
mungkin karna kelelahan dan karna juga cepat bangun pagi jadi akupun tertidur dan aku bermimpi, didalam mimpiku aku berjalan seperti ke hutan larangan seperti sekarang dan ada bapak yang menemaniku dan akupun selalu mengikutinya, aku melihat bapak bercahaya seperti kabut putih menyelimutinya dan sama sepertiku, kami berdua seperti di bungkus oleh sesuatu yang sangat tebal dan bapak selalu mengatakan kepadaku hati dan jangan mengambil apapun selain buah2 untuk penyambung hidup dan apapun yang kau lihat itu cuma hayalan dan jangan pernah untuk mengambilnya kata bapak, jangan ambil apapun biarpun kita miskin dan tak punya apapun dan benar saja kami berjalan melewat pohon beringin hutan yang gelap dan penuh daun, dingin seperti es ketika kami melewatinya dan kami seperti baru saja melewati hutan es yang sangat dingin dan setelah melewati itu kami berhenti ngasi seperti sekarang ini dan aku melihat bapak ada di dekatku dan tidak tidur seperti yang lainnya dan bapak menjagaku sambil membersihkan semua tempat makan kami kemudian menguburnya hingga bersih dan kemudian menanam pisang di atas sampah kami makan, aku heran kenapa bapak lakukan itu padahal biarkan sampah itu toh tidak akan ada pencemaran di hutan ini dan aku mendengar bapak bicara semoga kamu melihatnya nak, dan lakukan seperti yang bapak lakukan, yang lain masih tidur nyenyak dan sampah sisa makanan itu berserak dan begitu juga dengan makanannya dan bapak sudah mengatakan biar hutan kita terjaga sampai bersih dan yang lainpun menggerutu dan membuang sampah itu ke dalam lubang walaupun menggerutu dan tidak mau mereka tetap saja membuang sampah itu semuanya dan aku melihat bapak tersenyum kembali, bapak tetua juga tersenyum, kemudian setelah itu kamipun berjalan dan berhenti kemudian dan mereka semuanya berlari dan entah kenapa semua berlari seperti melihat hantu dan bapak mengatakan hati2 nak kitaakan memasuki tanah yang panas dan kamu harus cepat berlari kata bapak, bagaimana ini kataku, bapak aku takut kataku pada bapak dan bapak mengatakan berdoa dulu dan jangan takut semua orang sudah selamat sampai di ujung dan lari jangan melihat kebelakang kata bapak kakimu akan tertarik.nanti dan akupun mendahui bapak dan berlari kencang dan berlari kencang tanpa melihat bapak ke belakang dan kamipun sampai di ujung tanah yan berumput dan bapak menyusulku kemudian dan napas kami berdua terenggah dan bapak berkata bagus dan nanti jangan tidur disana itu fatamorgana, dan minumlah air sedikit kata bapak dan kami tidak melihat siapapun lagi disana kemana mereka semuanya, kenapa mereka tidak kelihatan pak kataku, sudah kita jalan dan berdoa saja kata bapak dan kamipun berjalan pelan dan kami melihat mereka makan dahan ranting yang kering seperti makan ayam dan tetua itu tertidur disana dan ketika kami bangunkan dan tetua itu juga terkejut melihat mereka semuanya makan ranting dan sigap tetua itu meyiram mereka dengan air dan mereka tersadar kembali dan sewaktu tersadar mereka binggung kenapa mulutnya kebas dan kenapa banyak kayu di dekat mereka dan tentu saja kebas dalan hatiku makan kayu begitu, dan bapak mengatakan jangan begitu nak gak boleh, kita saling membantu dan saling membutuhkan kata bapak, kamipun terdiam, tetua tiba2 berteriak dan kamipun terkejut, kenapa pak kata kami semuanya ada yang menarikku dan sakit sekali kata tetua itu dan lihatlah ini membiru, Ayo kita pergi dari sini kata tetua mereka tidak mau tempatnya di duduki dan kita menggangu mereka kata tetua Daan kamipun.melanjutkan perjalanan dan kenapa kita sepertinya bukan mencari anak yang hilang tetapi mencari petualangan dan akhirnya kita kena musibah, akupun terbangun dan masih melihat bapak membersihkan pisaunya dan di masukkan ke dalam dan aku melihat yang lainnya masih tertidur dan bapak dan tetua saja yang terjaga dan aku heran yang lain tidurnya seperti di kejar2 sesuatu dan aku mengatakan di depan ada tanah merah yang bisa menarik pak kaki pak kataku, iya nak, kamu jadi hati2 ya kata bapak, kamipun beranjak pelan ketika matahari sudah mulai tinggi dan mudah2an teman kita ketemu kataku dalam hati, buat kami masuk ke dalam ini kalau teman kami tidak bertemu dan masih banyak orang yang celaka dan bapak selalu waspada dan suka mengatakan hati2 sama yang lainnya karna disini dihutan ini sungguh sangat ngeri dan semak2 itu tinggi sekali dan untuk berjalan kami harus berhari2 takut ada ular disana dan memakan kaki kami dan aku selalu di dekat bapak, dan seorang teman kami berteriak kembali karna melihat ular piton besar dan bapak mengatakan biarkan dia lewat dan jangan di ganggu dan diamlah kalian jangan mengeluarkan napas dan tahan napas kalian kata bapak dan biarkan ular itu lewat, kami semuanya menahan napas kami dan ular itupun lewat dan untuk beberapa lama kamipun terdiam.dan benar saja ular itu tidak datang lagi, kamipun melanjutkan lagi perjalanan kami dan jalan yang kami lewati itu sudah hilang dan tinggal semak saja yang menutupi dan pak Ali paling depan dan sangat awas dan begitu waspada untuk kalau ada binatang atau hewan maka pak Ali akan teriak dan mengatakan awas ada hewan buas hati2 dan jangan ceroboh dan kami semuanya diam dan tanpa kata dan untuk melanjutkan kembali dan kami sudah lelah, dan ujung di depan sana tidak terlihat dan cobaan2 ini semakin banyak kata bapak mari kita bersama mencari dan awas kata bapak buat kami semuanya dan benar saja kami sampai di tanah merah itu dan semua orang siap berlari kesana dan menggunakan kaki dan minum dulu dan akupun paling takut dan memegang tangan bapak dan siap.untuk.berlari dan tidak jadi, dan bapak menyuruh yang lain untuk.lari.dan berdoa dulu, semuanya berlari cepat dan berlari seperti ada hantu saja, ayo nak kata bapak kita sudah ditunggu mereka yang penting lari cepat saja kata bapak, bapak akan ada untukmu ya , kamipun berlari dan sampai di ujung dan benar saja semua orang tertidur lagi dan cuma tetua yang terbangun dan tetua membangunkan Abang dan semuanya, setelah sadar mereka bingung ada dimana seperti orang linglung saja dan tetuapun menjerit seperti ada menariknya ke belakang katanya dan tetua sudah nampak.lelah, pergi kau kami cuma.mebcarinanak kami yang hilang kata tetua itu dan benar saja tetua itu dim dan ayo segera kita melanjutkan perjalanan karna kalau disini kita terlalu lama maka kita juga akan di bawa mereka kata tetua itu.