Game Setan

Game Setan
bab 92


__ADS_3

Setelah kami membakar semuanya lintah - lintah itu ada salah satu temanku yang tergigit kakinya karna memang kaki temanku itu bisulan dan sangat bernanah dan sering sekali temanku itu mengeluh kalau kakinya itu sangat dengan bisul yang sudah penuh nanah dan memang kalau bisulan rasanya sakit sekali tentu saja temanku itu hanya di kelas saja dan tidak ikut membakar lintah - lintah itu dan entah mengapa temanku ini kakinya tergigit lintah itu , dia menjerit ketakutan mungkin dia pikir lintah itu masuk ke dalam. tubuhnya sampai menjerit begitu dan lintah itu juga mati terkena nanahnya kamu kata kakek dan kamipun membuang lintahnya kedalam api, temanku merasa tenang dan ternyata semua nanah itu sudah keluar dari tubuhnya temanku.


Aku sudah sembuh teman - teman katanya kakiku tidak sakit lagi, lihatlah aku bisa berjalan tetapi aku masih takut kalau lintah itu pasti akan menyerang lagi katanya, kakek mengatakan jika kamu tidak akan di makan lagi karna lintah tidak suka memakan nanah tetapi memakan darah untuk tuannya karna nanah kamu sudah bercampur dan tentu saja tuannya yang akan marah, tetapi lintahnya sudah bunuh bukan?


Tidak apa, jangan kalian takut dan sekarang masuk dan belajarlah untuk masa depan kalian nanti, kalau ada garam pakai saja lintah takut dengan garam, sekarang masuklah kelas kalian sudah di beri garam, belajar hang baik mungkin lintah - lintah sudah masuk ke rumah - rumah warga kakek pulang dulu ya, nanti kalau sudah pulang kakek datang lagi katanya.

__ADS_1


Kamipun masuk ke dalam kelas dan belajar kembali, suasana seperti biasa saja dan tidak ada yang ribut masalah lintah sampai kami pulang dan kembali ke rumah kami masing - masing.


Ketika aku sampai di rumah kulihat adikku menanggis katanya di rumah kami juga banyak lintahnya dan adikku juga ketakutan melihat lintah - lintah itu dan sepertinya ini bukan lintah kiriman karna mereka memang berjalan kasana kemari dan tidak mencari daerah yang lembab dan ada airnya dan kenapa semua lintahnya keluar dari air rawa, naik ke atas permukaan yang bersih, syukurlah tadi pagi sudah menyebarkan garam di sekeliling jadi kemungkinan lintah - lintah itu tidak bisa masuk dan adikku juga ada di dalam rumah dan mungkin saja ketakutan karna memenang dimana - mana lintah - lintah itu menyerang, di jalan dan di setiap pemberhentian dan mereka akan datang langsung mencari mangsa dan bagaimana ini bisa terjadi kataku di dalam hati.


Apakah ibu belum pulang juga dari rumah saudara kami dan bapak juga belum pulang, sedangkan desa kami juga di serang oleh binatang - binatang ini dan mengapa terjadi, apakah ada yang menyuruhnya lagi, ada dukun yang sudah menjadi setan lagi, aku hanya menarik napas saja dan kami juga tidak mungkin tidak makan karna ketakutan binatang - binatang dan sejenis dengan juga mulai muncul yaitu pacet yang sering ada dan muncul di sawah, aku lekas memasang api di belakang biar udara panas, mungkin sebentar mereka tahan dan jika debu panas api itu banyak maka mereka tidak akan tahan berlama lagi di sekitar rumah dan akan kembali ke habitatnya dan pohon bunga surga juga menerangi mereka dan harumnya akan membuatnya menjadi tidak tahan dan untung saja ibu mempunyai banyak garam di rumah.

__ADS_1


Di desa sebelah seorang yang di tua kan disana mengatakan kepada seseorang bahwa darah itu sudah kotor dan tercampur dengan nanah tentu darah itu tidak murni lagi, jika kita buang maka bapakmu akan mulai lagi dari awal dan jika di biarkan di minum bapakmu maka bapakmu juga tidak akan sadar sepenuhnya dan ini adalah resikonya jika kita menyuruh lintah untuk menghisap darah manusia, jadi gimana pak kalau begitu kita hentikan saja kata lelaki itu, bagaimana mau di hentikan sudah dua hari kamu harus meminumkan saja ke bapakmu dan suruh saudaramu itu yang memberikannya karna dia orang yang murni hatinya dan suci hatinya, bukan kamu anaknya yang penuh dosa kata bapak dukun itu.


Bu, bapak pulang dulu ya, karna sudah satu malam kita disini , kasihan anak - anak kata bapak aku kepada ibuku, nanti sore bapak jemput ibu atau sekarang kita pulang saja dulu berdua Bu, bapak punya perasaan gak enak sama anak - anak, kata tetua yang bapak temui di balai desa tadi, kampung kita di serang binatang - binatang yang aneh, seperti lintah katanya dan tetua sudah pulang kata bapak lagi kepada ibu, bapak langsung memberikan ibuku minum dan ibuku berkata ayolah pak kita pulang saja kasihan anak - anak juga di tinggalkan, toh disini kita saja yang jaga dan kebutuhan kakak juga sudah datang, kita permisi dulu kepada yang punya rumah.


Ibuku menjumpai adiknya dan mengatakan akan pulang dulu soalnya sudah ada kakak dari kampung sebelah, kasihan anak - anak kak kalau kami disini, terus kalian pulang naik apa ke rumah kata adiknya ibu, jalan kaki saja dek, paling siang sudah sampai di rumah dan dengan muka cemberut bibiku mengatakan ibu dan bapak tidak boleh pulang nanti biar di kasih uang kalau pulang ke rumah kami, kata bapak dengan lembut berkata kami harus pulang dek, karna di desa kami di serang oleh lintah sehingga banyak warga yang tergigit, kami juga tidak enak meninggalkan anak - anak kata bapak, agar bibiku ini mengerti dan tidak ngotot untuk menyuruh ibu dan bapak tinggal disana dan lagipula sudah ada kakak dari kampung sebelah kata bapak lagi, ya sudah kata bibiku karna kalian sebentar disini kalian tidak aku kasih uang, pergilah katanya

__ADS_1


Bapak mau kasih beberapa lembar uang sebagai pembelian obat untuk kakek tua tetapi bibiku mengatakan tidak mau karna merasa dirinya kaya sambil menunjukan perhiasannya, bapak hanya diam saja dan melangkah untuk pulang bersama ibu.


Bu, keluargamu sudah keterlaluan sekali, sudah salah jalan.


__ADS_2