Gairah Mas Ocong

Gairah Mas Ocong
Kandidat pengganti


__ADS_3

Mas ocong yang kembali setelah mengantar Kinan nya pulang langsung duduk di samping Mbak Kunti sambil bercerita apa yang terjadi tadi.


"Kun, tau gak, tadi Kinan nangis sedih banget, gua sampai gak tega lihatnya"


Mas ocong yang masih belum tau bahwa Mbak Kunti saat ini tengah mengetahui rahasia yang dia sembunyikan itu langsung kena semprot.


"Kita berteman udah lama, tapi kau masih aja menyembunyikan semua ini sama ku Cong"


"Hah? Sembunyikan apa Kun?"


Mas ocong yang masih tak mengerti malah bertanya balik pada Mbak Kunti yang spontan menerima cekikan keras di leher kain kafannya itu.


"Ekh.... Kun, kenapa lu"


Tangan Mbak Kunti mencengkram erat di kain kafan Mas ocong yang membuat kerudung depannya itu semakin maju dan wajah Mas ocong hampir tertutup.


"Kenapa kau gak bilang kalau saat menyelamatkan ku waktu itu, dampaknya kau jadi kehilangan setengah tahun waktu mu hah?" Mbak Kunti meluapkan amarahnya. "Dasar kau itu menyebalkan tau gak" Mbak Kunti mulai memukul-mukul pundak Mas ocong.


"Aduh, aduh bentar dulu lah, gua gak napas ini"


Mas ocong sedikit mendorong Mbak Kunti dan akhirnya dia kembali bisa bernapas.


"Gila kau Kun, mau gua mati berapa kali ini bisa buat gua mati lagi"


"Bego, kau itu setan udah mati gak bisa mati lagi,.. Ah sebel ah"


"Eh, santai dulu bah Kun, kau itu marah-marah aja pun, lagi pula aku gak kasih tau kau itu kan biar kau gak merasa bersalah atau nyalahin diri mu sendiri"


Setelah mendengar alasan Mas ocong membuat Mbak Kunti sedikit tenang, tapi tetap saja rasa bersalah di ulung hatinya masih saja ada.

__ADS_1


Dengan ekspresi sedihnya, Mas ocong melompat mendekati Mbak Kunti dan mencoba menghiburnya.


"Inilah yang gak gua inginkan dari lu Kun, ekspresi bersalah dan nyalahin diri lu sendiri"


Mbak Kunti tersadar dengan ucapan Mas ocong.


"Aku,... "


"Seperti yang kau katakan, kita ini teman, gak lebih dari itu malah, kita bagai saudara, seharusnya gak ada yang namanya rasa bersalah atau gak enak hati kan"


Perkataan Mas ocong membuat Mbak Kunti jadi teringat waktu dia melawan Mbah Kidul demi dirinya. Tanpa rasa takut Mas ocong melindungi dan menjaganya dan dengan santainya dia malah tak memikirkan dirinya sendiri.


"Maaf Cong, aku salah, huhuhu,... "


"Hadeh udah Kun, jangan di pikirkan, sekarang fokus ke rencana awal kita dari pengganti posisi gua di sisi Kinan"


Mbak Kunti lalu menghapus air matanya yang tampak hitam dan membuat wajahnya seperti terkena semprotan tinta cumi.


Mbak Kunti mulai membuka laptopnya dan mencari daftar pria tampan yang kaya dan baik hati.


Berbagai nama dan rupa keluar begitu saja di layar laptop Mbak Kunti.


"Cong lihatlah ini, begitu banyak pria tampan yang cocok dengan Kinan mu kelak"


Mbak Kunti menunjukkan foto-foto dan biodata para pria tampan itu, tapi Mas ocong yang sudah memiliki pilihannya sendiri tentu saja tak tertarik dengan mereka.


"Gak Kun, gua udah punya kandidat sendiri buat Kinan gua"


Pupil mata Mbak Kunti membesar, dia kaget dengan apa yang Mas ocong katakan.

__ADS_1


"Hah udah punya? Siapa? Di mana kau jumpa pria itu? Apa pekerjaannya dan seberapa kaya dia?"


Berbagai pertanyaan terus terlontar dari mulut Mbak Kunti yang penasaran dengan pria pilihan Mas ocong, takut si ocong akan salah pilih dan akan menyakiti Kinan nantinya.


"Percayalah padaku, pilihan ku kali ini benar-benar adalah pilihan yang tepat dan ku jamin Kinan ku tidak akan terluka jika bersama dengannya kelak"


Walaupun tak terlalu yakin dengan pilihan Mas ocong tapi Mbak Kunti tetap setuju dan mengikuti kemauan Mas ocong.


"Memangnya siapa sih Cong? Kok aku makin penasaran"


"Dia bekerja di sini Kun, dia seorang dokter"


Mbak Kunti langsung menebak siapa dokter itu.


"Apa, jangan bilang si culun dokter Rian itu. Hadeh Cong yang benar aja jangan dia lah, gak akan bisa jaga Kinan nanti, dia yang begitu loyo udah pasti binatang buasnya pun loyo gak ada sensasinya hadeh"


Mbak Kunti salah paham, tapi Mas ocong malah geli dengan pemikiran Mbak Kunti yang terlalu jauh, sampai membicarakan binatang buas dengan bisa kecil.


"Weh Kun otak mu ngeres juga ternyata. Tapi bukan dialah"


"Hah, jadi siapa?"


"Aku gak tau namanya, tadi dia tadi datang bersama dengan dokter Rian"


"Bersama dengan dokter Rian"


Mbak Kunti mulai mengingat-ingat.


"Buset, dokter Angga kah sahabatnya si Jonathan itu"

__ADS_1


"Sahabat Jonathan?"


Mas ocong kaget saat mendengar dokter Angga adalah sahabat Jonathan. Sungguh dunia yang sempit...


__ADS_2