
setelah sehari yang lalu meninggal 6 orang maka ritualpun dilakukan dengan membuat bendera setan tapi sebelumnya harus potong sapi atau kambing, dan masing2 setiap rumah tangga harus membawa nasi dan lauknya, dan makanan yang akan di makan itu juga dicampur dengan darah hewan2 tersebut sebagian digalai. sebelah kanan kulihat ada kapan putih yang tertutup entah apa isinya, dan sudah di sediakan baskom yang besar berisi bunga Safa dan air jeruk purut dan dibagikan kepada kami, dan ketika disuruh kekepalaku untuk di panggir kan kata bapak, aku cuma menggelengkan kepala, entah untuk apa juga itu pikirku, yang menolong kita itu Tuhan, tetapi bapak dan ibu percaya akan hal itu, sudah lakukan saja nak, aku terdiam dan melakukannya dan berlari menuju teman2 yang lagi bermain dan melihat memotong sapi, dan tetua2 itu sibuk mengucapkan sesuatu dan bibirnya bergerak2 seperti mengucapkan sesuatu aku bertanya kepada tua yang disana itu biasalah ucapan untuk hewan yang mau di sembelih katanya, sapi itu di ikat kaki2nya dua2nya dan seakan minta untuk dilepaskan aku kasihan melihat sapi itu, aku berlari kembali ke teman2 dan teman2 malah lari melihat sapi semuanya, aku kembali lagi ke balai desa kain kapan putih tadi dibuka di dalam, nenekku mengatakan pergi dari sini kalau kamu tidak kuat melihatnya, gak apa nek aku kuat kok kataku, benar saja aku berteriak karna kulihat tengkorak manusia dan tulang belulang di kapan putih itu dan itu di buka satunya lagi, sama juga tengkorak manusia dan giginya masih menempel disana, aku berlari ke ayahku dengan napas terenggah dan kutanya itu tulang tengkorak siapa rambut putih dan giginya masih ada, tertinggal di tengkorak itu pak kataku, tidak apa kata bapak kita juga akan sama seperti itu yang tinggal cuma tulang belulang saja jangan takut semuanya sudah ada waktunya, aku berlari kembali kembali ke kotak kapan itu, kulihat kembali tulang belulang itu sudah di mandikan dengan panggir dan dibersihkan, yang kotor di sikat pakai sikat gigi dan tetua2 itu menanggis dan kesurupan, menari2 dan sepertinya tidak lelah saja, aku binggung mereka ini kenapa semua makanan yang disajikan di makan habis seperti orang tidak waras, aku diam saja melihat, kumudian tertawa terbahak2 dan minum air kelapa seperti kehausan saja, aku melihat bapak dan ibu diam saja melihat tetua itu dan jika makanannya habis maka akan di tambahkan kembali, sesaji itu sudah dibuat sedemikian rupa hingga jadi manis untuk dilihat banyak pandan kelapa muda di rangkai untuk itu sudah diletak segala hidangan dan makanan serta buah2an untuk tetua2 itu yang kalau di kampung kami disebut orang pintar atau dukun atau yang lainnya, apamtidak capek makan telur dengan kulitnya dimasukkan ke mulut begitu saja, kemudian beras di ulirkan di lemparkan kepada seluruh warga desa supaya di berkati, jauh dari musibah dan sehat, nek sudah selesai belum nek kataku bel.masih banyak lagi kata nenekku, nah kami tidak lapar atau masih kenyang kamu, nanti saja nek, itu yang masuk arwah si nenek dan kakek buyutnya yang ada tulang belulang itu, mereka adalah dukun sakti dulunya, jadi kita menghormati dan memanggil arwahnya supaya kita sehat saja dan kita jauh dari penyakit kata nenekku.