
Bagaimana hatiku tenang jika bapak dan ibuku di bawa ke kampung sebelah karna keluarga kami ada yang sakit dan tidak cukupkah mereka hanya membawa ibu atau bapakku saja seolah tidak ada saudara yang lainnya yang bisa membantu sedangkan perjalanan dari dada kami ke desa sebelah memang tidak terlalu jauh tetapi bapak atau ibu kami juga butuh istirahat bukan, aku hanya menunggu mudah - mudahan ibu dan bapak pulang malam ini, entahlah apa yang di pikirkan oleh paman dan bibiku disana selalu saja di layani dan mereka selalu saja menganggap keluarga kami rendah dan tidak punya uang makanya selalu saja bapak dan ibuku yang di suruh menjaga mereka ketika sakit bahkan mencuci baju mereka ibuku sudah seperti pembantu saja di buat di sana bahkan di keluarga bapak juga begitu dan kami anak kecil jangan ikut campur katanya, padahal mereka saja orang yang sudah dewasa tidak mengerti apa yang mereka katakan.
Malam semakin larut dan ibu serta bapak belum juga pulang karna besok mau ujian maka kamipun belajar sambil menunggu malam mata kamipun mengantuk dan aku melihat pintu ke depan lagi kalaupun sudah di kunci kakak katanya tetapi aku belum yakin karna aku sendirilah anak lelaki bapak jadi aku yang harus bertanggung jawab kepada kedua saudara perempuanku dan kamipun segera tidur ke kamar masing - masing.
Tengah malam kakak dan adikku datang ke kamarku dan mengatakan pintu depan di gedor dan masih jam dua pagi tetapi kenapa pintu rumah di ketok - ketok terus dan saudaraku tidak berani membukanya karna memang sudah malam sekali bahkan dini hari dan akupun bertanya siapa di luar dengan keras dan suara itu tidak menyahut tetapi hanya di ketok lagi dan lagi, aku bertanya lagi siapa di luar dan tidak jawaban dari luar dan kamipun tidur kembali saja kak kataku tetapi kakakku dan adikku tidak berani tidur di kamar mereka lagi dan Kamipun tidur bersama - sama.
__ADS_1
Menyelang subuh ada lagi yang mengetuk pintu lagi dengan keras dan aku bertanya, siapa di luar dan mau apa tidak ada suara kembali, di ketuk lagi dan bertanya siapa di luar dan tidak ada suara lagi hanya suara kaki dengan sandalnya, kemudian kami tidur lagi dan aku tidak mencoba membuka pintu karna akan sangat rawan sekali karna masih malam sekali menyelam subuh pagi sedangkan rumah kami ini di atas sendirian dan tentunya jarang orang yang mau kemari dan capek sekali jika naik keatas.
Heran dek, kenapa tadi malam kita di ganggu terus ya sampai kakak masih mengantuk dan harus buat sarapan kemudian sekolah lagi, kemarin kakak juga gak bisa tidur lagi takut ada gempa atau apa sambil menunggu ibu dan bapak pulang ternyata mereka tidak pulang sampai pagi dan sudahlah kita sarapan aja dulu dan gak mungkin setan yang datang mengerjai setan kan gak bisa mengetuk pintu cuma untuk menakuti aja yang bisa dan kakak juga masih mengantuk sekali.
Mungkin bapak dan ibuk pulang nanti sore kak, kita mandi, sarapan kemudian ke sekolah, tidak usah dipikirkan ketukan yang kemarin kak takutnya ada orang yang memang lagi butuh buat ibu dan bapak tetapi karna pintu gak kita buka langsung pergi orangnya dan sekarang matahari sudah mau siang nanti keburu kita terlambat, goreng mata sapi aja kak biar cepat dan biar aku yang bangunkan adik kayaknya adik masih tidur, kasihan kayaknya adik juga lelah karna gangguan tadi, ayo kak buruan sudah mau terlambat.
__ADS_1
Akupun mandi ke sumur belakang cuaca terang dan mulai kelihatan terangnya pagi, walaupun begitu harus tetap hati - hati takut kesandung batu jika berjalan dan memang jika di rumah kami pagi sibuk mau ke sekolah maka aku akan ke belakang tetapi apa ini yang lengket di tubuhku seperti benda 6ang bergerak - gerak di tanah dan mulai mengigit kakiku dan naik ke atas dan ada apa ini lagi sepertinya banyak lintah di sumur dan mulai mengigit tubuhku satu dan akupun secepatnya mandi dan memakai baju dan aku lihat lintah itu bergerak - gerak perlahan dan aku sudah mematikan lintah itu yang sudah mau menggigitku dan biasanya tidak ada lintah di sumur ini, kalaupun ada itu di sawah dengan cepat aku memberikan garan kepada seluruh badanku dan langsung memakai baju ke sekolah, aku sangat geli melihat lintah yang berserakan di tanah itu, garam pun dihamburkan keluar dan lintah itu hilang saja begitu tiba - tiba.
Aku terkejut kakakku menepuk punggungku karna menyuruhku sarapan dan benar saja aku sangat terkejut apalagi melihat lintah yang begitu banyak di halaman belakang, aku takut menceritakannya kepada kakak karna dia pasti akan memikirkannya sedangkan ibu dan bapak saja belum pulang dan mungkin saja ini semua adalah perbuatan seseorang dan aku juga yakin bahwa yang datang kemarin juga pasti bukan manusia yang tadi malam mengetuk pintu rumah kami dan entahlah aku tidak mengerti apa.yang terjadi setelah bapak dan ibu pergi dan setelahnya kamipun berangkat ke sekolah dan seperti biasanya pekerja sudah pada ke kebun sama sepertiku pergi ke sekolah bersama dengan mereka.
Walaupun punya motor sekarang dan aku sudah bisa membawanya tetapi aku hanya berjalan kaki saja, karna berjalan kaki itu menyenangkan.,
__ADS_1
Sampailah aku di sekolahku yang hanya sebentar saja aku sudah sampai tetapi teman - temanku pada berlarian karna katanya mereka melihat lintah yang banyak dan sudah di siram dengan air panas oleh pak guru dan lintah itu pada banyak mati dan kemudian kamipun hendak membuang lintah - lintah itu tetapi ada kakek temanku pas kebetulan mengantarkan cucunya yang masih kelas satu, katanya di kakek jangan membuang lintah itu begitu saja dan memang sengaja dikirim untuk mencari darah kata si kakek kepada kami dan akhirnya kamipun membakar semua Lintar itu dengan minyak tanah dan benar saja lintah - lintah itu terbakar dan kata si kakek kalau kami buang saja maka mereka akan hidup lagi kalau di bakar pasti kembali kepada tuannya.