Game Setan

Game Setan
bab 11


__ADS_3

musim penghujan banyak sekali yang sakit, tidak usah anak kecil yang orang dewasa saja rentan flu, batuk dan sakit badan namanya, entah kenapa juga kalau sudah musim hujan banyak yang datang ke tetua kampung karna minta obat begitu, tetapi mengapa tidak ke dokter atau ke puskesmas saja Bik kataku waktu itu, tidak menpan kata mereka, dan semuanya yang sakit pada datang ke tetua kampung dan ketika kita simak disana tetua itu langsung mengunyah sirih kemudian lehernya bersiul kembali dan kemudian katanya anak yang sakit itu dikejutkan oleh orang ketika main jadi batinnya terkejut dan makanya sakit, nanti kalau pulang mandikan air ini dan suruh anaknya makan sirih dan tentu saja anaknya tidak mau, dipaksa si ibu dan akhirnya anaknypun mau, sampai di rumah juga dimandikan air pisang supaya gak deman dan di campur dengan bunga2 sapa dan kiranya apakah itu gatal dan aku juga tidak tau, karna pernah aku juga dibawa ibuku kesana dulu, deman dan sakit badanku karna pilek dan tetua itu menidurkanku kemudian mengurut diriku dengan.minyak kelapa yang khusus di racik oleh tetua itu dan setelahnya akupun makan banyak dan sembuh tapi tidak makan sirih, pernah jug saku sakit juga disuruh membeli telur ibuku dan ibuku merebus telur itu kemudian oleh tetua di guling2kan ke badan ku dan ketika telur itu di belah hitam bukan kuning, itu kiriman orang yang tidak suka ke ayahku katanya makanya aku yang kena dan bukan ayahku, dan setiap kali datang kesana maka akan selalu ada yang iri sehingga membuat ayahku menjadi linglung pernah juga ayahku jadi berpikiran bahwa kenapa semua orang iri pada kami padahal kami adalah orang susah dan tidak punya apapun dan tentu saja untuk makan saja kami susah kata bapak, dan menurut tetua itu kami ini sombong padahal kami orang susah, begitulah kata tetua itu sehingga bapak dan ibuku tidak bisa lagi memikirkan bagaimana lagi untuk besok dan kalau sudah banyak yang iri kepada kami ada saja yang dikatakan tetua itu dan hanya akan meresahkan hati dan pikiran saja kataku kepada bapak dan besok kalau mau berobat kita dokter saja di puskesmas dan tidak jadi beban dan pikiran juga, ayahku hanya berpikir iya nak, masih kecil saja kamu sudah membuka pikiran bapak, setelah sembuh maka kami akan kembali ke rumah tetua itu lagi, masih banyak pasiennya dan tentu tetua itu sibuk, ibu sudah memasukkan beras, gula merah, gula pasir, bubuk teh, garam, gula putih kedalam keranjang dan tak lupa juga uang tentunya untuk diberikan ke tetua, dan semuanya juga begitu kalau sudah sembuh dan pantasa. tetua itu jadi malas yang lainnya pada ke sawah untuk membajak sawah tetapi tetua itu cuma dirumah menunggu pasien datang, dan kenapa tidak ke sawah saja dan tidak usah menjadi dukun.kataku pada bapak waktu itu dan bapak mengatakan mungkin sudah itu pilihannya untuk menjadi seperti itu, berarti untuk makan sehari2nya tetua ini mengharapkan dari orang2 yang datang kepada untuk membawakan makanan, kalau tidak kita bawa entah rokok saja maka akan ditanya kalian tidak bawa ayam tadi, makanya makanya ayam hitamnya hidup banyak sekali bahkan ketika kami membelipun harus beli mahal karna ayam warna hitam dan mulutnya juga hitam, dan ketika kita membeli harganya sudah 2 kali atau 3 kali lipat karna diperlukan untuk ritual karna tidak ada dijual di pasar, kadang aku heran melihat persyaratannya aneh sekali dan aku menemani ibu untuk membeli ataupun membawa ke tempat tetua itu, apakah kalau mereka minta ilmu kebal apakah minta ilmu kebal dan mereka memberikan ilmu kebal dan harus menjaga pantangan makanan kalau mau kebal, jadilah mereka menjadi orang yang kebal senjata dan untuk hati2 harus berpantangan makanan


__ADS_2