langsung tertawa.
"Jika bukan karena orang gila itu, aku juga tidak akan bisa menikmati semua ini sekarang"
Dokter Angga bingung dengan perkataan Jonathan, tentu saja orang gila itu siapa lagi kalau bukan Mas ocong, tapi dokter Angga tidak tau akan hal itu.
"Tapi walau pun begitu, tetap saja aku tidak bisa menikmati nya, karena masih harus berbaring di kasur ini"
"Oh ia aku hampir lupa, kedatangan ku dari Amerika ke sini hanya untuk melihat keadaan mu"
Jonathan langsung mengambil stetoskop nya dan mulai memeriksa Jonathan.
"Menurut catatan kondisinya, menurut mu ini kenapa Ngga?" Dokter Rian maju untuk mencari tau keadaan Jonathan yang cukup langkah ini.
"Belum bisa di pastikan, tapi kita harus mengambil sel darah Jonathan terlebih dahulu, aku sendiri yang akan menyelidikinya"
Setelah memeriksa dan mengatakan hal itu, dokter Angga dan Rian yang telah di temani seorang suster langsung mengambil sedikit sel darah Jonathan.
__ADS_1
"Tidak perlu repot-repot memeriksanya"
Jonathan menolak untuk memberikan sel darahnya.
"Jo apa maksud mu? Jangan bercanda, ini bukan waktu yang tepat"
Dokter Angga tau sejak dulu Jonathan selalu bercanda di mana pun, tapi walau demikian, saat ini keselamatan dan kesehatan nya adalah yang terpenting.
"Itu benar Jo, jangan bercanda kau ini, sudah cepatlah, biarkan para dokter ini bekerja"
Mbak Kunti tidak mau Jonathan bertingkah yang tidak-tidak dan membuat mereka semua menjadi pusing.
"Aku tidak lagi bercanda atau apa, lagi pula aku hanya butuh obat penghilang nyeri dan suntikan energi saja"
Ucapan Jonathan mengingatkan dokter Angga dengan kejadian dulu saat Jonathan tiba-tiba mengalami rasa sakit yang amat sangat di bagian kepalanya dan membuatnya terguling-guling di lantai, sampai saat kepala panti memberikannya sebuah obat, maka rasa sakitnya langsung perlahan hilang dan Jonathan menjadi terkendali lagi.
"Tunggu sebentar, jangan bilang penyakit mu yang dulu belum sembuh" ucap Dokter Angga yang membuat yang lainnya kaget.
"Aku tidak punya banyak uang untuk mengobatinya, jadi y begitu"
Dengan santainya Jonathan seolah hanya pasrah dengan apa yang menimpanya selama ini.
Dokter Angga langsung menarik kerah baju Jonathan.
"Gila kau y, sudah tau seperti itu kau malah masih saja mengonsumsi minuman keras dan merokok, apa kau tau, kau sama saja mendorong diri mu semakin dekat dengan kematian"
Emosi dokter Angga meluap-luap melihat tingkah bodoh sahabatnya itu.
Yang lain hanya bisa terdiam melihat reaksi dokter Angga, tak tau apa sebenarnya yang telah terjadi pada Jonathan, tapi apapun itu, sudah pasti penyakit itu bukanlah penyakit yang mudah untuk di sembuhkan, mengingat pola hidup Jonathan dulu yang sangat tidak sehat dan sembrono...
__ADS_1