
aku tinggal di sebuah desa yang jauh dari kota tepatnya pinggiran kota, di desa kami semuanya masih serba biasa saja, tidak lampu ataupun listrik, jadi keadaan desa kami gelap sekali kalau malam.
Hari ini kami mau bermain disawah bersama2 teman2ku biasanya kalau sudah panen padi semua sawah2 itu belum ditanami padi kami bisa mencari jamur padi ataupun keong sawah untuk dimasak dan rasanya enak sekali, aku bertanya ke ibuku boleh tidak aku ambil jamur bersama teman2ku ke sawah tapi ibu bilang tidak usah karna mau hujan, tidak apa ibu kami bersama Josep kataku karna Josep setiap sore membawa sapi pulang, dan Josep biasanya yang tau dimana jamur padi yang banyak dan keong2 sawah yang besar2, ya sudah kalau dengan Josep kata ibu, ingat kalau hujan segeralah pulang nanti sakit katanya, akupun berlari kerumah Josep dan 3 teman2ku, kami berangkat menuju ke sawah yang akan kami cari jamurnya, dari satu tempat kami pindah ke tempat lain tak terasa langit mendung, gimana ini kita pulang kataku ke teman2ku, tidak usah kata Josep biasanya jamur itu kalau kena air hujan besar2 dan kalau dimasak semakin enak dimasak, kita tunggu aja dulu, kamipun berhenti di sebuah gubuk sambil membakar ubi, setelah selesai hujan kami kembali ambil jamur dan keong2 itu, dan emang benar keong2 itu besar dan jamur padi itu besar, kami lupa karna keasyikan berlari kesana dan kesini sehingga matahari sudah tidak kelihatan lagi, joseppun memanggil ayo pulang sudah malam sambil membawa sapi2nya, iya sep kataku tanggung, tapi sudah malam nanti kita dicarian ibu, dan di langit masih mendung kalau tidak cepat kita basah katanya, kamipun masih berlari kesana dan kesini hingga plastik penuh kamipun pulang, benar saja hujan kembali datang, dingin sekali perjalanan pulang terasa semikin jauh dan petir seakan sahut bersahutan, sapi2 itupun berjalan mengikuti kami sampai di perkuburan desa petir kembali datang, dan sapi2 berlari ke kuburan itu tanpa arah yang jelas, Josep lari mengejar sapinya dan teman2ku ikut juga lari dan akupun berlari2 di kuburan desa kami yang katanya angker, takut dan juga dingin tapi lebih takut sendirian, kulihat sapi menginjak tanah kuburan itu dan tulang belulang keluar aku menjerit dan tak teras jamur2 itupun terjatuh, Josep datang memukulku ayo gak apa jangan takut katanya, aku berjalan pelan pelan ku ikuti Josep di belakang, dan sampailah kami di persimpangan desa aku mulai gemeter dan pelan Josep mengejar sapi2 itu, ku tinggal kamu ya sudah dekat itu rumah2 desa kita, perlahan2 aku jalan pulang ke rumah sambil membawa jamur2 dan keong yang diberikan Josep karna terjatuh tadi, sampai dirumah ibu bilang sudah sampai ayo mandi dulu dan itu teh panasnya , iya Bu kataku bapak dimana masih diladang mungkin karna hujan kata ibu, mana jamurnya biar ibu masak biar bapak pulang sudah dimasak kata ibu, di dapur Bu, ya sudahlah mandi dan makan dulu nak, itu bapak juga baru sampai, akupun mandi, setelah rapi aku ke dapur bapak dan ibu sudah di dapur, pak tadi waktu kami pulang sapi2nya Josep masuk ke kuburan aku lihat tulang belulang disana pak, ada tengkorak kepala juga pak, ah tidak apa kita juga akan seperti nanti tidak usah takut nak, nanti juga tertutup karna hujan makanlah jangan dipikirkan semua manusia pasti meninggal dan kita juga begitu, bapak memberiku teh putih karna kedesak, minumlah pelan2 saja kata bapak, besok2 jangan takut lagi ya, takutlah kepada Tuhan, kalau bisa tidak usah pulang hujan2 begitu petir itu berbahaya bukan kuburan, orang suka menakut nakuti anak2 biar takut padahal sebenarnya tidak apa2 disana, bapak sering lewat tengah malam masukkan air sawah kita tidak ada apa-apa kok, iya aku tidak takut nanti kalau bapak ke sawah aku akan menemani bapak kataku, bapak cuma tersenyum, aku tau kita. tidak boleh takut, dan akupun sudah tidak takut lagi, dan pasti Josep juga begitu, dia berani tanpa takut sedikitpun, akupun tertidur di selimutku, semakin dingin semakin enak untuk malam.